Keesokan paginya, Wulan menceritakan keinginannya kepada kedua orang tuanya, ibunya menyetujuinya sedangkan ayahnya menentang hal itu. “Maksud Wulan ini baik ayah!” Ucap Wulan dengan nada tinggi. “Ayah tetap tidak setuju apapun alasannya! Kalau ibumu setuju ya kau boleh saja meminta bantuan ibumu itu!” Ucap pak Cokro lalu pergi meninggalkan rumahnya dengan amarahnya kepada putrinya itu. “Bu..., Baru kali ini ayah tidak menyetujui tujuan baik Wulan.” Ucap Wulan kepada ibunya. “Tapi ibu mendukungmu nak, ibu selalu mendukungmu, kau butuh uang berapa juta untuk membuat itu semua? Nanti ibu yang akan memberikanmu uang.” Ucap Bu Sekar kepada putrinya itu. “Terima kasih Bu..., Ibu memang yang paling mengerti Wulan.” Ucap Wulan sambil memeluk ibunya itu.
Bu Sekar pun berpamitan untuk menyusul pak Cokro yang lebih dulu berangkat ke kebun kopi miliknya. Kali ini Wulan berada dirumah sendiri bersama pembantu-pembantunya. Tak lama setelah terjadi konflik antara Wulan dan juga ayahnya, Candra pun datang kerumahnya sebagai seorang pengantar s**u. “selamat pagi, s**u susu...,” ucap Candra didepan pintu rumah Wulan. Wulan yang kala itu mendengar Candra pun langsung membukakan pintu rumahnya. “pagi...,” sapa Wulan dengan senyum ramahnya. Candra tampak senang karena yang membukakan pintu rumahnya itu adalah Wulan, pujaan hatinya. Candra pun menundukkan kepalanya sambil menahan senyumnya, Candra tampak malu-malu ketika Wulan menatap wajahnya. “Aku ikut mengantar s**u-s**u itu ya? Sebentar aku ambil kunci mobil dulu.” Ucap Wulan kepada Candra. Candra hanya mengangguk lalu kembali kemotor bututnya untuk menurunkan s**u sapi itu dari jok motornya. Tak lama setelah itu, datanglah Wulan dengan membawa kunci mobilnya dan membuka bagasi mobilnya. Wulan pun juga membantu memasukkan s**u itu kedalam bagasinya.
Seperti biasa, Wulan memberikan kunci mobilnya kepada Candra agar Candra yang menyetir mobilnya. “Kamu tahu, kenapa aku suka ikut denganmu?” tanya Wulan sambil melihat kearah Candra. Candra lalu menggelengkan kepalanya. “Itu karena aku menyukainya, aku suka saat ada orang yang berkata terima kasih setelah aku memberikan s**u-s**u itu untuk mereka. Mereka tampak bahagia walau hanya diberi sebotol plastik susu.” Ucap Wulan sambil tersenyum. Senyum Wulan itu membuat Candra semakin tertarik kepadanya. Walaupun Wulan adalah anak orang kaya, tapi kebahagiaan Wulan sangat sederhana, dengan berkata terima kasih saja sudah membuat Wulan sebahagia itu.
Setelah mengantar s**u-s**u itu, Wulan mengajak Candra untuk makan disebuah warung yang tidak jauh dari kampungnya, “tenang..., Aku yang bayar..,” ucap Wulan kepada Candra. Candra pun menyanggupi permintaan Wulan itu untuk makan di warung itu. Setelah memesan makanannya, Candra makan dengan sangat lahap sehingga membuat Wulan senang, “memangnya kamu tidak pernah sarapan pagi?” tanya Wulan kepada Candra. Candra lalu menggeleng, “aku tidak pernah sarapan. Aku biasanya hanya makan siang di peternakan, itu saja makan siang gratis dari peternakan.” Ucap Candra. “Lalu malamnya?” tanya Wulan. “kami hanya makan sehari sekali saja.” Jawab Candra. Wulan lalu meneteskan air matanya, “aku bersyukur, ayahku bisa memberiku makan sehari tiga kali.” Ucap Wulan dalam hatinya. “Kenapa kau menangis?” tanya Candra yang tampak bingung kepada Wulan. “Bagaimana rasanya makan hanya sehari satu kali? Aku saja makan sehari tiga kali dan makanan dirumahku harus sesuai keinginanku.” Ucap Wulan kepada Candra. Candra lalu tersenyum lagi, “banyak-banyaklah bersyukur..., Ayahmu mampu menuruti semua keinginanmu. Kalau masalah lapar ya kami pasti lapar kalau hanya makan sehari satu kali, tapi terkadang ibu membawa sisa kue atau sisa makanan dari perkebunan untuk dimakan dirumah. Untung saja ayahmu sangat baik sehingga kami mendapat jatah makan siang dan juga gaji.” Ucap Candra.
Setelah selesai makan, dalam perjalanan pulangnya, Wulan menceritakan kepada Candra masalah rencananya untuk membuat sumur bor dan juga kamar mandi untuk para warga kampungnya. Candra pun juga mendukung maksud baik Wulan ini. Saat Wulan dan Candra keluar dari warung makan itu, tiba-tiba mereka bertemu dengan pak Cokro, ayah Wulan. Wulan dan Candra tampak kaget ketika mereka bertemu dengan pak Cokro. “ayah..., Sapa Wulan dengan gugup. “Kenapa kamu disini sayang? Apa pembantu tidak memasak?” tanya pak Cokro yang tidak melepaskan pandangannya dari Candra. “hmm..., Kami hanya bertemu secara tidak sengaja ayah,” ucap Wulan. “sebentar..., Bukankah kamu putra dari pak Raharjo?” tanya pak Cokro menatap tajam Candra. “i..., Iya pak..., Saya Candra, putra pak Raharjo.” Ucap Candra lalu menundukkan pandangannya. Tatapan pak Cokro kepadanya rasanya seperti Candra sedang dilucuti pakaiannya. “kalau begitu segeralah kembali ke peternakan!” ucap pak Cokro lalu meninggalkan mereka dengan menaiki kudanya.
Setelah kepergian pak Cokro, Wulan lalu melepaskan nafasnya, “untung untung...,” ucap Wulan mengelus dadanya. “lebih baik kita berpisah disini saja, aku tidak ingin ayahmu berfikir macam-macam terhadapku, kau pulanglah dan aku akan kembali ke peternakan.” Ucap Candra kepada Wulan lalu meninggalkannya. Wulan pun tertegun melihat kepergian Candra. Wulan tahu Candra akan kembali menemuinya lagi karena motornya berada dirumahnya. “satu, dua, tiga.. , menengok!” ucap Wulan dalam hatinya dan benar saja, hanya tiga detik, Candra menoleh Wulan dan menghampirinya. Wulan lalu tersenyum dan memberikan kunci mobilnya, “soal ayahku itu biar menjadi urusanku, kau tak perlu khawatir.” Ucap Wulan kepada Candra. Mereka pun kembali kerumah Wulan dan Candra mengambil motornya untuk dibawa ke peternakan.
Sesampainya dipeternakan, pak Cokro tidak membahas pertemuannya tadi dengan Candra dan Wulan. Seperti yang telah disampaikan putrinya bahwa mereka hanya kebetulan saja bertemu, pak Cokro langsung mempercayai putrinya itu. Candra tampak lega pak Cokro tidak membahas pertemuannya tadi. Candra tidak akan mengijinkan Wulan lagi untuk ikut bersamanya mengantar s**u. Candra masih memikirkan cara untuk menolak Wulan ketika Wulan mau ikut dengannya mengantar s**u.
Candra lalu mempunyai ide untuk menukar tempat pembagian s**u, biar temannya saja bernama Wagiman yang mengantar s**u kerumah Wulan. Candra langsung menemui Wagiman dan mengajaknya untuk tukar tempat. “Man..., Kau saja yang mengantarnya dirumah pak Cokro, sedangkan aku saja yang akan menjualkan s**u-s**u itu di desa lain.” Ucap Candra kepada Wagiman. “Loh..., Memangnya kenapa?” tanya Wagiman. “Panjang ceritanya Man, boleh kan?” tanya Candra. Wagiman pun mengangguk dengan penuh pertanyaan dalam pikirannya. Kenapa tiba-tiba Candra menukar tempat berjualan s**u sedangkan area jualan Wagiman lebih jauh dibanding dengan Candra. “Ini selamanya?” tanya Wagiman. “tidak Man..., Lagi pula kalau kita tukar tempat tanpa sepengetahuan pak mandor, pasti kita akan dimarahi kan?” ucap Candra. “lalu mau sampai kapan?” tanya Wagiman. “nanti lah, kita jalani saja dulu.” Ucap Candra sambil menepuk pundak Wagiman. Mereka pun kembali bekerja lagi.