Untung saja tuduhan Wulan hamil diluar nikah tak sampai pada telinga pak Cokro. Kalau saja tuduhan itu sampai ditelinga pak Cokro, entah apa yang akan dilakukan pak Cokro terhadap para warga itu. Para tetangga tidak ada yang berani berbicara kepada pak Cokro tentang putrinya yang menikah dengan Candra, namun para tetangga menyerang keluarga Candra dengan hujatan-hujatan dan juga tuduhan-tuduhan yang tidak benar terhadap keluarga Candra. Uang pak Cokro lah yang telah melindunginya dari omongan warga yang tidak enak didengar. Dari segi finansial telah membuat keluarga Candra dan keluarga Wulan dipandang lain dengan para tetangganya. Para tetangga sangat ramah terhadap keluarga pak Cokro karena pak Cokro sering membantu mereka dan juga memberi mereka pekerjaan. Namun tidak dengan keluarga Candra, terkadang ucapan nyinyir pun keluar dari mulut para tetangga dan dilayangkan pada keluarga Candra.
“Ayah...., Warga disini sungguh sangat baik, mereka memberi Wulan selamat ketika bertemu dengan Wulan dan mendoakan Wulan agar keluarga kecil Wulan bahagia selalu.” Ucap Wulan kepada ayahnya. “Iya nak..., Banyak yang bilang bahwa hubungan kalian sangat serasi.” Ucap pak Cokro sembari tersenyum. Yang diucapkan Wulan memang benar adanya. Warga sangat menyayangi Wulan, tapi tidak dengan Candra. Menurut yang mereka inginkan adalah Candra seharusnya tidak menikah dengan Wulan, harusnya Candra menikah dengan wanita yang sepadan dengannya atau sama-sama miskinnya. Para tetangga bisa bersikap mendukung saat bertemu dengan Wulan, namun bersikap cela ketika bertemu dengan Candra. Orang yang sama, namun bisa berbeda sikap saat bertemu dengan Wulan dan juga Candra. Sebenarnya yang membuat mereka iri adalah karena Candra bisa menjadi pria paling beruntung dikampungnya karena bisa menyunting Wulan sebagai anak tunggal konglomerat. Semua orang juga ingin menjadi Candra, tapi orang tidak tahu bahwa perjuangan Candra juga melelahkan. Mereka tahunya hanya Candra bisa menikahi Wulan dan Wulan mau dinikahi oleh Candra. Para tetangga tidak tahu perjuangan Candra. Setiap malam Candra berdua kepada Tuhan disetiap sujudnya dan terus memanggil nama Wulan sampai fajar tiba. Setiap malam Candra lakukan hal itu untuk bisa mengambil hati pak Cokro yang keras itu. Namun warga tidak tahu itu, malah mereka memfitnah Candra karena Candra telah memakai ilmu guna-guna untuk menaklukkan hati Wulan.
Pernikahan Wulan dan Candra tinggal beberapa hari lagi, Candra dan Wulan semakin berdebar di detik-detik menjelang pernikahan mereka. Candra sudah latihan mengucap ijab qobul dengan lancar sedangkan Wulan selalu berdoa agar pernikahannya nanti berjalan dengan sangat lancar. Sejak seminggu Candra sudah tidak berjualan karena ibunya melarangnya. Kata Bu Indah, calon pengantin tidak diperbolehkan melakukan aktivitas diluar rumah ketika akan melaksanakan pernikahan, hal itu akan menjadi pamali. Bu Indah masih memegang teguh tradisi itu. Candra juga menuruti kata-kata ibunya, toh kalaupun dia tidak bekerja selama satu bulan pun tidak akan menjadi masalah. Candra tidak berjualan selama dua Minggu lamanya nanti, sesuai rencananya, tapi entahlah akan diperpanjang atau tidak karena Wulan ingin mengajaknya berbulan madu diluar pulau setelah pernikahan mereka dilangsungkan.
Untuk menikahi Wulan, pak Raharjo sampai menjual tanahnya agar bisa memberikan menantunya itu sesuatu. Wulan memang tak minta mas kawin aneh-aneh, tapi pak Raharjo sendiri yang ingin memberikan sesuatu untuk Wulan. Pak Raharjo ingin menunjukkan bahwa ia juga sangat menyayangi Wulan dengan memberikan sesuatu untuk calon menantunya itu. “Candra..., Walau Wulan adalah orang kaya raya dan bisa membeli segalanya, kau tetap harus memberikan mas kawin kepadanya. Wulan terlahir sebagai anak orang kaya, bukan berarti kau tidak memberinya apapun. Wulan dibesarkan oleh kedua orang tuanya, Wulan tumbuh menjadi orang yang santun juga berkat kedua orang tuanya yang sudah berhasil mendidiknya. Kau harus menghargai orang tuanya dengan memberikan uang ini kepada Wulan sebagai mas kawinnya.” Ucap pak Raharjo sambil memberikan seluruh uang hasil jual tanahnya. Tak hanya pak Raharjo, Bu Indah pun juga memberikan seluruh emas tabungannya untuk diberikan kepada Wulan. Mungkin bagi Wulan itu tidak seberapa, namun pemberian itu adalah wujud keluarga Candra menghargai pak Cokro dan istrinya yang sudah membesarkan Wulan dengan sangat baik. “harusnya ibu dan bapak tidak melakukan hal ini.” Ucap Candra. Hasil penjualan tanah milik pak Raharjo itu adalah warisan dari orang tuanya semasa dulu. Awalnya pak Raharjo merasa sayang jika harus menjual tanah itu, namun karena untuk Wulan, pak Raharjo akhirnya menjual tanah warisan itu. “Tidak apa-apa nak..., Harta bisa dicari lagi, tapi untuk mendapatkan menantu sebaik Wulan kesempatannya hanya satu kali saja seumur hidup bapak.” Ucap pak Raharjo. Pak Raharjo sangat membanggakan Wulan karena kepribadiannya yang sangat santun. Walau pak Raharjo adalah buruh dipeternakan sapi milik pak Cokro, Wulan tetap menghargai pak Raharjo setiap bertemu dengannya. Bukan karena Wulan terpesona dengan putranya, namun memang sudah dari dulu Wulan bersikap demikian terhadap semua karyawannya.
Pak Raharjo seperti mimpi sebentar lagi akan menjadi mertua Wulan. Tak pernah terbesit di pikirannya mengenai hal itu. Bermimpi saja tidak pernah apalagi berharap. Pak Raharjo merasa bahwa dirinya merasa beruntung karena sebentar lagi akan menjadi mertua orang yang sopan, berwawasan dan sangat santun. Cara bicara Wulan yang lembut juga membuatnya sangat diperhatikan. Seketika pak Raharjo mengingat saat dirinya dibawa oleh Wulan kerumah sakit karena penyakit paru-paru yang menggerogoti kesehatannya. Dengan sabar Wulan meyakinkan pak Raharjo agar mau dirawat dirumah sakit. Sepertinya bukan hanya pak Raharjo saja yang diberi perhatian lebih oleh Wulan, para karyawannya pun juga demikian. Pernah suatu ketika ada salah seorang karyawan yang sudah satu Minggu tidak berangkat, Wulan pun langsung pergi kerumah karyawan itu untuk memeriksa keadaannya. Bukan karena Wulan tidak percaya dengan izin yang diucapkan karyawan itu, namun Wulan merasa khawatir. Jika orang sudah tidak bekerja seminggu, itu artinya penyakit yang menggerogotinya adalah penyakit serius, tentunya Wulan tidak tinggal diam. Benar saja saat itu kondisi karyawannya sangat memprihatinkan. Saat itu juga Wulan membawanya kerumah sakit tanpa memikirkan biaya yang harus ia keluarkan demi mengobati karyawan itu. Hal itu juga yang membuat Wulan dipuji-puji oleh warga sekitar. Wulan bagaikan Dewi yang turun dari langit dan diutus untuk membantu para warga kampung yang sedang kesusahan. Bukan hanya itu, Wulan juga sering memanggil petugas kesehatan kerumahnya untuk memeriksa kesehatan para warganya. Wulan tidak ingin para warganya sakit-sakitan dan tidak punya uang. Wulan ingin para warganya sehat dan bisa bekerja dengan baik. Wulan sangat prihatin dengan keadaan warga dikampungnya, untuk akses ke rumah sakit saja membutuhkan waktu selama satu jam, maka dari itu Wulan tidak ingin warganya menderita sakit yang serius.