Pendekatan antara Wulan dan Candra pun sudah sampai ke telinga Bu Sekar. Bu Sekar tapi tidak memperdulikan dengan siapa anaknya itu dekat. Selagi Wulan belum menceritakan sosok Candra kepadanya, itu artinya berita yang beredar hanya sebuah gosip belaka.
Malam itu, saat pak Cokro tidak ada dirumah, hanya ada Bu Sekar dan juga Wulan. Mereka pun berada diruang keluarga sambil menonton televisi bersama. “Wulan..., Ibu dengar dari para mbak-mbak, setiap pagi kamu pergi dengan anak pak Raharjo itu untuk mengantar s**u?” tanya Bu Sekar. “Oh..., Jadi mbak-mbak sudah membicarakan ini?” ucap Wulan. “Ibu tidak mempermasalahkan hal ini nak, ibu hanya tidak ingin jika nanti ayahmu dengar, beliau pasti akan marah besar.” Ucap Bu Sekar. “Memangnya apa yang membuat ayah sampai marah besar Bu?” tanya Wulan. “Ya mungkin karena keluarga pak Raharjo tidak sepadan dengan keluarga kita secara materi. Kalau ibu sendiri sudah pasti tidak akan mempermasalahkan hal itu. Tapi ayahmu?” ucap Bu Sekar. “Ibu tidak perlu khawatir, lagi pula Wulan dan Candra tidak berpacaran Bu, kami hanya sebagai atasan dan juga bawahan saja. Lagi pula Wulan kasihan kepada Candra, dia harus keliling dari satu desa ke desa lainnya dengan motor bututnya itu dan juga membawa berliter-liter s**u. Ibu apa tidak membayangkan betapa beratnya pekerjaannya?” tanya Wulan. Sebagai seorang ibu dari Wulan, Bu Sekar sudah mengetahui bahwa putrinya itu kini sedang jatuh cinta kepada seorang pria putra dari pak Raharjo itu. “ibu tahu maksud baik kamu nak, ya lanjutkan saja yang menurut kamu baik, tapi ingat, jangan sampai ketahuan oleh ayahmu ya.” Ucap Bu Sekar lalu meninggalkan Wulan yang masih duduk diruang keluarga dengan televisi yang sedang menyala.
Melihat sang ibu pergi dari hadapannya, Wulan pun lalu mematikan televisi dan masuk kedalam kamarnya. Didalam kamar itu Wulan menjatuhkan tubuhnya di kasurnya yang empuk itu. Wulan menatap langit-langit kamarnya sambil membayangkan wajah Candra yang telah membuatnya jatuh cinta itu. Wulan tak memandang anak siapa Candra itu, yang jelas Wulan sedang jatuh cinta kepadanya.
Sementara itu, Candra juga merasakan hal yang sama. Candra tersenyum sendiri ketika mengingat Wulan. Mereka saling jatuh cinta. Saat Candra masih tertegun sendirian di depan teras rumahnya, tiba-tiba pak Raharjo pun menghampiri Candra dengan duduk disebelah Candra. Pak Raharjo yang melihat putra satu-satunya itu tersenyum sendiri pun tahu jika putranya itu sedang jatuh cinta. “Candra...,” sapa pak Raharjo. “eh.., bapak, bapak malam-malam begini diluar, dingin loh pak, nanti bapak sakit.” Ucap Candra. “Ada apa kok malam-malam begini senyum-senyum sendiri seperti itu?” tanya pak Raharjo. “Ah..., Tidak pak..., Candra hanya melamun saja memikirkan pekerjaan.” Jawab Candra. “mikir pekerjaan atau mikir anak pak Cokro?” tanya pak Raharjo. Candra seketika terkejut saat bapaknya menyebut kata anak pak Cokro. “loh..., Bapak ini lho tahu darimana?” tanya Candra. “hahaha..., Nak.., terserah kamu mau jatuh cinta dengan siapapun. Tapi berfikirlah baik-baik sebelum jatuh cinta kepada non Wulan. Non Wulan dan kita itu berbeda nak, dia anak orang kaya, dan kamu anak bapak, bapak ini tidak punya apa-apa. Bapak hanya tidak ingin jika anak bapak ini kecewa karena ayahnya miskin dan tidak sepadan dengan non Wulan.” Ucap pak Raharjo lalu masuk lagi kedalam rumah.
Candra lalu berfikir bahwa apa yang telah dikatakan bapaknya itu benar. Apa kata pak Cokro jika dirinya mencintai putri tunggalnya itu. Terjadi dilema didalam diri Candra mengenai hal itu. Tapi mau bagaimana lagi, Candra pun tidak bisa memilih dengan siapa dirinya harus jatuh cinta. Kini hatinya memilih orang yang disebut berat bagi keluarganya. Sudah pasti pak Cokro akan menolaknya mentah-mentah jika Candra ingin meminang Wulan sebagai istrinya nanti.
Candra tidak mau ambil pusing, dia lalu masuk kedalam rumahnya dan langsung membaringkan tubuhnya dikasur sambil berusaha untuk tidak mengingat Wulan. Bagai punuk merindukan bulan, sepertinya itu kata yang cocok untuk Candra kepada Wulan. Candra langsung memejamkan matanya agar esok hari dirinya bisa melupakan perasaan cintanya terhadap Wulan.
Sementara itu setiap pagi saat Candra mengantarkan s**u kerumah Wulan, hanya mbak Aminah yang nampak dan menerima s**u yang setiap pagi diantarkan oleh Candra. Candra lalu melihat kearah dalam rumahnya untuk mencari dimana Wulan. Mbak Aminah yang melihat Candra berperilaku seperti itu pun langsung ditegur oleh mbak Aminah. “Cari non Wulan?” Tanya mbak Aminah. “tidak mbak..., Saya permisi dulu ya mbak, saya harus mengantar s**u-s**u itu.” Ucap Candra yang berbalik badan untuk kembali ke motor bututnya. “Hei..., Candra, non Wulan berada dikebun kopi bersama dengan kedua orang tuanya.” Teriak mbak Aminah kepada Candra. Candra pun menghentikan langkahnya tapi tidak menengok kearah mbak Aminah. Mbak Aminah lalu berlari menghampiri Candra. “Tunggu Candra! Tadi non Wulan berpesan untuk memberikan nomor teleponnya kepada kamu. Ini nomor telepon non Wulan, kamu bisa menghubunginya setiap saat.” Ucap mbak Aminah sambil memberikan nomor telepon Wulan kepada Candra. “terima kasih mbak.” Ucap Candra dengan senyum sumringahnya.
Mbak Aminah yang melihat tingkah laku Candra yang seperti itu pun lalu tersenyum dan berkata, “dasar anak muda, kalau sedang jatuh cinta memang menyenangkan.” Ucap mbak Aminah berkata sendiri.
Candra pun langsung menyimpan nomor ponsel Wulan lalu Candra pergi meninggalkan rumah Wulan dan melakukan aktivitasnya seperti biasanya dengan penuh semangat. Candra seperti mendapat lampu hijau bahwa Wulan juga menerimanya dengan baik. Tapi sebagai seorang yang biasa saja, Candra mulai berfikir dengan kata-kata bapaknya semalam bahwa untuk tidak berharap lebih atas rasa cintanya itu. Balik lagi bahwa Candra bukan orang yang sepadan dengan Wulan secara materi, apalagi ayah dan ibu Candra hanya seorang buruh yang bekerja ikut dengan pak Cokro. Kekayaan pak Cokro jauh diatas dari keluarga Candra yang hanya menjadi seorang pekerja. Ayah Candra pun tidak mempunyai apa-apa, bahkan untuk bisa makan setiap hari saja mereka sudah sangat bersyukur. Saat dulu ketika Candra sedang bekerja di kota, kala itu pak Raharjo sedang sakit-sakitan, keluarga pak Raharjo bisa makan hanya dengan uluran tangan para tetangganya. Bisa dibayangkan betapa miskinnya keluarga mereka. Maka dari itu Candra memutuskan untuk mengundurkan diri dari kantornya agar bisa merawat kedua orang tuanya yang sudah sakit-sakitan itu apalagi ayahnya yang sudah bolak balik keluar dari rumah sakit dengan biaya dari pemerintah.
Candra berusaha tidak memikirkan hal itu, bahkan untuk mengirim pesan singkat kepada Wulan saja, Candra memikirkannya berkali-kali. Candra takut akan nanti jika cintanya terhalang oleh restu orang tua Wulan.