Mulai pendekatan

1099 Kata
Setiap pagi seperti biasanya, Candra selalu mengantar s**u kerumah pak Cokro. Wulan pagi ini memang sengaja bangun pagi agar bisa bertemu dengan Candra. “Selamat pagi...,” Sapa Candra sambil mengetuk pintu rumah Wulan. Wulan pun segera bergegas menemui Candra dipintu rumahnya. “pagi mas...,” Jawab Wulan dengan senyum manisnya. Candra yang baru saja melihat Wulan pun menundukkan wajahnya karena malu dan tidak ingin memandang wajah ayu anak bosnya itu. “Non..., Ini s**u segar dari peternakan.” Ucap Candra kepada Wulan tanpa memandang wajahnya. “bukankah saya sudah bilang bahwa tidak perlu memanggil saya dengan kata non!” ucap Wulan. “Maaf non..., Saya belum terbiasa.” Jawab Candra. “Itu kan..., Non lagi non lagi!” ucap Wulan ketus. “Maaf maaf..., Sekali lagi saya minta maaf.” Ucap Candra. “oh iya..., Candra, setelah mengantar s**u kerumahku, kau mau mengantarnya kemana lagi?” tanya Wulan. “Seperti biasa, saya mengantar s**u ke kampung ini, lalu menjualnya di kampung sebelah dan kampung lainnya. Memangnya ada apa non?” tanya Candra. “Saya boleh ikut?” tanya Wulan. “Ikut? Non Wulan mau ikut?” tanya Candra dengan wajah kagetnya itu. “Iya..., Memangnya tidak boleh?” tanya Wulan. “Ya..., Boleh saja non, tapi bagaimana caranya non? Motornya penuh dengan susu.” Tanya Candra bingung. “motor kamu tinggal saja disini, kita pergi menggunakan mobilku.” Ucap Wulan yang langsung bergegas kekamarnya untuk mengambil kunci mobilnya. Saat masuk kedalam kamarnya, Wulan tidak langsung mengambil kuncinya melainkan berdadan terlebih dahulu agar kelihatan lebih segar dan tidak terlihat masih mengantuk. Candra yang resah menunggu Wulan diluar rumahnya pun seperti sedang tidak sabar dan takut terlambat mengantarkan s**u. “Ayo kita berangkat!” ucap Wulan yang langsung keluar rumah menuju mobilnya. Candra terpesona ketika melihat Wulan yang tampak cantik dan wangi itu. Bau parfum Wulan semerbak menggairahkan Candra. “Ayo kemari! Itu pindahkan saja di bagasi.” Ucap Wulan. Candra pun tersadar dari lamunannya dan langsung memindahkan s**u sapi itu kedalam bagasi mobil Wulan. “Kamu bisa menyetir?” tanya Wulan. Candra pun mengangguk. “Baiklah..., Kamu saja yang menyetir ya.” Ucap Wulan yang langsung masuk kedalam kursi penumpang duduk disebelah Candra. Candra pun punya cara menghilangkan rasa gugupnya dengan cara menarik nafasnya berkali-kali dan berusaha untuk tidak melihat wajah Wulan. Wulan merasa malah Candra mengacuhkannya. “apakah aku ini kurang cantik? Atau dia tidak suka wanita?” batin Wulan bertanya-tanya. Dalam mobil itu tampak hening, Candra pun berusaha untuk fokus menyetir dan sama sekali tidak melihat wajah Wulan. “Hei..., Sudah berapa lama kamu kerja sama ayahku?” tanya Wulan memulai percakapan didalam mobil itu. “Semenjak bapakku sakit, aku yang awalnya merantau langsung pulang kerumah.” Jawab Candra yang masih tidak mau melihat kearah Wulan. “Lalu..., Kenapa kau mau menjadi seorang pengantar s**u? Bukankah kau juga lulus sarjana?” tanya Wulan. “iya non.., itu semua saya lakukan demi bapak saya, disini tidak ada lapangan pekerjaan selain bekerja sebagai pemetik teh, kopi atau pekerja peternakan. Kebetulan waktu itu yang sedang kosong adalah pengantar s**u, saya langsung ambil pekerjaan itu, daripada saya tidak bekerja.” Jawab Candra. “kamu bisa tidak panggil saya dengan nama saya, nama saya Wulan. Coba kamu bilang Wulan.” Ucap Wulan tampak kesal saat Candra memanggilnya dengan sebutan nona. Candra tampak menahan senyumnya, “ih..., Ketawa lagi.” Ucap Wulan kesal. “kamu ini kan anak bosku, lebih baik saya panggil kamu dengan sebutan nona, menurutku itu lebih pantas disematkan kepadamu.” Jawab Candra. “para asisten rumah tangga dirumah saya juga saya larang memanggil sana dengan kata non. Saya tidak mau dipanggil seperti itu! Kita ini sama-sama manusia, tidak ada yang lebih unggul. Lagi pula jarak usia kita juga tidak beda jauh kan?” ucap Wulan. “baiklah baiklah..., Saya akan berusaha memanggilmu dengan sebutan Wulan.” Ucap Candra yang tidak ingin berdebat dengan seorang wanita. Wulan tampak merasa senang ketika membantu Candra mengantar s**u-s**u itu kepada warga sekitar. Yang membuat Wulan senang adalah, warga kampung yang selalu berterima kasih dan senyum sumringah ketika diberi beberapa s**u oleh Wulan. Setelah mengantar s**u, Wulan dan Candra pun kembali kerumah Wulan dengan mobil itu. Saat perjalanan menuju rumah Wulan. “Besok aku ikut lagi mengantar s**u ya, sepertinya ini akan jadi rutinitas ku.” Ucap Wulan. “Baiklah.., tapi kau harus bangun pagi.” Ucap Candra. “apa kau pikir aku tidak pernah bangun pagi?” tanya Wulan yang agak tersinggung dengan ucapan Candra itu. Candra pun kembali tersenyum, “bukan itu maksudku, apakah setiap wanita memang seperti dirimu?” tanya Candra. “iya! Memangnya kenapa?” tanya Wulan lagi sedikit membentak. “lalu apa sebenarnya yang membuat laki-laki bisa sangat mencintai seorang wanita jika wanita itu galak?” tanya Candra. “Apa! Kau bilang aku galak?” tanya Wulan lagi yang tampak emosi. “tidak tidak..., Aduh aku bingung menjelaskannya kepadamu. Baiklah aku akan diam saja.” Ucap Candra gugup. Wulan yang melihat Candra seperti itu pun tahu bahwa Candra sedang takut kepadanya. Candra sendiri tidak mau mencari masalah dengan anak bos. “daripada nanti aku diadukan ke ayahnya, lebih baik aku mengalah.” Batin Candra. “hei..., Kenapa kamu tidak ingin mempunyai usaha sendiri?” tanya Wulan. “iya.., memang itu yang aku inginkan, tapi aku sedang mengumpulkan uang untuk modal usahaku nanti dengan bekerja seperti ini, sebagai seorang pengantar susu.” Jawab Candra. Wulan sangat terkesan dengan jawaban Candra itu. Walau seorang sarjana, tapi Candra tidak malu jika harus bekerja sebagai seorang pengantar s**u dan yang paling membuat Wulan merasa terpesona dengan Candra adalah, Candra menomor satukan kedua orang tuanya. Bagi Wulan sangat jarang dijaman sekarang ini anak muda yang peduli dengan orang tuanya. Setelah sampai dirumah Wulan. “Terima kasih ya, besok jangan lupa ajak aku lagi.” Ucap Wulan kepada Candra. Candra pun mengangguk dan memberikan kunci mobil Wulan kepada pemiliknya. Wulan pun melihati Candra sampai Candra meninggalkan rumahnya dengan motor bututnya. Wulan lalu masuk kedalam kamarnya dan langsung membaringkan tubuhnya dikasurnya, “walau lelah, tapi aku suka. Aku mulai tertarik kepada pria itu.” Ucap Wulan dalam hatinya sambil tersenyum. Saat Wulan sedang membayangkan wajah Candra, tiba-tiba ada yang mengetuk kamarnya, “non Wulan...,” ucap salah satu pembantunya. “Iya mbak.., masuklah, tidak dikunci.” Jawab Wulan dari dalam kamarnya. “haduh..., Non Wulan kemana saja? Tadi bapak mencari non Wulan, mbak mau jawab apa bingung non, non sendiri tidak pamit mau kemana.” Ucap pembantu Wulan. “maaf deh mbak, saya tadi lupa mau memberi tahu mbak. Besok saya tidak akan membuat mbak bingung lagi. Maaf ya mbak.” Ujar Wulan kepada pembantunya itu.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN