Pembangunan kamar mandi untuk warga desa

1086 Kata
Hari ini adalah hari dimana Wulan harus mempersiapkan uang untuk membangun kamar mandi umum dan juga membuat sumur bor agar bisa segera digunakan oleh para warganya. Para warga juga antusias membantu dan bergotong royong saling membantu pembuatan kamar mandi untuk umum itu. Rencananya Wulan akan membangun sepuluh kamar mandi untuk warga desanya yang semoga saja dengan sepuluh kamar mandi itu bisa membuat warganya tidak kesulitan lagi mencari air dan juga meminimalisir orang yang akan tenggelam kedanau itu. Wulan pun berbincang kepada orang yang ahli dalam pengeboran sumur yang telah banyak berjasa di kota-kota besar di Indonesia. Setelah sama-sama sepakat, besok akan dimulai untuk pengerjaan sumur bor itu. Para warga yang antusias bahkan malah memberikan Wulan beberapa hasil panen mereka seperti singkong, ketela dan lain sebagainya. Walau Wulan adalah anak orang terkaya di desa itu, Wulan tetap mau saja menerima pemberian warga sebagai bentuk terima kasih karena Wulan telah berjasa membangun kamar mandi untuk mereka. Wulan pun pulang kerumahnya diantar oleh Candra yang membantunya membawa beberapa karung singkong dan juga ketela pemberian dari warga. Bu Sekar yang melihat putrinya membawa beberapa pemberian dari warga itu pun lantas tertawa. “Ibu..., Ini bantuin Wulan, berat ini Bu...,” ucap Wulan dengan nafas yang terengah-engah. “hahaha..., Habis panen dari mana nak.” Bu Sekar menggoda putrinya sambil membawa karung berisi hasil panen pemberian warga itu untuk diolah dan diberikan lagi kepada warga. Mereka membawa kedapur. “bu..., Enaknya ini dibuat apa ya?” tanya Wulan. “coba tanya mbak Aminah nak, siapa tahu beliau punya ide mau dibuat apa ketela dan singkong ini.” Ucap Bu Sekar. Candra pun membantu Wulan membawa hasil panen itu. “kalau begitu saya permisi dulu Bu...,” ucap Candra sambil sedikit membungkukkan badannya. “Candra..., Kita bicara sebentar ya. Diluar saja di dekat taman.” Ucap Wulan sambil melirik ibunya. Ibunya pun lalu tersenyum dan mengangguk, tanda bahwa Bu Sekar mengijinkan putrinya berbincang dengan putra pak Raharjo itu. Mereka pun lantas pergi ke taman yang tidak jauh dari teras rumah Wulan. “Kita duduk disana yuk, didekat kolam ikan itu.” Ucap Wulan. Candra pun mengikuti langkah Wulan. Sesampainya disana, Wulan pun duduk di kursi ditepi kolam ikan miliknya. “Ada apa?” tanya Candra. “Aku hanya ingin sedikit berbincang denganmu saja. Sekarang kita jarang bertemu bukan.” Ucap Wulan. “kalau hanya untuk sekedar berbincang, aku tidak punya banyak waktu untukmu, aku harus kembali ke peternakan secepatnya. Kalau tidak begitu, aku tidak enak dengan ayahmu yang mengijinkan bapakku untuk istirahat dirumah dengan upah yang utuh.” Ucap Candra. “apa? Ayahku menggaji bapakmu walau bapakmu sekarang terbaring dirumah sakit?” tanya Wulan. Candra pun menggeleng. Kini Candra sudah berani memandangi wajah Wulan walau hanya sebentar saja. “Aku ingin bertanya, sebenarnya kenapa kau memilih berpindah lokasi mengantar s**u?” tanya Wulan. Candra pun tersenyum. “aku hanya ingin mendapat suasana baru saja. Sudah beberapa tahun lamanya aku selalu mengantar suus di kampung ini. Omongan warga juga tidak enak ketika aku bekerja sebagai pengantar s**u, jadi lebih baik aku mengantar s**u yang jauh dari kampung ini. Orang diluar kampung ini sudah pasti tidak akan tahu bahwa aku adalah seorang sarjana.” Ucap Candra. “benarkah hanya itu alasanmu?” tanya Wulan. “Iya..,” jawab Candra singkat. Wulan pun tampak menghela nafasnya. Wulan pikir Candra ingin menjauhinya. “oh iya..., Kalau aku boleh bertanya, apakah kamu pernah mempunyai seorang kekasih, atau bahkan sekarang kamu memiliki seorang kekasih?” tanya Wulan lalu menundukkan kepalanya. Wulan tahu pertanyaan itu menyangkut masalah pribadi dalam hidup Candra dan tidak sepantasnya Wulan bertanya seperti itu. “sebelumnya aku pernah punya kekasih, tapi kami memutuskan untuk berpisah dikarenakan aku tidak bisa memberi apapun yang ia inginkan. Sekarang ia sudah menikah dengan pengusaha kaya raya di kota.” Ucap Candra mulai menceritakan kisah cintanya kepada Wulan. “Hanya demi harta wanita itu meninggalkanmu?” tanya Wulan. “Entahlah, aku juga tidak bisa membaca pikirannya. Yang terpenting sekarang aku sudah merelakan dan mendoakannya supaya dirinya selalu bahagia dengan laki-laki pilihannya.” Ucap Candra. “lalu..., Sekarang apakah kau masih mengharapkannya?” tanya Wulan. Candra lalu menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Sangat terlihat diwajah candra yang sudah mengikhlaskan kepergian mantan kekasihnya itu bersama pria lain yang lebih bisa mewujudkan keinginannya. “Lalu sekarang apakah kau mencintai seseorang?” tanya Wulan lagi. Candra pun mengangguk dan menatap tajam mata Wulan seakan berbicara bahwa wanita itu adalah Wulan sendiri. “Iya..., Tapi aku agak takut dengan wanita ini. Selain galak, wanita ini juga orang terpandang dan anak orang paling kaya. Aku tidak lagi berani mengungkapkan perasaanku kepadanya, aku takut akan penolakan dan juga aku takut akan penghinaan yang nanti akan terjadi kepadaku jika aku mengutarakan perasaanku ini.” Ucap Candra. “Sangat beruntung sekali wanita itu. Wanita yang kau cintai itu. Bahkan aku tidak pernah ada laki-laki yang tulusnya seperti dirimu itu selain ayahku sendiri.” Ucap Wulan sambil menatap ikan-ikan itu. Candra yang masih berada disamping Wulan itu pun bermaksud untuk berpamitan kepada Wulan dikarenakan ada urusan di peternakan. “kalau begitu aku ikut, aku ingin menyusul ayahku disana.” Ucap Wulan kepada Candra. Sebenarnya Wulan ingin sekali mengulik lagi tentang siapa wanita beruntung yang dicintai oleh Candra dan kenapa Candra memilih untuk memendam perasaanya dibanding dengan mengutarakannya. “kita mau naik apa?” tanya Candra. “naik kuda saja ya, aku ambil kuda. Kita bisa naik kuda itu bersamaan.” Ucap Wulan yang langsung berdiri dan menuju ke kandang kuda miliknya untuk mengambil salah satu kuda miliknya. Candra menolak untuk naik bersama diatas kuda itu. Candra memilih untuk menuntun kuda itu saja dan membiarkan Wulan saja yang menaikinya. Banyak perbincangan antara mereka berdua, Candra merasakan jantungnya yang berdetak kencang ketika berada dekat dengan pujaan hatinya itu. Candra agak kesal dengan dirinya sendiri, kenapa dirinya bisa jatuh cinta dengan Wulan yang tentu saja tidak sebanding dengannya. Perasaan cinta Candra ini entah sampai kapan akan berakhir dan sampai kapan Candra akan menanggung derita ini. Mencintai seorang wanita yang lebih kaya adalah sebuah musibah besar bagi Candra. Candra agak trauma dengan kisah cintanya yang terdahulu ketika dirinya sangat mencintai seorang wanita, tapi wanita itu memilih untuk oergi dikarenakan Candra adalah laki-laki miskin yang tidak punya harta untuk bisa membahagiakan wanita itu. Mereka pun sampai di peternakan. Semua orang melihat Candra dan Wulan yang sedang berjalan kearah peternakan sapi miliknya. Semua orang memperhatikan termasuk ayah Wulan sendiri. Melihat hal itu, ayah Wulan menganggap hal itu biasa saja. Sebagai kacung memang seharusnya Candra berada dibawah sedangkan putrinya yang seperti tuan putri baginya berada diatas kuda itu.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN