Malam itu pak Cokro kembali menemui sesembahannya itu untuk membahas masalah uang. Setelah sampai di danau itu, pak Cokro langsung membaca mantra pemanggil Lulun samak itu. Tak lama setelah pemanggilan Lulun samak itu, dia pun datang dan berkata kepada pak Cokro, “untuk apa kau memanggilku lagi? Sekarang kau lebih rajin mengunjungi diriku ini, Cokro.” Sapa Lulun samak itu. “Saya dengar di kampung sebelah ada yang menjual tanahnya untuk menyekolahkan anaknya di kota, uangku tidak cukup untuk membeli tanah itu, bisakah kau berikan aku uang?” tanya pak Cokro tanpa berbasa-basi. “Hahaha..., Cokro! Perkara uang itu soal mudah, apakah kau bisa memberiku tumbal atas ganti dari uang yang akan aku berikan kepadamu?” tanya Lulun samak itu. “Tentu saja aku bisa memberimu tumbal, apakah kau tidak percaya kepadaku?” ucap pak Cokro. “Baiklah Cokro, kalau begitu, pulanglah sekarang dan kau akan menemukan uang uang itu dirumahmu.” Ucap Lulun samak itu lalu pergi meninggalkan pak Cokro yang sedang bersimpuh di tepi danau itu.
Setelah kepergian Lulun samak itu, pak Cokro pun langsung kembali kerumahnya dengan cepat karena sudah tidak sabar ingin melihat uang-uangnya. Sesampainya dirumah, tepatnya diruang tamu yang sudah tidak ada siapapun disana, pak Cokro melihat banyak uang berhamburan tepat di belakang pintu ruang tamu rumahnya. Sebelum ada orang yang melihatnya, pak Cokro langsung mengambil karung dan memasukkan uang-uang berwarna merah itu kedalam karung yang dia ambil dari sebuah gudang yang ada dirumahnya.
Pak Cokro tidak menghitung uang itu, pak Cokro hanya langsung memasukkannya kedalam karung. satu karung pun tidak cukup untuk wadah uang-uang itu yang berserakan dimana-mana. Setelah berhasil memunguti uang-uang tersebut, pak Cokro langsung memasukkannya kedalam kamarnya dan menaruhnya dibawah ranjang agar tersimpan aman disana. Setelah selesai mengurusi uang-uang itu, pak Cokro pun langsung membaringkan tubuhnya disamping tubuh istrinya.
Wulan yang malam itu belum tidur dan masih berbunga-bunga karena Candra baru saja menghubunginya, Wulan sama sekali tidak mendengar ayahnya yang kala itu sedang mengemasi uang-uang gaib itu. Seketika Wulan teringat akan ucapan ibunya bahwa ayahnya tidak akan mungkin jika dirinya berpacaran dengan Candra, seorang anak buruh yang bekerja sebagai pengantar s**u sekaligus sebagai seorang buruh ayahnya. Wulan tidak ingin cintanya terhalang restu orang tuanya, apalagi hanya karena materi ayahnya tidak merestuinya. Sebagai seorang wanita modern, Wulan pasti tidak ingin jika nanti hidupnya akan menikah secara dijodohkan. Wulan sudah memilih mulai dari sekarang, dengan siapa nanti dirinya akan menikah.
Keesokan paginya, Bu Sekar memang sengaja tidak ikut suaminya untuk ke kebun atau ke peternakan. Bu Sekar dirumah ingin melihat bagaimana wajah orang bernama Candra itu. Bu Sekar pun pagi itu langsung keruang tamu sambil menunggu Candra datang. Tak lama setelah itu, Wulan yang bangun tidur langsung menuju keruang tamu dan tampak kaget ketika melihat ibunya sedang berada disana. “Selamat pagi nak...,” sapa Bu Sekar. “Loh..., Ibu kok masih dirumah?” tanya Wulan panik. “Loh..., Memangnya kenapa kalau ibu dirumah?” tanya Bu Sekar. Wulan pun menggeleng sambil menutupi rasa gugupnya. “Ti..., Tidak ibu..., Tidak apa-apa.” Jawab Wulan. “Sudah..., Kamu sarapan dulu, tadi pagi sekali ayahmu sudah berangkat untuk melihat peternakannya.” Ucap Bu Sekar yang tidak pergi dari ruang tamu itu. Tidak seperti biasanya Bu Sekar pagi ini tidak menemani Wulan sarapan. Sambil menengok kearah pintu, Wulan berjalan menuju ke meja makan untuk sarapan pagi. Tujuan Bu Sekar dirumah hanya untuk melihat wajah orang yang bernama Candra dan dikabarkan dekat dengan putrinya itu.
Sambil membaca majalah Bu Sekar menunggu kehadiran Candra dirumahnya. Bu Sekar tampak tak fokus membaca majalah itu karena menunggu Candra. Tak lama setelah itu, ada suara ketukan pintu dan ternyata Candra yang mengetuknya. Bu Sekar langsung membukakan pintu rumahnya dan disusul oleh Wulan dibelakang Bu Sekar. “Pagi Bu..., Ini s**u dari peternakan.” Sapa Candra kepada Bu Sekar. “pagi..., Apakah kamu yang bernama Candra?” tanya Bu Sekar yang terus memperhatikan Candra dari ujung kaki sampai kewajahnya ddngan seragam berwarna biru itu. “Iya bu.., saya Candra, saya karyawan pak Cokro yang bekerja di peternakan sebagai pengantar susu.” Jawab Candra dengan senyum manisnya. “baiklah..., Kamu bawa masuk saja s**u itu kedapur agar mbak Aminah mengolahnya.” Ucap Bu Sekar kepada Candra. Candra pun lalu masuk kedalam rumah Bu Sekar yang sangat luas itu menuju dapur untuk memberikan s**u itu kepada asisten rumah tangga Bu Sekar. Wulan dan Candra saling berpapasan dan hanya melirik saja satu sama lain.
Wulan yang ingin melangkahkan kakinya mengikuti Candra pun dihentikan oleh ibunya, “mau kemana kamu Wulan?” tanya Bu Sekar. “Tidak..., Tidak kemana-mana bu.” Jawab Wulan gugup. “Kalau begitu temani ibu duduk diruang tamu yuk, kita baca majalah fashion bulan ini.” Ucap Bu Sekar sambil berjalan lagi menuju ruang tamunya. Padahal Wulan ingin berbicara dengan Candra bahwa pagi ini dia tidak bisa mengantarnya mengantarkan s**u-s**u itu kepada para warga kampung karena dirumah sedang ada ibunya. Wulan celingukan kesana kemari terutama matanya tertuju kearah dapur. “Duh..., Sedang apa dia didapur sama mbak Aminah, kenapa dia lama sekali.” Ucap Wulan dalam hatinya. Bu Laras memperhatikan putrinya itu sambil menahan tawanya. “Kenapa Wulan?” tanya Bu Sekar. “Tidak..., Tidak apa-apa Bu.” Ucap Wulan sambil mengambil sebuah majalah untuk menutupi wajahnya.
“ibu.., susunya sudah saya berikan kepada mbak Aminah, saya permisi dulu, selamat pagi.” Ucap Candra sebel meninggalkan rumah Bu Sekar. Wulan tampak mengintip Candra dibalik majalah yang dibacanya itu. “Iya nak..., Terima kasih ya, hati-hati.” Ucap Bu Sekar sambil melirik kearah putrinya yang diam-diam mengintip Candra itu.
Saat Candra sudah pergi dari rumah Wulan, Wulan tampak menghela nafasnya tanda kelegaan dalam hatinya. “hei..., Kenapa?” tanya Bu Sekar. “Tidak apa-apa Bu..., Wulan kekamar dulu ya!” ucap Wulan yang langsung meletakkan majalahnya lalu langsung berlari masuk kekamarnya.
Dari situ Bu Sekar yakin bahwa putrinya sedang jatuh cinta kepada seorang pria. Bu Sekar menganggap bahwa Candra adalah orang yang baik, Bu Sekar bisa melihat dari gerak-gerik Candra yang sangat sopan dan patuh itu. Bu Sekar tidak masalah jika Wulan nantinya akan bersanding dengan putrinya, asalkan putrinya itu bahgia, Bu Sekar tidak merasa keberatan akan hal itu. Tapi Bu Sekar masih memikirkan suaminya yang mungkin tidak akan setuju jika beliau mendengar kabar ini. Beliau pasti tidak akan merestui putrinya yang telah mencintai seorang anak buruhnya. Bu Sekar masih memikirkan masa depan Wulan nantinya jika ayahnya menentang cintanya.