Mengagumi kekayaan

1076 Kata
“ayah.., kebun teh milik ayah ini juga sangat subur. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya kepada kebun teh milik ayah ini.” Ucap Wulan dengan bangga kepada ayahnya. “Ini nanti juga akan menjadi milikmu nak, semua yang ayah lakukan ini semuanya hanya untukmu.” Ucap pak Cokro sambil merangkul putrinya yang kala itu mereka sedang beristirahat di sebuah gubuk yang biasa dipakai untuk beristirahat para pekerja. Wulan lalu mengeluarkan ponselnya, berharap Candra menghubunginya atau mengirim sebuah pesan singkat kepadanya. Wajah Wulan agak sedikit kecewa karena Candra ternyata bel menghubunginya. “apa mbak Aminah belum memberikan nomor ponselku kepadanya ya?” tanya Wulan dalam hatinya. Pak Cokro yang melihat wajah putrinya yang sedang murung itu pun lantas bertanya kepadanya. “Ada apa nak? Apa kau tidak suka dengan harta milik ayah ini?” tanya pak Cokro. “Hhmmm..., Tidak ayah.., Wulan bahkan bangga punya ayah seperti ayah, ayah memang laki-laki pekerja keras dan bertanggung jawab terhadap keluarga.” Ucap Wulan memuji ayahnya. Walau kabar kedekatan Wulan dan Candra sudah sampai ke telinga Bu Sekar, tapi pak Cokro pun belum mendengar kabar tersebut karena pak Cokro masih sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai seorang ayah yang mempunyai seorang putri tunggal, tentunya pak Cokro tak menyia-nyiakan kegiatannya bersama putrinya selagi masih menikmati masa lajangnya. Pak Cokro pun tidak ingin jika Wulan menikah saat ini. Setelah mengantar s**u-s**u itu, Candra pun kembali ke peternakan untuk mengembalikan motor dan juga tas yang biasa digunakan untuk membawa s**u-s**u itu. Sampai dipeternakan, Candra melihat ayahnya yang sedang batuk-batuk itu lalu menghampirinya. “Bapak..., Bapak..., Istirahat dulu.” Ucap Candra sambil memegangi tubuh bapaknya dan membantu bapaknya untuk duduk di tempat istirahat yang tidak jauh dari peternakan milik pak Cokro itu. “bapak tidak apa-apa kok nak, sudah terbiasa seperti ini.” Ucap pak Raharjo. “Bapak.., kita ke dokter yuk?” ajak Candra. Pak Raharjo berusaha tersenyum agar putranya itu tenang. “Tidak perlu nak, bapak sehat-sehat saja kok.” Jawab pak Raharjo. Candra tidak tega bila bapaknya itu harus bekerja disaat badannya yang sedang sakit-sakitan seperti itu. Candra harus mencari cara agar bapaknya itu mau beristirahat dirumah agar kesehatannya bisa pulih kembali. Saat Candra dan bapaknya sedang berada di peternakan, munculah keluarga pak Cokro dari kejauhan. Tampak semua karyawan dipeternakan itu menyambut hangat pak Cokro dan juga keluarganya. Pandangan Candra mengarah kearah Wulan yang masih duduk diatas kuda peliharaannya. Dibantu dengan orang yang mengurus kuda-kuda keluarga pak Cokro, kuda Wulan yang berwarna putih itu diikat disebuah pohon. Wulan beserta pak Cokro dan juga Bu Sekar pun menuju kearah peternakan. Wulan melihat sapi-sapi milik ayahnya itu yang tampak terawat sempurna. “lihat nak..., Peternakan ini juga milikmu.” Ucap pak Cokro sambil merangkul putri semata wayangnya itu. Wulan tampak tersenyum melihat sapi-sapi itu, namun pandangan Wulan tertuju kepada pak Raharjo dan juga Candra yang sedang berada disana. “ayah..., Wulan ingin jalan-jalan kesana dulu.” Ucap Wulan yang langsung meninggalkan ayah dan ibunya lalu menghampiri pak Raharjo dan juga Candra. “selamat siang..,” sapa Wulan kepada mereka berdua. Wulan pun ingin mencium punggung tangan pak Raharjo, tapi pak Raharjo menarik tangannya. Pak Raharjo merasa tidak enak jika tangannya dicium oleh anak bosnya itu. “Non.., saya ijin istirahat sebentar ya,” ucap pak Raharjo kepada Wulan. “loh..., Bapak sakit?” tanya Wulan. “Tidak non..., Saya hanya agak lelah.” Jawab pak Raharjo. “Iya..., Silahkan bapak istirahat dulu. Bapak.., saya boleh bicara dengan Candra sebentar?” tanya Wulan sambil melirik Candra yang ada disebelah bapaknya itu. “Ada apa non? Apa putra saya melakukan kesalahan?” tanya pak Raharjo panik. Wulan lalu tersenyum kemudian menggeleng, “tidak pak..., Putra bapak ini bahkan bekerja dengan baik. Bolehkah saya bicara dengan Candra sebentar saja?” ucap Wulan meminta ijin lagi. “syukurlah..., Boleh boleh..., Silahkan non.” Ucap pak Raharjo. “Candra.., kita bicara disebelah sana saja ya, dibawah pohon itu.” Ucap Wulan sambil menunjuk salah satu pohon yang tidak jauh dari peternakan miliknya. Candra pun mengikuti langkah Wulan dengan membiarkan Wulan berjalan didepannya. Wulan lalu duduk dibawah pohon itu, sementara ayah Wulan masih berbincang dengan orang yang mengurus sapi-sapi miliknya. “Apa yang ingin kau katakan kepadaku sehingga mengajakku berbincang hanya berdua saja?” tanya Candra sambil menundukkan kepalanya. Candra memang tidak mampu jika harus melihat wajah Wulan yang sangat mempesona itu. “Apakah kau sudah menerima nomor teleponku dari mbak Aminah?” tanya Wulan. “Sudah..., Memangnya kenapa?” tanya Candra. “Tidak apa-apa, lantas kenapa kau tak menghubungiku?” tanya Wulan. “untuk apa aku menghubungimu?” tanya Candra. “sekedar bertanya kabar apakah tidak bisa?” ucap Wulan ketus. Candra pun lalu tersenyum. Wanita yang ada disampingnya itu ternyata mempunyai sikap seperti itu. Wulan yang tampak manja itu pun sebenarnya membuat Candra semakin gemas kepadanya. “Non Wulan, saya ini sedang bekerja, saya jadi tidak sempat, lagi pula mbak Aminah baru memberikan nomor teleponmu tadi pagi.” Jawab Candra beralasan. “baiklah kalau begitu, jangan lupa nanti malam hubungi aku ya, aku pergi dulu.” Ucap Wulan yang langsung berdiri dan langsung berlari meninggalkan Candra lalu menghampiri ayahnya. “dari mana saja kamu nak?” tanya pak Cokro. “ayah..., Seharusnya ayah memberikan perhatian yang lebih terhadap para pekerja yang ada disini. Ayah tidak tahu kan kalau pak Raharjo sakit?” tanya Wulan. “pak Raharjo sakit itu sudah dari dulu nak, memangnya pak Raharjo mengadu kepadamu?” tanya pak Cokro kepada putrinya itu. “Tidak ayah..., Aku hanya merasa kasihan kepada pak Raharjo.” Ucap Wulan. “kalau begitu, kau boleh menyuruh pak Raharjo untuk beristirahat saja dirumahnya, ayah akan mengijinkannya.” Ucap pak Cokro lagi. “ayah memang sangat baik, terima kasih ya ayah.” Ucap Wulan sambil mencium pipi ayahnya itu. Wulan tidak akan menemui pak Raharjo pada saat itu. Wulan akan membicarakan hal itu kepada Candra nanti malam saja saat Candra menghubunginya. Wulan tampak bahagia hari ini bisa melihat dan berbincang dengan Candra. Entah kenapa Wulan bisa menyukai Candra daripada teman-teman yang pernah dekat dengannya. Wulan yang sudah pernah menjelajah dunia dan bersekolah di Amerika pun tak ada satu pun teman yang membuatnya sampai jatuh cinta seperti yang dirasakan Wulan saat ini. “Wulan..., Ayo pulang nak, kita harus istirahat agar kamu juga tidak lelah dan sakit.” Ucap pak Cokro kepada Wulan yang masih melamun sambil membayangkan nanti malam mau membahas apa jika Candra telah menghubunginya. Wulan pun kembali menghampiri ayahnya dan mereka kembali ke kuda mereka masing-masing yang akan mengantar mereka kerumah. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN