Dekat dengan Candra

1058 Kata
Setelah istri pak Raharjo datang, Wulan pun kembali ke peternakannya. Didalam mobil Wulan sebenarnya memikirkan Candra, Wulan sangat penasaran sebenarnya apa yang dipikirkan Candra kala dirinya acuh kepadanya. Setelah selesai urusan di peternakan, Wulan pun sore itu pulang kerumahnya. Sampai rumah pun ternayata Bu Sekar sudah pulang kerumah terlebih dahulu. Wulan langsung mengetuk pintu kamar ayahnya untuk melihat keadaan ayahnya itu. “Ayah..., Ibu...,” Suara Wulan terdengar oleh kedua orang tuanya yang masih berbincang didalam kamar. “Iya..., Masuk nak...,” ucap Bu Sekar yang suaranya terdengar sampai keluar pintu kamarnya. Wulan pun masuk kedalam kamarnya, “ayah, bagaimana keadaan ayah?” tanya Wulan kepada ayahnya. “Ayah sudah lebih baik nak, kok bisa sampai sore nak?” tanya pak Cokro. “Iya ayah..., Oh iya Yah..., Wulan sudah menonaktifkan pak Raharjo untuk sementara waktu ini, Wulan pun juga sudah membawanya kerumah sakit dan ternyata pak Raharjo ini menderita penyakit TBC dan harus segera diobati. Ayah tahu kan kalau TBC itu menular? Untuk itu Wulan memutuskan untuk memberhentikan pak Raharjo setiap waktu. Bagaimana menurut ayah?” tanya Wulan. “jadi sekarang pak Raharjo dirawat dirumah sakit ya nak?” tanya pak Cokro. “iya ayah..., Mungkin istrinya juga akan jaga dirumah sakit untuk sementara waktu ini, ayah kan tahu bahwa jarak dari rumah sakit ke desa kita ini menempuh satu jam lamanya.” Ucap Wulan. “iya nak..., Keputusanmu sudah tepat, ayah bangga kepadamu.” Ucap pak Cokro sambil membelai rambut putrinya. Setelah menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya, Wulan pun bergegas kekamarnya untuk mandi dan mengganti pakaiannya. Wulan sangat senang ketika ayahnya selalu mendukungnya apapun yang menjadi keputusannya. Tapi Wulan ragu, apakah nanti hubungannya dengan Candra juga akan disetujui oleh ayahnya. “harusnya aku tidak memikirkan hal itu, dia saja sepertinya tidak lagi tertarik kepadaku.” Ucap Wulan dalam hatinya. Setelah selesai mandi, ternyata ponsel Wulan berbunyi dan Wulan tampak kaget ketika melihat ponselnya bahwa Candra lah yang meneleponnya. “Halo?” sapa Wulan agak ketus. “Iya..., Halo..., Kau sudah sampai dirumah?” tanya Candra. Wulan pun tampak tersenyum ketika Candra mengkhawatirkan dirinya. “Sudah!” jawab Wulan ketus. “syukurlah..., Aku mau ucapkan terima kasih ya, kamu malah yang memperhatikan kesehatan bapakku.” Ucap Candra. “Tidak perlu berterima kasih kepadaku. Kenapa kau tidak berterim kasih sejak tadi? Aku dirumah sakit kan juga lumayan lama.” Ucap Wulan. “aku..., Aku tidak berani mengucapkannya dihadapanmu. Aku gugup.” Jawab Candra pelan. “Mengapa kau tidak berani? Memangnya aku akan menggigitmu saat kau berterima kasih kepadaku?” ucap Wulan sambil menahan tawanya. “Hmmm..., Tidak tidak..., Bukan begitu maksudku. Bagaimana caraku menjelaskan kepadamu agar kau tidak salah paham.” Ucap Candra yang semakin bingung dengan ucapan Wulan itu. “sudah sudah..., Aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, selamat sore!” ucap Wulan langsung menutup teleponnya. Wulan lalu tertawa lepas setelah menutup teleponnya. Wulan tampak puas karena bisa mengerjai Candra dengan nada ketusnya. Setelah menyelesaikan ritual perawatan tubuh setelah mandi, Wulan pun langsung keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Disana sudah ada kedua orang tua Wulan yang juga sudah ada diruang tamu. Sampai sekarang pak Cokro pun belum mencium bau kedekatan antara Candra dan juga Wulan. Setahu pak Cokro, keduanya akrab dikarenakan hubungan antara bos dan juga bawahan semata. Saat dirumah pun pak Cokro tidak pernah membahas Candra. Wulan selalu sempurna dimata ayahnya itu. Apalagi, Wulan baru saja membawa pak Raharjo kerumah sakit. Hal itu membuat pak Cokro semakin bangga kepada putrinya yang mempunyai sifat baik kepada sesama manusia. Malam itu, pak Cokro kembali menemui sesembahannya, si Lulun samak. Setelah selesai membaca mantra, pak Cokro pun menyadari kesalahannya kepada Lulun samak itu. “Hamba minta ampun, nyai...” ucap pak Cokro dengan kedua tangan yang menempel antara satu sama lainnya. “Cokro! Aku bisa saja membunuhmu kapanpun aku mau, tapi aku masih merasa kasihan kepadamu, aku memaafkanmu untuk kali ini, tapi jangan sampai kau melebihi batasanmu lagi. Aku sudah memberimu banyak keinginan, hartamu, kesehatan keluargamu, dan juga setiap usahamu yang berjalan lancar. Semua pegawaiku juga sama sekali tidak ada yang berontak kepadamu. Itu semua berkat aku.” Ucap Lulun samak itu. Lulun samak itu berbicara sampai suaranya menggema. Kalau ada orang yang melihatnya didanau itu, sudah pasti orang lain itu akan mendengar percakapan antara pak Cokro dan Lulun samak itu. Tapi pasti tidak akan ada orang yang kuat melihat sosok Lulun samak itu. Wajahnya begitu menyeramkan. Jika ingin mencari mangsa atau tumbal, ia bisa berubah menjadi sebuah tikar yang hanyut. Hal itu tentunya bisa saja membuat orang yang ada ditepi danau atau sungai tertarik untuk mengambil tikar itu. Tapi begitu tikar itu diambil, tikar itu yang tadinya terbuka akan segera menggulung beserta orang yang menyentuhnya dan akan membawa orang itu masuk ke dasar sungai atau danau itu. Memang untuk sekarang ini, warga didesa Wulan sudah tidak membuang tikar bekas memandikan jenazah ke sungai atau ke danau. Selain menyebabkan kotor atau pencemaran air di danau itu, hal itu tentunya sudah dilarang oleh pemerintah setempat. Sampai sekarang sebenarnya warga masih harap-harap cemas ketika sedang melakukan aktivitas di danau itu, tapi mereka tetap nekat melakukan aktivitas disana dikarenakan sebagian warga atau hampir keseluruhan tidak mempunya kamar mandi sendiri didalam rumahnya. Rencana Wulan untuk membuat sumur bor dan kamar mandi umum sudah bulat. Dibantu oleh Bu Sekar, Wulan akan mewujudkan keinginannya. “Nak..., Sudah kau rinci berapa pengeluaran pembuatan sumur bor dan kamar mandi itu?” tanya Bu Sekar. “sudah Bu..., Tapi Wulan masih bingung, mau kita bangun dimana kamar mandi beserta sumur bor itu ya Bu?” tanya Wulan. “Boleh jadi bangun saja di lahan yang tidak jauh dari danau itu nak. Bagaimana menurutmu?” tanya Bu Sekar. “Apakah harus ijin perangkat desa setempat Bu? Memangnya tanah semak-semak yang dekat dengan danau itu punya siapa Bu?” tanya Wulan. “Sepertinya itu tanah milik pemerintah nak. Kita harus ijin kepada pemerintah setempat. Mengenai hal itu biar ayahmu yang akan mengurusnya.” Ucap Bu Sekar. “memangnya ayah mau menguruskan ya untukku Bu?” tanya Wulan. “ya tentu saja mau dong sayang. Kau ini putrinya satu-satunya, apapun yang kau inginkan, ayahmu itu sudah pasti akan menuruti keinginanmu.” Ucap Bu Sekar kepada putrinya itu sambil mengelus lembut rambut putrinya. Setiap hari selalu tampak kehangatan pada keluarga Wulan. Ibunya selalu mendukung apapun yang menjadi keinginannya sedangkan ayahnya juga selalu sekuat tenaga mewujudkan keinginan putrinya tersebut. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN