Setelah lebih dari dua Minggu lamanya setelah pak Cokro diberikan uang oleh Lulun samak itu, pak Cokro lupa akan kewajibannya yang harus memberikan tumbal kepada Lulun samak itu. Lulun samak itu yang merasa dibohongi oleh pak Cokro pun langsung datang kerumah pak Cokro yang kala itu semua orang yang ada dirumah itu sudah tidur terlelap termasuk juga Wulan. Seperti biasa, Wulan selalu membawa segelas air putih di meja riasnya saat menjelang tidur. Malam itu keadaan kampung pak Cokro tampak sepi sunyi dan mencekam. Wulan yang kala itu tidur terlelap pun merasa nafasnya agak susah. Lulun samak itu masuk kedalam kamar Wulan dan menduduki tubuh Wulan yang sedang tidur terlentang itu sambil mencekik Wulan. Wulan pun melihat sosok mengerikan itu, wajahnya seperti orang yang penuh dengan lumut dan lendir sedangkan sekujur tubuhnya seperti berbulu, Wulan yang kala itu merasa ketakutan sampai tidak bisa berbicara lagi dan nafasnya semakin sesak. Wulan tidak bisa berteriak lagi, tapi Wulan harus bisa melawan setan itu. Wulan pun melirik kearah gelas yang ada dimeja disamping ranjangnya itu. Tangan Wulan sengaja menjatuhkan gelas itu sehingga bunyinya memekik telinga para orang uang ada dirumah Wulan, “pyarrr!!” suara pecahan gelas itu membangunkan pak Cokro dan juga Bu Sekar yang saat itu sedang tidur.
“Ada apa itu pak!” tanya Bu Sekar. “Sepertinya suara itu berasal dari dalam kamar Wulan, ayo kita kesana Bu!” ucap pak Cokro dengan sigap sambil membawa panah dan busurnya yang biasa digunakan untuk memburu hewan dihutan.
Bu Sekar dan pak Cokro berlari kearah kamar Wulan dan langsung membuka pintu kamar Wulan dengan kasar, “brak!!!” begitu suara pintu yang dibuka itu. Bu Sekar yang langsung ingin berlari kearah Wulan pun ditahan oleh pak Cokro. “pergi kau!” ucap pak Cokro dalam hatinya yang melihat sosok Lulun samak sedang mencekik putrinya. “Ingat Cokro! Kau belum memberiku tumbal!” ucap Lulun samak itu lalu pergi meninggalkan kamar Wulan. Tidak ada yang mendengar Lulun samak itu berbicara kecuali pak cokor sendiri. Wulan yang baru saja dicekik oleh makhluk itu pun lalu tersedak-sedak dan Bu Sekar langsung berlari menghampiri Wulan sambil memeluk putrinya. “Bu..., Wulan takut Bu...,” ucap Wulan sambil menangis di pelukan ibunya. Bu Sekar melihat kearah leher Wulan yang tampak membiru akibat dari cekikkan Lulun samak itu. Pak Cokro pun juga menghampiri Wulan. “Jangan takut nak, ayah akan terus melindungimu.” Ucap pak Cokro kepada Wulan dan memeluknya. “Pak..., Putri kita kenapa lehernya seperti ini?” tanya Bu Sekar panik. “Sudah tidak apa-apa, besok hilang sendiri.” Ucap pak Cokro masih memeluk putrinya itu. Mbak Aminah memberikan Wulan segelas air putih agar Wulan tenang. Wulan tak mampu menceritakan apa yang baru saja dilihatnya. Wulan hanya terdiam dipelukan ibunya itu dan merasa trauma dengan mahkluk yang sangat menyeramkan itu. Wulan tak pernah melihat wajah makhluk itu sedekat yang baru saja dialaminya. “pak..., Malam ini biar ibu temani Wulan, bapak kalau mau tidur ya tidurlah sendiri.” Ucap Bu Sekar kepada suaminya itu.
Pak Cokro tak langsung pergi kekamarnya untuk tidur, tengah malam itu pak Cokro meninggalkan rumahnya lalu pergi ke danau untuk bertemu dengan Lulun samak itu. Tak ada rasa takut dalam diri pak Cokro itu saat mengetahui bahwa Lulun samak itu telah berani menyerang putri semata wayangnya itu. Sesampainya di danau, dengan membawa panahnya, pak Cokro pun memanah kearah air danau itu tanpa membaca mantra apapun. Air danau yang awalnya tenang itu pun kembali bergemuruh sampai memunculkan ombaknya dikala senyapnya malam itu. Sosok Lulun samak itu pun keluar dari dalam danau itu, “kau sudah melebihi batasanmu itu Cokro!” ucap Lulun samak itu dengan mata yang terlihat memerah. “kan aku sudah pernah bilang kepadamu! Jangan sentuh putriku! Aku pasti akan memberikan tumbalnya untukmu!” ucap pak Cokro dengan nada tinggi. “Baiklah! Kalau kau tidak memberikan tumbal itu kepadaku! Nyawamulah yang akan menjadi gantinya! Ingat itu Cokro!” ucap Lulun samak itu lalu masuk lagi kedalam air danau itu.
Pak Cokro pun langsung berjalan kembali kerumahnya lagi. Setelah sampai dirumahnya, pak Cokro lalu masuk kedalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya sambil melihat kearah langit-langit kamarnya. “Harta ini tidak ada artinya lagi jika nyawa putriku yang menjadi korban tumbalku sendiri. Aku sudah kehilangan keempat putraku, aku tidak akan lagi kehilangan putriku satu-satunya.” Ucap pak Cokro dalam hatinya. Kini pak Cokro telah sadar bahwa sepatuh apapun dirinya terhadap mahkluk itu, hal itu tidak akan membuat makhluk itu merasa iba kepadanya.
Keesokan paginya, pak Cokro memikirkan tentang siapa nanti yang akan menjadi tumbal selanjutnya. Pagi itu pak Cokro selalu berjalan-jalan menggunakan kudanya mengelilingi perkebunan atau kemanapun pak Cokro mau pergi. Pak Cokro sampai ke tepi danau dan melihat para ibu-ibu sedang mencuci pakaian disana. Semua warga kampung itu bergantung kepada danau itu kecuali keluarga pak Cokro.
Pak Cokro melihat ke sekeliling danau itu dan semua warga kampung itu menyapa ramah pak Cokro yang sedang melihat kearah danau. Saat pak Cokro melihat kedanau itu, ada seorang ibu-ibu yang sedang ketengah danau untuk membuang hajatnya. Awalnya air danau itu tenang, tiba-tiba ada ombak besar menggulung ibu-ibu yang sedang membuang hajat itu, seketika warga kampung yang berada disana pun langsung naik ketepian danau untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Melihat hal itu, pak Cokro langsung pergi meninggalkan danau itu tanpa memperdulikan wanita yang tenggelam itu. Pak Cokro menunggangi kudanya menuju kearah perkebunan kopi miliknya. Sesampainya disana pak Cokro lalu duduk disebuah gubuk untuk beristirahat sambil memandangi kebun kopi miliknya yang sangat luas itu. “Aku sudah melaksanakan kewajibanku untuk memberikan tumbal itu kepadanya, kini uangku akan semakin bertambah banyak. Hahaha....,” ucap pak Cokro dalam hatinya.
Tidak lama pak Cokro istirahat digubuk itu, pak Cokro pun lalu kembali kerumahnya dengan menunggangi kudanya. Sesampainya dirumah, pak Cokro langsung memanggil istrinya, “bu..., Ibu...,” pak Cokro berteriak. “Iya pak..., Ada apa?” jawab Bu Sekar yang keluar dari kamar putrinya. “istri dari pak Mali, tetangga kita itu baru saja tenggelam di danau itu, kau kerumahnya dan berikanlah uang ini kepada keluarganya, siapa tahu uang ini bisa membantunya menghilangkan dukanya.” Ucap pak Cokro sambil memberikan segepok uang kepada istrinya. “baiklah pak..., ibu mandi dulu ya.” Ucap Bu Sekar. Pak Cokro pun langsung menuju kekamar putrinya dengan mengetuk pintu sebelum masuk kekamarnya. “Nak...,” panggil pak Cokro. “iya Ayah.., masuklah!” ucap Wulan. Pak Cokro lalu masuk kekamar putrinya dan melihat dileher putrinya sudah tidak ada lagi bekas cekikkan berwarna biru itu.