Hadiah untuk wulan

1061 Kata
Pak Cokro dan Bu sekar pun kekamar mereka setelah Wulan mau menerima liontin batu permata langka itu. Pak Cokro dan Bu sekar duduk dikasur yang sama sambil berdekatan. “Bu..., Putri kita itu sangat lucu ya, coba lihat, berapa banyak anak yang ingin menjadi anak bapak dengan kekayaan yang bapak miliki ini. Tapi Wulan malah merasa bapak ini biasa-biasa saja. Putri kita itu hanya ingin kasih sayang dari ayahnya saja. Apa dia tidak mengerti jika ayahnya memberikan semuanya adalah wujud dari sebuah kasih sayang?” Ucap pak Cokro membicarakan putrinya itu. “pak..., Putri kita memang berbeda dari yang lainnya. Putri kita mempunyai hati yang sangat mulia. Apakah bapak ingat saat putri kita menyelamatkan seorang anak yang hampir tenggelam di danau itu? Bahkan dia tidak memperdulikan nyawanya sendiri demi menolong anak ingusan itu.” Ucap Bu Sekar kepada suaminya. Pak Cokro seketika terdiam ketika mengingat hal itu. Wulan adalah penghambat jalurnya untuk mencari tumbal lewat anak-anak kecil yang tenggelam itu. Walau pak Cokro ini adalah orang yang kejam dan tega menumbalkan anak-anak kecil didesanya tapi pak Cokro sangat menyayangi anak semata wayangnya itu. Pak Cokro telah menumbalkan keempat anaknya demi kekayaan yang sekarang ini telah didapatnya. Saat pak Cokro dan Bu Sekar sedang memadu kasih dikamarnya, tiba-tiba Wulan mengetuk pintu kamar mereka. “ayah..., Ibu...,” ucap Wulan memanggil nama mereka dengan lembut disertai dengan ketukan pintu kamar kedua orang tuanya. Pak Cokro pun membuka pintu kamarnya, “ada apa nak?” tanya pak Cokro lembut. “Ayah..., Besok Wulan boleh keliling kebun kopi dengan menaiki kuda?” tanya Wulan. “Sayang..., Kau baru saja sembuh, alangkah baiknya jika beristirahat dulu dirumah ya nak, lusa kita boleh jalan-jalan mengelilingi kebun apapun yang kau mau.” Ucap pak Cokro. Tanpa protes, Wulan langsung kembali kekamarnya dengan kekecewaan karena larangan pak Cokro itu. Melihat putrinya bersikap seperti itu, pak Cokro menggelengkan kepalanya. “anak itu memang beda, hahaha...,” ucap pak Cokro sambil terkekeh lalu menghampiri istrinya kembali. Bu Sekar yang tidak menemui putrinya itu ingin tahu apa yang dikatakan oleh putrinya tadi sehingga membuatnya tersenyum. “Ada apa pak?” tanya Bu Sekar. “Itu si Wulan, baru saja sembuh tapi ingin sekali keliling kebun kopi dengan menaiki kuda. Ayah melarangnya dan menjanjikan besok lusa saja naik kudanya. Tapi dia tidak protes sama sekali malah langsung pergi kekamarnya.” Cerita pak Cokro kepada istrinya. “Putri kita itu memang istimewa ya pak,” ucap Bu Sekar. Mereka pun kembali membaringkan tubuhnya. Malam ini pak Cokro pun harus menemui sosok Lulun samak sesembahannya itu. “Bu..., Nanti malam bapak mau kumpul dengan bapak-bapak untuk ronda malam ini.” Ucap pak Cokro. “Bapak ini kenapa masih ikut kegiatan ronda, sedangkan esok paginya bapak harus pergi ke kebun atau ke peternakan.” Bu Sekar memprotes suaminya. “yah..., Kalau bapak tidak ikut ya tidak enak Bu, walau bapak bisa membayar orang untuk melakukan ronda malam tapi bapak merasa tidak enak saja dengan warga kampung ini. Mereka kan juga baik terhadap keluarga kita.” Ucap pak Cokro meyakinkan istrinya. Pak Cokro sangat lancar berbohong sehingga istrinya percaya saja kalau suaminya itu membohonginya. Bu Sekar adalah seorang wanita yang sangat tidak peduli terhadap suaminya. Walau pak Cokro mempunyai wanita lain pun Bu Sekar tidak akan memarahi pak Cokro selagi jatah untuk Bu Sekar tidak kurang sedikitpun. Pak Cokro tidak punya waktu untuk melakukan perselingkuhan seperti yang pernah dikatakan Bu Sekar. Pak Cokro adalah orang yang sangat tergila-gila dengan harta dan tidak memikirkan ingin mempunyai istri lagi. Bagi pak Cokro Bu Sekar sudah cukup apalagi pak Cokro mempunyai seorang putri yang sangat dikasihinya. Malam pun telah tiba, kini saatnya pak Cokro harus menemui sosok Lulun samak itu. Pak Cokro mulai berjalan menuju kearah danau sambil membawa lilin yang ada ditangannya untuk penerangan menuju kesana. Walau waktu itu masih pukul sembilan malam, namanya di kampung atau didesa pasti jam sembilan sudah sangat sepi mencekam. Sampailah pak Cokro kedanau itu lalu meletakkan lilin didepannya yang sedang bersila. Pak Cokro mulai membacakan mantra pemanggil sosok Lulun samak itu. Tak lama setelah pembacaan mantra itu, angin kencang bertiup tapi tidak mematikan pelita yang dibawa pak Cokro itu. “Hahahaha..., Cokro..., Kau menemuiku juga!” sapa sosok Lulun samak itu. “iya..., hamba kesini untuk berterima kasih kepadamu atas kemurahan hatimu telah mengembalikan putriku lagi.” Jawab pak Cokro. “Hahaha..., Perkara anakmu itu tentu saja mudah bagiku, Cokro. Tapi ingat..., Kalau anakmu ikut campur lagi dengan urusanku! Lihat saja, anakku itu yang akan menanggung akibatnya!” ucap Lulun samak itu sambil terkekeh. “aku sudah memberikanmu darah segar bukan? Lalu apa upah yang harus aku dapatkan setelah kau makan anak kecil yang telah aku berikan itu?” ucap pak Cokro meminta harta pada Lulun samak itu. “hahaha..., Aku sudah memberikanmu uang, Cokro. Kau bisa pulang sekarang dan lihatlah dibawah kasur tempat kau tidur dengan istrimu, lihatlah disana, aku telah memberikanmu upah yang setimpal.” Ucap Lulun samak itu. “Hmm..., Baiklah..., Terima kasih, hamba ucapkan terima kasih sekali lagi.” Ucap pak Cokro sambil menunduk hormat kepada sosok itu. Saat pak Cokro mendongakkan kepalanya, sosok itu sudah pergi meninggalkan pak Cokro dan air danau kembali tenang seperti semula. Pak Cokro pun lalu membawa pelitanya lagi untuk dibawa pulang kerumahnya lagi. Pak Cokro pulang dengan hati gembira, hartanya akan bertambah banyak lagi setiap menumbalkan seseorang kepada Lulun samak itu. Pak Cokro sudah sampai didepan rumahnya dan masuk kedalam kamarnya. Sesampainya dikamar, pak Cokro pun melihat istrinya sudah terlelap tidurnya. “bu..., Bangunlah sebentar..., temani bapak menghitung uang bapak yuk.” Ucap pak Cokro. Mendengar kata uang, tentu membuat Bu Sekar antusias dan langsung membuka matanya lebar-lebar. “Uang? Mana uangnya pak?” tanya Bu Sekar. “uangnya ada dibawah kasur ini Bu...,” ucap pak Cokro sambil menunjuk kearah kasurnya. Bu Laras pun langsung berusaha berdiri dan membantu pak Cokro mengangkat kasurnya. Ketika kasur diangkat, betapa terkejutnya Bu Sekar melihat banyak uang dibawah kasur itu. “Waooo..., Banyak sekali uangnya pak...,” ucap Bu Sekar yang terpesona dengan uang-uang itu. “iya..., Makanya bantu bapak untuk menghitungnya ya Bu.” Ucap pak Cokro. “Uang sebanyak ini kenapa tidak bawa ke bank saja? Lebih aman pak, daripada disimpan dibawah kasur seperti ini, nanti malah diambil tuyul atau dimakan rayap.” Ucap Bu Sekar. “hahaha..., Ibu ini ada-ada saja. Ayo kita hitung.” Ucap pak Cokro sambil mulai memegang uang itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN