“sudah aku bilang kepadamu..., Putrimu itu nanti yang akan menentangmu dan juga menghalangi jalanmu menuju kekayaan yang abadi. Lebih baik kau berikan saja putrimu itu kepadaku, Cokro!” Ucap Lulun samak itu yang muncul dari dalam air danau. “Iya..., Kalau dia jadi membuat sumur bor dan juga kamar mandi umum, lalu tidak akan ada lagi warga desa yang berkunjung ke danau ini.” Ucap pak Cokro kepada Lulun samak itu. “Aku sudah pernah bilang kepadamu bahwa putrimu itu adalah penghalang bagimu mencari kekayaan abadi.” Ucap Lulun samak itu. “Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya pak Cokro meminta saran sesembahannya itu. “Berikan saja putrimu itu kepadaku, aku yang akan merawatnya!” ucap Lulun samak itu. “tidak! Dia adalah putriku satu-satunya! Dia tidak boleh ikut denganmu! Apakah kau belum cukup mengambil keempat putraku!” pak Cokro membentak Lulun samak itu lalu meninggalkan Lulun samak itu sendirian. “Kau akan tahu akibatnya, Cokro!” ujar Lulun samak itu lalu kembali kedalam air danau yang seketika air danau itu langsung berubah menjadi tenang setelah perginya si Lulun samak.
Pak Cokro lalu pulang dengan sangat tergesa-gesa bahkan sampai didepan rumahnya, pak Cokro ngos-ngosan mengatur nafasnya. Setelah agak tenang, pak Cokro pun lalu masuk kedalam rumahnya lalu menuju area dapur untuk mengambil minuman. Dengan nafas yang terengah-engah, pak Cokro lalu meninggalkan dapur melewati kamar putrinya. Pak Cokro mengintip putrinya yang sedang tertidur itu. Wulan terlihat lelap disana. Pak Cokro lalu menutup pintu kamar putrinya setelah memastikan bahwa putrinya masih aman saja.
Selagi pak Cokro masih menginginkan harta dari Lulun samak itu, tentunya Lulun samak itu akan selalu mengincar nyawa orang-orang terdekat pak Cokro, entah itu Bu Sekar atau Wulan. Pak Cokro selalu berusaha untuk melindungi istri dan juga putrinya agar tidak menjadi tumbal selanjutnya atas kekayaan yang beliau dapatkan.
Pak Cokro sebenarnya adalah orang yang sayang keluarga terutama terhadap putri semata wayangnya Wulan. Semua kekayaan pak Cokro memang awalnya diperuntukkan bagi Bu Sekar, tapi setelah beliau dikaruniai seorang putri satu-satunya yang hidup, pak Cokro sangat menyayangi putrinya itu. Semua kekayaan pak Cokro tersebut nantinya akan diwariskan kepada putri satu-satunya itu.
Malam itu pak Cokro tidak bisa tidur, beliau lalu duduk diruang tamu sampai menjelang fajar tiba. Pak Cokro selalu memikirkan bagaimana nasib Wulan nantinya setelah Wulan membangun sumur bor dan juga kamar mandi umum untuk para warga yang berada dikampung mereka. Pemikiran pak Cokro bahkan sampai kemana-mana bila Wulan jadi membuat sumur untuk para warga kampung. Pak cokro tahu, putrinya itu sangat keras kepala, apapun yang menjadi keinginan Wulan harus segera terwujud apapun caranya. Penentangan pak Cokro terhadap putrinya itu tidak akan merubah keinginan Wulan.
Pak Cokro sudah pasti akan mencari cara agar putrinya itu tidak jadi membangun sumur dan juga kamar mandi untuk warga mereka. Pak Cokro masih memikirkan hal itu, bagaimana cara merubah pemikiran putrinya itu.
Pak Cokro sampai tertidur disofa ruang tamu setelah pertemuannya dengan Lulun samak itu. Baru saja tertidur, pak Cokro sudah dibangunkan oleh putrinya yang baru saja bangun dari tidurnya. “Ayah...,” bisik Wulan sambil menggoncang lembut tubuh ayahnya. Seketika pak Cokro langsung membuka matanya. “Ayah kenapa tidur disini?” tanya Wulan. Pak Cokro perlahan membangunkan tubuhnya. Tubuh pak Cokro rasanya serasa pegal-pegal setelah semalaman duduk disofa. “tidak apa-apa nak..., Nak, untuk hari ini, kau dan ibumu saja yang berangkat ke kebun atau ke peternakan ya, ayah sepertinya agak kurang sehat.” Ucap pak Cokro kepada putrinya. “Ayah sakit?” tanya Wulan yang agak khawatir dengan kesehatan ayahnya. Wulan memegang kening ayahnya yang memang tidak panas. “Tidak nak..., Ayah tidak sakit, ayah hanya butuh istirahat untuk saat ini.” Ucap pak Cokro. “Baiklah..., Kalau begitu, kita sarapan dulu, baru nanti Wulan antar ayah ke kamar.” Ucap Wulan sambil menuntun ayahnya menuju meja makan. “bapak kenapa?” tanya Bu Sekar. “Bapak tidak enak badan Bu. Bu..., Nanti ibu yang ke perkebunan, Wulan saja yang ke peternakan ya, kita nanti ambil kuda dulu untuk kesana.” Ucap Wulan yang menjawab pertanyaan Bu Sekar. Bu Sekar pun mengangguk saja saat putrinya berbicara. Mereka sarapan pagi bersama. Saat mereka sarapan, ada yang mengetuk pintu rumah Wulan, tapi suaranya bukan dari Candra. “Biar Wulan saja yang membukakan pintunya Yah, Bu.” Ucap Wulan lalu berjalan kearah pintu utama rumahnya. Wulan membukakan pintu itu dan agak kaget ketika yang mengantar s**u itu bukan Candra. “Loh..., Dimana Candra?” tanya Wulan. “Itu non..., Candra meminta untuk pindah lokasi.” Jawab Wagiman, selaku teman Candra yang berprofesi sebagai pengantar s**u juga. “Oh..., Memangnya kenapa mang?” tanya Wulan. “Saya tidak tahu non, saya menurut saja saat Candra meminta pindah lokasi.” Jawab Wagiman. “oke..., Baiklah..., Terima kasih mang.” Ucap Wulan kepada Wagiman dan membawa s**u yang diberikan oleh Wagiman itu. Wulan lalu meletakkan s**u itu kepada mbak Aminah. Wulan masih berfikir, kenapa Candra meminta pindah lokasi sebagai pengantar s**u.
Setelah kedua orang tuanya selesai sarapan, Wulan pun mengantar pak Cokro kekamarnya. “ayah..., Cepat sehat lagi ya.” Ucap Wulan sambil mencium pipi ayahnya. Pak Cokro pun lalu membaringkan tubuhnya diatas kasur didalam kamarnya.
Sebelum berangkat ke peternakan, Wulan memanggil mbak Aminah untuk menjaga ayahnya yang saat ini sedang merasa tidak sehat. Mbak Aminah pun menyanggupi permintaan anak majikannya itu. Wulan dan ibunya pun berangkat dengan menaiki kuda masing-masing. “Ma..., Wulan langsung ke peternakan ya.” Ucap Wulan berpamitan. Bu Sekar pun juga langsung menuju ke kebun kopi miliknya.
Sesampainya di peternakan, Wulan bertemu dengan pak Raharjo yang masih memberi makan sapi-sapi milik ayahnya itu. Wulan melihat pak Raharjo di usia senjanya yang masih giat bekerja. Wulan merasa trenyuh dengan pak Raharjo yang bekerja dengan tubuh yang tidak sehat lagi. Wulan lalu menemui pak Raharjo, “selamat pagi pak Raharjo?” sapa Wulan ramah. “eh..., Non Wulan, selamat pagi non.” Jawab pak Raharjo sambil batuk-batuk. “Pak Raharjo sakit?” tanya Wulan. “Tidak non..., Bapak sudah biasa, batuk bapak tidak sembuh-sembuh.” Ucap pak Raharjo. “bapak sudah periksa ke dokter?” tanya Wulan. Pak Raharjo menggeleng, “saya hanya mampu periksa ke puskesmas saja non,” ucap pak Raharjo. “kalau begitu bapak saya antar ke dokter saja ya, bapak tidak boleh permintaan saya ya, saya akan meminta kang Asep untuk mengantar mobil kemari.” Ucap Wulan lalu meninggalkan pak Raharjo yang sedang memberi makan sapi-sapi milik keluarga Wulan.