Datanglah supir pribadi keluarga Wulan ke peternakan sapi milik keluarga Wulan. Asep langsung menghampiri Wulan yang masih berbincang dengan seseorang yang bekerja di peternakan milik keluarga Wulan itu. “Non..., Non Wulan..., Mobil sudah sampai.” Ucap Asep dari kejauhan. “Sebentar pak, saya tinggal dulu ya, pak nanti tolong bilang kepada Candra, suruh dia kerumah sakit ya, bapaknya sedang bersama saya.” Ucap Wulan kepada salah seorang pekerja yang baru saja berbincang dengannya.
“Kang Asep, antar saya kerumah sakit ya!” ucap Wulan sambil mengajak pak Raharjo masuk kedalam mobilnya. “baik non.” Jawab Asep. Pak Raharjo dan Wulan pun duduk dibelakang kursi kemudi. Mereka saling berbincang-bincang mengenai banyak hal. Wulan merasa kasihan dengan pak Raharjo karena di usia yang sudah tua dan sakit-sakitan itu pak Raharjo masih harus mencari rezeki. “Kenapa bapak tidak istirahat saja dirumah pak, biarkan Candra yang bekerja.” Ucap Wulan. “Tidak non..., Saya tidak ingin mengandalkan anak. Toh nantinya kan Candra juga menikah, kasihan nanti istrinya kalau uang Candra harus dibagi dengan bapak.” Ucap pak Raharjo. “memangnya Candra sudah mempunyai kekasih ya pak?” tanya Wulan. Wulan pun juga sangat penasaran dengan Candra, apalagi Candra tidak pernah menceritakan kisah cintanya kepada Wulan. “Sepertinya tidak non..., Bapak selalu mewanti-wanti Candra agar mencari istri Yang sepadan dengan keluarga kami. Jangan sampai Candra itu jatuh cinta kepada wanita yang memiliki ekonomi lebih dari kami. Karena kami tidak ingin Candra mendapat penghinaan atau caci maki oleh orang tua wanita yang lebih kaya itu.” Ucap pak Raharjo kepada Wulan.
Mendengar hal itu, Wulan langsung murung. Pak Raharjo dan ayah Wulan sepertinya mempunyai pemikiran yang sama, sama-sama tidak mendapat restu dari kedua orang tua masing-masing. Wulan pun termenung dengan ucapan ayah Candra yang baru saja dikatakannya. “Non..., Kita sudah sampai dirumah sakit.” Ucap Asep yang membuyarkan lamunan Wulan. “iya kang, tolong bantu pak Raharjo ya, langsung saja dibawa dengan menggunakan kursi roda agar bapak tidak capek.” Ucap Wulan kepada Asep, supir keluarga Wulan.
Wulan pun mendaftarkan pak Raharjo dan mengantri untuk diperiksa dokter. Mereka melanjutkan perbincangan mereka. Tak henti-hentinya pak Raharjo berterima kasih kepada Wulan mengenai hal ini. Tak lama kemudian, nama pak Raharjo pun dipanggil untuk diperiksa dokter. Dokter memeriksa pak Raharjo dengan sangat teliti, bahkan dokter juga mengambil darah pak Raharjo untuk meneliti penyakit apa yang bersarang di tubuh pak Raharjo itu.
Saat Wulan dan pak Raharjo menunggu hasil laboratorium, Candra pun datang diantar oleh Wagiman. Candra langsung berlari menghampiri bapaknya, “bapak..., Bapak tidak apa-apa kan?” tanya Candra yang tampak panik sambil memegang kedua pipi ayahnya itu. “bapal tidak apa-apa nak..., Non Wulan saja yang memaksa bapak untuk diperiksa dirumah sakit agar tahu penyakit bapak, hehehe...,” ucap pak Raharjo sambil tersenyum sampai terlihat giginya. Candra pun melirik kearah Wulan. Wulan pun hanya diam saja saat Candra meliriknya. “Bisa kita bicara sebentar?” ucap Candra kepada Wulan. Wulan pun mengangguk, “kang Asep, saya titip pak Raharjo ya.” Ucap Wulan sambil mengikuti langkah Candra yang mulai menjauh dari hadapan ayahnya itu.
Candra lalu berhenti disebuah lorong rumah sakit dan duduk disebuah ruang tunggu yang tampak sepi. “kenapa kau memutuskan mengantar bapakku kerumah sakit tanpa persetujuan dariku?” tanya Candra tegas. “a..., Aku hanya ingin membantu bapak saja!” ucap Wulan agak gugup. “kenapa kau tidak memberi tahuku terlebih dahulu?” tanya Candra. “Aku tidak punya waktu untukmu! Lagi pula bapak mau saja aku bawa kerumah sakit. Aku mengantar bapak kerumah sakit hanya karena aku kasihan kepada bapak, beliau sudah setua itu dan sakit tapi masih bekerja, aku pergi dulu! Selamat siang!” ucap Wulan yang langsung pergi meninggalkan Candra. Wulan masih marah kepada Candra karena Candra tidak mau lagi mengantar s**u kerumahnya. Sekarang keinginan Wulan adalah membawa pak rahay berobat agar bisa segera sembuh. Saat Wulan kembali, ternyata hasil tes laboratorium mengatakan bahwa pak Raharjo menderita penyakit TBC tipe B. Maka dari itu pak Raharjo tidak sembuh-sembuh batuknya. Dokter juga mengatakan bahwa penyakit pak Raharjo itu juga menular. Untuk itu dokter menyarankan agar pak Raharjo dirawat dirumah sakit agar bisa mendapatkan perawatan secara insentif.
Wulan dan pak Raharjo pun berunding mengenai penyakit pak Cokro ini. “Bapak mau ya dirawat dirumah sakit. Bapak ingin berusia panjang kan?” bujuk Wulan. “Tapi non...,” ucapan pak Raharjo langsung dipotong oleh Wulan. “soal biaya bapak tidak perlu khawatir. Biar saja yang membiayai semuanya biaya rumah sakit ini. Mohon maaf bapak juga harus cuti dari peternakan karena penyakit bapak itu menular.” Ucap Wulan. “Candra..., Segera hubungi ibumu untuk datang kerumah sakit agar bapak bisa langsung dirawat hari ini juga. Lebih cepat lebih baik bukan. Saya akan mengurus administrasi terlebih dahulu.” Ucap Wulan sambil meninggalkan semua orang yang ada disana. Wulan pun tidak memperdulikan Candra yang sebenarnya tidak setuju jika ayahnya dibawa kerumah sakit apalagi yang membiayai semuanya adalah Wulan.
Candra merasakan bahwa sikap Wulan tampak dingin kepadanya. Wulan sudah berbeda sejak cabdra tidak lagi mengantar s**u kerumahnya. Candra lantas berfikir dan hatinya merasa sakit ketika Wulan bersikap dingin kepadanya. “Man..., Aku merasa sakit hati ketika Wulan bersikap dingin kepadaku.” Ucap Candra kepada Wagiman, teman yang mengantarnya kerumah sakit. “Wulan Wulan, kalau kau memanggil namanya dan didengar oleh ayahnya, kau bisa digantung.” Ucap Wagiman mengingatkan Candra yang memanggil Wulan dengan namanya.
Tak lama setelah itu Wulan pun datang menghampiri mereka lagi dan berkata bahwa Wulan sudah membereskan urusan administrasi pak Raharjo. “bapak..., Saya temani bapak sampai ibu datang kemari ya, setelah itu saya harus kembali ke peternakan. Besok mungkin saya akan kembali untuk menjenguk bapak. Semoga bapak cepat sehat kembali biar bisa bekerja kembali. Bapak tidak udah khawatir, selama bapak tidak bekerja, saya akan tetap menggaji bapak secara penuh.” Ucap Wulan kepada pak Raharjo. Pak Raharjo sangat terharu dengan kebaikan Wulan. Bagi pak Raharjo, Wulan adalah seorang malaikat yang menyelamatkannya. ‘terima kasih banyak non, terima kasih...,” ucap pak Raharjo kepada Wulan.
Wulan pun menemani pak Raharjo sampai istrinya datang kerumah sakit. Saat Wulan berbincang dengan pak Raharjo, sedikit pun Wulan tidak mau memandang atau melihat wajah Candra meski Candra berada tidak jauh dengannya. Candra benar-benar merasakan perasaan yang sangat terluka dengan sikap Wulan yang acuh kepadanya. Perasaan Candra bingung, Candra harus senang atau sedih melihat sikap Wulan yang sudah berubah begitu cepat seperti ini.