Hari ini adalah hari Rabu, hari ini juga hari pertama pernikahan Candra dan juga Wulan dilangsungkan. Akad nikah juga dilangsungkan hari ini. Pak Cokro tampak terharu melihat putrinya yang kini tengah menjadi pengantin. Melihat Candra yang baru saja mengucapkan ijab qobul dengan sangat lancar membuat pak Cokro semakin yakin bahwa Candra sangat mencintai putrinya itu. Bukan hanya pak Cokro saja yang terharu akan pernikahan itu, Bu Sekar dan juga kedua orang tua Candra juga merasakan hal yang sama. Mereka juga tampak bangga dengan Candra yang lancar mengucap ijab qobul. Bu Indah merasa bahwa dirinya bertambah tua dengan melihat putranya yang kini sudah dewasa dan sudah menikah.
Setelah ijab qobul, beberapa tamu sudah berdatangan dan kesemua tamu pak Cokro itu datang ke pernikahan Wulan dengan mobil-mobil mewah yang mereka bawa. Tetangga sekitar hanya melihat dari luar gerbang saja karena mereka tidak diundang. Di pernikahan Wulan dan juga Candra dijaga oleh kedua penjaga untuk memeriksa undangan yang mereka bawa. Wulan dan Candra duduk di pelaminan beserta kedua orang tua mereka yang ada disampingnya. Tamu-tamu pak Cokro sangat banyak sehingga mereka merasa lelah berdiri disana. Bukan hanya Wulan dan Candra, kedua orang tua mereka juga tampak lelah berdiri. Para tamu eksklusif yang berdatangan itu juga saling berpasangan.
“Besok kita juga masih harus dipelaminan ini lagi untuk menerima tamu dari tamu-tamu ayahku.” Bisik Wulan kepada Candra yang kini sudah resmi menjadi suaminya. “luar biasa, tamu-tamu ayahmu sangat banyak dan tidak ada habisnya.” Ucap Candra yang tampak lelah terlihat dari wajahnya. “ini baru hari pertama, sepertinya besok juga akan lebih banyak daripada ini.” Ucap Wulan sambil tersenyum. Para tamu yang sudah berdatangan menikmati hidangan Yang sudah tersedia. Hidangan yang tersedia di pernikahan Wulan dan Candra sangat beragam mulai dari rendang, bakso, soto, sate, cumi, udang, kepiting dan masih banyak makanan lain yang biasa dimakan oleh para orang-orang kaya pada umumnya.
Hari pertama acara pernikahan Wulan berjalan dengan sangat lancar seperti yang diharapkan kedua mempelai. Hari itu juga tidak hujan dan tidak ada masalah lainnya. Acara berjalan sampai malam hari dan pak Cokro masih menunggu Lulun samak datang pada pernikahan putrinya itu. Pak Cokro celingukan kesana kemari menunggu kedatangan sesembahannya itu. Wulan yang melihat ayahnya sedang celingukan itu pun agak sedikit bingung, “ayah..., Apa yang sedang ayah cari?” tanya Wulan. Pak Cokro lalu sadar dan menggeleng, “tidak..., Ayah tidak mencari apa-apa.” Ucap pak Cokro menundukkan kepalanya. Pak Cokro yang sedang menunggu sesembahannya itu pun tampak sedikit gusar.
Pukul tujuh malam, saat tamu sudah agak sepi, datanglah Lulun samak dengan gaun berwarna merah. Lulun samak itu terlihat sangat cantik sampai semua orang terpesona akan kedatangannya. Bukan hanya para tamu laki-laki, tamu perempuan juga terpesona akan kecantikannya. Lulun samak itu masuk kedalam acara pernikahan itu dan pak Cokro yang kala itu duduk di pelaminan pun langsung menyambutnya. Pak Cokro tahu bahwa wanita itu adalah sesembahannya. Wanita itu mengulurkan tangannya memberi salam kepada pak Cokro. Senyumnya yang manis membuat semua orang yang ada disana menghentikan aktivitas mereka. “siapa dia?” tanya Candra. “Aku tidak tahu, ibu..., Siapa wanita itu? Kenapa ayah memperlakukannya seperti itu?” tanya Wulan berbisik kepada Bu Sekar. Beberapa pikiran negatif timbul di benak Bu Sekar seperti pikiran pak Cokro yang telah serong terhadapnya. Tapi wanita itu masih sangat muda dan berpendidikan. Pak Cokro lalu melambaikan tangannya kepada istrinya agar Bu Sekar ikut turun dari panggung dan menyambut Lulun samak itu. Bu Sekar pun turun dari panggung dan menghampiri Lulun samak dan juga pak Cokro yang sudah lebih dulu berada dibawah panggung. “Nyonya datang sendirian?” tanya pak Cokro basa-basi. Lulun samak itu hanya mengangguk dan juga tersenyum. Lulun samak itu lalu mengulurkan tangannya kepada Bu Sekar. Bu Sekar masih terlihat bingung dengan kehadiran wanita berparas sangat cantik itu. Kecantikan Lulun samak bahkan menjadi bahan perhatian para tamu yang sedang berada di acara pernikahan itu. Bu Sekar juga melemparkan senyumnya walau masih terlihat bingung di wajahnya. “Ayo nyonya..., Silahkan nikmati hidangan yang sudah kami siapkan.” Ucap pak Cokro ramah. “Bapak, dia ini siapa?” tanya Bu Sekar berbisik. Lulun samak yang mendengar bisikan Bu Sekar itu pun langsung menjawab, “saya Kartika Bu..., Saya ini teman bisnis pak Cokro, kami memang baru pertama kali bertemu karena saya tidak tinggal di Indonesia.” Ucap Lulun samak itu memperkenalkan diri. “wanita dengan paras cantik dan semuda ini sudah menjadi pengusaha?” tanya Bu Sekar dalam hatinya. Lulun samak itu seperti bisa membaca pikiran Bu Sekar yang tampak heran dengannya. “Iya Bu..., Saya memang seorang pengusaha muda. Di luar negeri wanita muda sudah banyak yang menjadi seorang pengusaha termasuk saya. Mungkin karena ini di Indonesia jadi agak aneh ya jika seorang wanita muda sudah menjadi pengusaha.” Ucap Lulun samak itu sembari melemparkan senyumnya. Pertanyaan Bu Sekar seakan terjawab sudah dan mengurangi rasa penasarannya. “Baiklah nyonya Kartika, silahkan nikmati hidangannya.” Ucap Bu Sekar juga tersenyum ramah kepada Lulun samak itu. “bu..., Ibu kembalilah ke pelaminan untuk menerima tamu lainnya disana, biarkan bapak menemani nyonya Kartika terlebih dahulu.” Ucap pak Cokro. Bu Sekar tak menjawab dan hanya menatap tajam mata suaminya. Lulun samak itu juga melihat Bu Sekar seperti memberi kode kepada pak Cokro agar ikut bersamanya di pelaminan namun pak Cokro tak bisa membaca kode itu dan malah berbincang dengan Lulun samak itu.
Bu Sekar lalu kembali ke pelaminan. “siapa wanita itu Bu?” tanya Wulan. “ibu juga baru hari ini melihatnya dan juga baru hari mengenalnya. Dia bernama Kartika, ayahmu memanggilnya dengan sebutan nyonya, mungkin dia lebih kaya daripada ayahmu.” Ucap Bu Sekar kepada putrinya yang sedang berada disampingnya. Wulan tampak melihat dari atas panggung kepada wanita itu. Barangkali Wulan pernah bertemu dengannya. “Bu..., Tunggulah sebentar, aku akan menemuinya bersama dengan Candra.” Ucap Wulan kepada ibunya. Wulan ingin melihat wanita itu dari jarak dekat karena wanita itu tak menyalami Wulan seperti tamu lainnya. Wulan dan Candra menghampiri Lulun samak yang sedang berbincang dengan ayahnya. “ayah...,” sapa Wulan menghampiri mereka. “Eh nak..., Perkenalkan, ini nyonya Kartika, teman ayah. Kau pasti baru saja melihatnya hari ini bukan.” Ucap pak Cokro kepada putrinya. “hai...., Selamat ya...,” ucap Lulun samak itu ramah sambil mengulurkan tangannya mengajak Wulan bersalaman. Wulan lalu tersenyum kepadanya meski Wulan tak mengenalnya. Wanita itu memang sangat menawan bahwa Wulan yang sudah cantik pun tetap terpesona akan kecantikan wanita muda itu. Candra hanya menundukkan pandangannya saat bertemu dengan Lulun samak itu. Gaun merah yang dipakainya membuat dirinya lebih bersinar diantara tamu lainnya. Candra tidak mau menyentuh tangan Lulun samak itu dan hanya mengucap salam saja. Candra tak ingin hal itu membuat dirinya berdosa. “kau pasti bingung kepadaku bukan? Sama seperti ibumu.” Ucap Lulun samak itu. Wulan hanya menjawab dengan senyumnya. “Aku Kartika, teman bisnis ayahmu, aku memang tidak tinggal disini karena semua usahaku berada diluar negeri.” Ucap Lulun samak itu yang berubah nama menjadi Kartika. “Baiklah nyonya Kartika, terima kasih sudah datang diacara pernikahanku, meski kita belum pernah bertemu, tapi kau sudah Sudi datang di acara ini. Semoga kedepan kita bisa bertemu lagi.” Ucap Wulan sembari tersenyum dan juga berpamitan untuk kembali ke pelaminan menemui tamu-tamu lainnya.
Wulan memang sangat cantik di acara bahagianya, namun Wulan tetap kalah mempesona dengan wanita itu. Kecantikan samaran lulun samak itu memang tiada banding. Semua orang terpesona akan kecantikannya, namun banyak yang bertanya-tanya tentangnya, wanita secantik itu hanya datang sendiri tanpa seorang pendamping. Padahal semua tamu datang berpasangan, tapi tidak dengan Lulun samak itu, dia datang hanya sendiri saja. Banyak orang yang ingin duduk satu meja dengan wanita itu, tapi satu meja sudah dikhususkan hanya pak Cokro dan Lulun samak itu yang boleh berada di meja khusus itu. Pak Cokro tampak dekat dengan wanita itu sampai ada yang menduga bahwa mereka mempunyai hubungan spesial. “tinggalkanlah aku sendiri Cokro, semua orang disini mengira bahwa aku adalah simpananmu.” Bisik Lulun samak itu. Sesuai dengan perintahnya, pak Cokro lalu kembali menemui istrinya. “pak..., Bapak tidak main-main kan?” tanya Bu Sekar dengan mata tajamnya walau dengan tangan yang menyatu didepan dadanya. Pak Cokro lalu duduk dan menghela nafasnya. Bu Sekar juga ikut duduk diikuti oleh Candra dan juga Wulan. Candra dan Wulan sedikit mendengar percakapan kedua orang tuanya. Bu Sekar masih penasaran dengan wanita muda itu. “bu..., Bapak ini tidak pernah main-main, kalau bapak sedang diluar negeri juga bapak kan selalu ajak ibu.” Ucap pak Cokro. Bu Sekar tahu suaminya itu tak akan berbuat serong seperti yang baru saja dituduhkan kepada pak Cokro.