Mimpi buruk tentang pak Cokro

1069 Kata
“ada apa nak?” Tanya pak Cokro. “Ayah..., Ayah baik-baik saja bukan?” Tanya Wulan tampak khawatir. “Lihatlah nak..., Ayah baik-baik saja, memangnya ada yang kurang dari ayah?” Tanya pak Cokro kembali. “Ayah..., Wulan baru saja bermimpi buruk tentang ayah. Dalam mimpi itu ayah tenggelam tergulung ombak dan tidak pernah kembali lagi dalam kehidupan Wulan dan juga ibu. Saat Wulan kekamar ayah, ayah tidak ada disana. Apa itu tidak membuat Wulan khawatir!” Ucap Wulan tampak kesal. Pak Cokro lalu tersenyum sambil memeluk putrinya. “ada sesuatu yang tidak bisa ayah kendalikan, yaitu mimpimu. Jika kau bermimpi buruk, ayah tidak bisa melindungimu. Nak..., Itu hanya mimpi, bunga tidurmu dan kebetulan bunga bangkai yang menghinggapi tidurmu. Hahaha....,” ucap pak Cokro sambil tersenyum. “ih..., Ayah!” ucap Wulan sambil mencubit perut ayahnya. Sekali lagi kehangatan muncul di keluarga pak Cokro. Sebagai seorang istri, Bu Sekar hanya terdiam dan tersenyum melihat orang-orang yang disayanginya sangat menyanyangi satu sama lain. “Sudah sudah..., Besok kan bapak harus berangkat ke peternakan, kamu juga Wulan, besok kan kamu harus mengurus perkebunan teh, ayo kita kembali tidur lagi.” Ajak Bu Sekar. Wulan dan pak Cokro pun kembali kekamar masing-masing. Agaknya Wulan agak sedikit tenang melihat ayahnya baik-baik saja. Mimpinya yang hanya bunga tidur itu telah terbukti bahwa itu hanyalah mimpi. Berbeda dengan pak Cokro yang malah risau dengan mimpi Wulan. “apakah ajalku sebentar lagi?” tanya pak cokro dalam hatinya. Pak Cokro pun pasrah akan hal itu. Tapi ketakutan akan kematian selalu menghampiri pak Cokro. Untuk saat ini pak Cokro belum siap jika jiwa diambil Lulun samak untuk dijadikan b***k. “Kalau bisa aku ingin hidup sampai seratus tahun, paling tidak aku akan mempunyai cucu dan cicit terlebih dahulu.” Ucap pak Cokro penuh harap. Pak Cokro merasa bahwa tubuhnya masih sehat dan bugar, tidak mungkin jika dirinya mati dalam waktu dekat ini. Pak Cokro lalu memejamkan matanya dan melupakan mimpi Wulan. Malam itu keluarga pak Cokro kembali tentram dan juga damai. Pak Cokro selamat dari mautnya sedangkan Wulan juga tampak tenang karena mimpinya hanyalah sebuah bunga tidur baginya. Keesokan paginya, Wulan memulai pekerjaan barunya mengurus perkebunan teh milik ayahnya. “Putih..., Kau akan bekerja keras setiap hari.” Ucap Wulan sambil mengusap kuda putih kesayangannya. Wulan akan lebih sering menggunakan kuda putih kesayangannya untuk berkeliling perkebunan teh miliknya. “Wulan..., Sudah siap sayang?” tanya pak Cokro. “Sudah ayah..., Ayah lihat saja nanti, saat Wulan yang mengelola perkebunan teh, nantinya akan berkembang pesat.” Ucap Wulan percaya diri. “Ya ya..., Ayah selalu percaya dengan kemampuan putri ayah ini. Good luck sayangku.” Ucap pak Cokro sambil mencium kepala sang putri. Mereka pun berjalan kekandang kuda untuk membawa kuda-kuda itu bekerja. Dengan gagah berani Wulan mulai memacu kudanya menuju perkebunan teh yang akan dikelolanya. Ditengah perjalanan Wulan bertemu dengan kekasihnya yang baru akan berkeliling menjual ayam goreng dagangannya. “pagi Candra...,” sapa Wulan yang tetap duduk diatas kuda. “Pagi Wulan..., Semangat buat hari ini ya, ini hari pertamau menjalani rutinitas.” Ucap Candra. Wulan lalu mengangguk, mereka berpisah ditempat itu karena berbeda tujuan. Wulan terus memacu kudanya sampai ke perkebunan teh. Setelah sampai disana, Wulan melihat para staf yang belum datang. Hal itu memicu emosi Wulan. “Jadi hal ini yang membuat produksi teh mengalami penurunan, stafnya juga tidak disiplin.” Ucap Wulan dalam hatinya. Saat Wulan datang, tak satu pun staf yang datang tepat waktu. Wulan pun lalu duduk diruang kantornya dan mulai melihat data keuangan perkebunan teh itu. “Hmmm..., Kenapa biaya pengeluaran lebih banyak dari pada pemasukan akhir-akhir bulan ini?” tanya Wulan kepada diirnya sendiri sambil melihat data keuangan itu. Wulan pun lalu keluar kantor dan memanggil salah satu buruh pemetik teh dan bertanya kepadanya, “ambu..., Berapa gaji Ambu setiap bulannya?” tanya Wulan kepada seorang ibu-ibu pemetik teh, usianya kira-kira sudah mencapai setengah abad. “Hmmmmm...., Delapan ratus ribu, non.” Ucap ibu itu agak sedikit ragu menjawabnya. “Hmm...., Baiklah..., Kembalilah bekerja.” Ucap Wulan lalu kembali kekantornya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, tapi para staf juga belum berdatangan. Wulan lalu menelepon ayahnya, menyuruh ayahnya untuk segera datang ke perkebunan teh miliknya. Tak lama kemudian, datanglah pak Cokro di perkebunan teh miliknya, “ada apa ini Wulan? Kenapa para staf belum pada datang?” tanya pak Cokro yang tampak kaget dengan staf yang bekerja di perkebunan teh itu. “iya ayah.. , tujuan Wulan menelepon ayah ya karena hal ini. Mereka memotong jam bekerja mereka, dan lihat ini ayah..., Ada korupsi disini!” ucap Wulan sambil memperlihatkan data keuangan perkebunan teh itu. Pak Cokro lalu mengamati data keuangan itu. Setelah berdiam sejenak, pak Cokro tampak bingung. “Bagaimana kau bisa tahu kalau ada korupsi disini?” tanya pak Cokro. “ayah lihat, disini tercatat gaji karyawan adalah dua juta perbulan, tapi saat Wulan bertanya pada seorang Ambu, Ambu itu menjawab gajinya hanya delapan ratus ribu saja. Berapa banyak uang yang diambil oleh orang tidak bertanggung jawab itu ayah?” ucap Wulan. “baiklah nak..., Kita tanya saja mereka satu persatu nanti. Tapi kita tunggu saja mereka, jam berapa mereka biasanya akan berangkat.” Ucap pak Cokro. Wulan dan pak Cokro pun lalu menunggu mereka dikantornya. Sekitar pukul sebelas siang, para staf itu baru berdatangan, Wulan lalu melihat jam ditangannya sambil melirik karyawan pertama datang. Dia adalah staf administrasi. Wulan dan pak Cokro tampak menahan emosi. “Oh iya ayah..., Sebenarnya ayah memberlakukan jam berapa mereka harus berangkat kekantor?” tanya Wulan sedikit menyindir karyawan administrasi itu. “Harusnya jam delapan sudah sampai nak...,” ucap pak Cokro yang juga mengintimidasi karyawan itu. “ya ayah..., Ini sudah pukul sebelas siang...,” ucap Wulan. Karena sudah merasa malu disindir terus menerus oleh Wulan, karyawan administrasi itu pun berjalan menghampiri Wulan, “maag non..., Saya terlambat.” Ucapnya dengan tubuh yang tampak gemetar. “rumahmu dimana?” tanya Wulan ketus. “tidak jauh dari sini, non Wulan.” Jawab staf itu. “apa yang membuatmu terlambat? Sudah berapa kali kamu terlambat? Kenapa kau terlambat begitu jauh? Ini sudah jam sebelas siang, sebentar lagi jam istirahat!” ucap Wulan agak dengan nada tinggi. Pak Cokro lalu menenangkan putrinya yang tampak marah itu. “Sudah nak..., Kita tunggu yang lain.” Bisik pak Cokro. Sekitar pukul setengah dua belas, para karyawan staf pun berdatangan, mereka tampak kaget ada kuda pak Cokro dan Wulan yang berdiri terikat didepan kantor mereka.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN