Empati terhadap tetangga

1068 Kata
Bu Sekar sudah mandi dan bersiap-siap untuk pergi kerumah pak Mali yang istrinya baru saja tenggelam didanau pagi tadi. Saat Bu Sekar ingin bermpamitan kepada suaminya, “pak..., Ibu berangkat dulu kerumah pak Mali ya,” ucap Bu Sekar. “Loh..., Memangnya ada apa Bu?” Tanya Wulan. “Ini nak..., Ibu mau memberikan uang bela sungkawa atas tenggelamnya istri pak Mali tadi pagi.” Ucap Bu Sekar. “Istri pak Mali tenggelam? Kok bisa begitu?” Tanya Wulan. “Ibu juga belum tau cerita lengkapnya nak, pagi ini kan ibu tidak keluar rumah sama sekali. Itu tanya ayahmu yang lebih tahu.” Ucap Bu Sekar. Wulan pun langsung memperhatikan ayahnya seakan ayahnya harus menceritakan sesuatu kepada Wulan. “iya nak, tadi pagi baru tenggelam, mungkin sampai sekarang belum ditemukan jenazahnya, ya kalau bisa jangan sampai meninggal.” Ucap pak Cokro. “kalau begitu Wulan ikut bu,” ucap Wulan langsung berdiri meninggalkan kasurnya dan bersiap untuk ikut ibunya. “ayo cepat siap-siap!” ucap Bu Sekar. Wulan pun langsung masuk kedalam kamar mandi yang ada dikamarnya dan langsung mencuci mukanya. Setelah selesai mencuci muka dan mengganti pakaiannya, Wulan dan Bu Sekar pun pergi meninggalkan rumahnya menuju rumah pak Mali yang istrinya baru saja terkena musibah. Sementara itu, pak Cokro yang sedang berada dikamar Wulan pun lalu pergi meninggalkan kamarnya dan masuk kedalam kamarnya sendiri sambil mengambil uang yang yang semalam dikemasi didalam karung itu. Pak Cokro menarik tiga karung itu dan mulai menghitung uangnya. Sambil menghitung uangnya, pak Cokro terlihat tampak senang dengan uang-uang yang berhamburan didalam kamar itu. Pak Cokro menghargai nyawa istri pak Mali mungkin tidak ada satu persen dari uang-uang yang telah didapatnya dari hasil pesugihan itu. Sampailah Bu Sekar dan Wulan dirumah pak Mali. Kedua anak pak Mali menangisi ibunya yang sampai saat ini belum ketemu. “Selamat siang pak Mali, bagaimana? Apakah sudah dilaporkan kepada tim SAR untuk mencari ibu?” tanya Bu Sekar. “sudah Bu..., Saya sudah menghubungi tim SAR.” Jawab pak Mali. “Pak Mali yang sabar ya, ini semua musibah, semoga ibu ditemukan dalam keadaan selamat.” Ucap Bu Sekar kepada pak Mali. Sementara Wulan menghibur kedua anak pak Mali agar tidak ikut sedih seperti ayahnya. “Bu..., Wulan boleh mengajak anak pak Mali jalan?” tanya Wulan. “Boleh nak, biar tidak sedih juga.” Ucap Bu Sekar. “boleh kan pak?” tanya Wulan kepada pak Mali. Pak Mali hanya menganggukkan kepalanya. Setelah banyak berbincang dan menguatkan hati pak Mali, kedua anak pak Mali pun diajak oleh Wulan menuju rumahnya untuk mengantar Bu Sekar pulang. “dek.., setelah mengantar nenek, kita main ya,” ucap Wulan kepada kedua bocah yang ibunya telah hilang didanau itu. Mereka pun mengangguk. Seumur hidup mereka, mereka tidak pernah naik mobil bagus seperti mobil Wulan itu. Wulan melihat bahwa mereka saja seperti bahagia walau hanya naik mobil Wulan. Sesudah mengantar Bu Sekar kerumahnya, Wulan langsung mengajak kedua anak pak Mali itu untuk berbelanja disebuah pusat perbelanjaan yang letaknya lumayan jauh dari rumah Wulan. Rencana Wulan ingin mengajak keduanya untuk bermain di sebuah wahana permainan yang ada di mall itu sepuas hati mereka. Kedua anak pak Mali yang manis itu sangat membuat Wulan bahagia karena mereka berdua adalah anak yang penurut ketika Wulan mengajaknya berbelanja. Setelah menemani mereka bermain, Wulan pun mengajak mereka untuk berbelanja pakaian, tas, sepatu sekolah dan beberapa kebutuhan lainnya. Wulan tampak iba dengan kedua anak kecil yang baru saja kehilangan ibunya itu. Setiap ada orang yang tenggelam didanau itu, Wulan tidak pernah mendengar berita para korban tenggelam itu ditemukan, bahkan jenazah para korban tenggelam itu saja tidak pernah ditemukan. Wulan ingin membangunkan sumur bor untuk mereka agar mereka tidak lagi mencuci dan mengambil air di danau itu. Wulan pun juga sebenarnya mempunya rencana membuat sebuah kamar mandi umum untuk warga desanya untuk meminimalisir korban tenggelam di danau itu. Tak lupa Wulan juga membelikan sembako untuk kedua anak tersebut. Wulan senang melihat senyum mereka yang tampak bahagia setelah diajak Wulan berjalan-jalan ke mall itu. “Anak-anak senang?” tanya Wulan kepada mereka berdua. Mereka hanya menjawab dengan senyum sumringah mereka. “kita pulang sekarang ya, kasihan bapak kalian dirumah sendirian.” Ucap Wulan sambil mengajak mereka ke mobil untuk segera pulang. Sementara itu dirumah pak Cokro tidak melihat Wulan, “bu.., sudah kau berikan uang itu kepada pak Mali?” tanya pak Cokro kepada istrinya yang baru saja masuk kedalam rumahnya. “Sudah pak..., Pak Mali tampak terharu ketika ibu memberikan uang itu, terima kasih ya pak, bapak ini selalu perhatian kepada warga kampung sini.” Ucap Bu Sekar kepada suaminya. “Loh..., Dimana Wulan Bu?” tanya pak Cokro sambil melihat kearah sekitar. “Oh iya pak..., Wulan pergi bersama kedua anak pak Mali itu untuk menghibur mereka berdua, kasihan pak, mereka berdua baru saja kehilangan ibu mereka.” Ucap Bu Sekar. “Iya Bu..., Mau bagaimana lagi, kita kan tidak tahu takdir kita kan Bu.” Ucap pak Cokro kepada istrinya. Saat pak Cokro dan istrinya sedang berbincang, pulanglah Wulan kerumahnya setelah mengantar kedua anak pak Mali berbelanja. “sore ayah.., ibu...,” sapa Wulan. “Eh..., Anak ayah sudah pulang, dari mana saja nak? Sampai sesore ini baru pulang?” tanya pak Cokro. “Ini Yah..., Wulan baru saja menghibur kedua anak pak Mali yang baru saja tertimpa musibah, mereka bahagia deh Yah, kata mereka, mereka berdua sama sekali belum pernah diajak main ke mall.” Ucap Wulan menceritakannya kepada pak Cokro. “Baguslah..., Anak Ayah ini lho yang paling sempurna, sudah cantik, baik hati pula.” Ucap pak Cokro membanggakan putri satu-satunya itu. Wulan pun tampak tersenyum ketika ayahnya telah memujinya. “Nak..., Istirahatlah dulu, seharian ini kau baru saja mengasuh dua anak. Hehehe...,” ucap Bu Sekar sambil terkekeh. Wulan pun langsung meminta ijin untuk kekamarnya dan mulai memikirkan tentang proyek pengeboran sumur dan juga kamar mandi untuk warga kampungnya agar mereka tidak lagi mencuci atau mandi di danau lagi. Wulan lalu merebahkan tubuhnya di kasur dan memandang langit-langitnya. Untuk mewujudkan mimpinya itu, tentu saja Wulan perlu bantuan kedua orang tuanya untuk memberikannya dana kepadanya. Secara Wulan sampai sekarang belum mempunyai penghasilan sendiri dikarenakan ayah dan ibunya melarangnya bekerja diluar kota atau diluar negeri. “mungkin besok saja aku akan menceritakan hal ini kepada ayah dan ibu, bagaimanapun juga aku perlu bantuan mereka untuk membangun sebuah sumur bor dan juga kamar mandi umum untuk warga kampung disini.” Ucap Wulan sebelum memejamkan matanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN