pengunduran diri Bu Indah

1049 Kata
Bu Indah ingin mengatakan hal penting kepada Bu Sekar mengenai dirinya yang ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya. Bu Indah menemui besannya yang sedang sibuk didalam kantor. “Permisi Bu Sekar, yang Bu sedang sibuk?” Tanya Bu Indah. “Tidak..., Ada apa Bu?” Tanya Bu Sekar heran. “Begini Bu..., Ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada Bu Sekar.” Ucap Bu Indah. Bu Sekar tampak kaget melihat wajah Bu Indah yang terlihat serius tapi ketakutan. “Bu..., Sini duduklah dan bicarakan baik-baik.” Jawab Bu Sekar. Bu Indah pun lalu duduk persis didepan Bu Sekar. “Bu..., Saya ingin mengundurkan diri bekerja disini.” Ucap Bu Indah lalu menunduk. Bu Sekar pun menghela nafasnya. Bu Sekar pun penasaran dengan keinginan Bu Indah. “Ada apa Bu? Kenapa Bu Indah tiba-tiba ingin mengundurkan diri? Apakah ada masalah di perkebunan ini?” tanya Bu Sekar. “tidak Bu..., Tidak ada masalah apapun, hanya saja saya memang sudah lelah bekerja dan ingin dirumah saja. Sejak suami saya meninggal, saya rasanya sudah malas bekerja sedangkan Candra juga menyuruh saya untuk berhenti saja dan juga Candra ingin saya membantunya menjual ayam gorengnya.” Ucap Bu Indah. “Hmmm...., Baiklah kalau itu memang mau Bu Indah, saya tidak bisa melarang Bu Indah, Bu Indah boleh mengundurkan diri dari perkebunan ini. Semoga Bu Indah sehat selalu dan semakin lancar mengelola bisnisnya.” Ucap Bu Sekar. Bu Indah tampak lega sudah membicarakan tentang pengunduran dirinya dari perkebunan tempatnya bekerja. Namun, banyak yang membicarakan Bu Indah tentang pengunduran dirinya. Banyak juga yang mengatakan Bu Indah memanfaatkan Candra sebagai alat penghasil uang untuknya. Mereka hanya tidak tahu jika Bu Indah menghindari keluarga pak Cokro untuk sama sekali tidak bekerja atau memakan hasil dari usaha milik pak Cokro. Bu Indah juga sangat kasihan dengan Bu Sekar. Bu Sekar memang sama sekali tidak mengetahui bahwa suaminya adalah seorang pemuja. “kasihan Bu Sekar, beliau tidak mengetahui bahwa suaminya mencari kekayaan dengan jalan pintas.” Gumam Bu Indah. Setelah pamit dengan teman-temannya, Bu Indah pun pulang kerumahnya dengan perasaan sedikit berat karena sudah sangat lama Bu Indah menekuni pekerjaan itu. Bu Indah juga mempunyai seorang bos yang sangat baik sekaligus kini telah menjadi besannya. Sesampainya dirumah, Bu Indah merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya. Bu Indah memikirkan apa yang nanti beliau lakukan setelah tidak bekerja lagi disana. Seperti yang Bu Indah baru saja katakan, Bu Indah akan membantu putranya berjualan didepan rumahnya daripada tidak mengerjakan apapun. Sambil menunggu putranya pulang kerumahnya, Bu Indah teringat masa lalu awal mula bekerja di perkebunan kopi milik Bu Sekar. “Assalamualaikum?” suara salam Candra membuyarkan lamunan Bu Indah. “Waalaikum salam, eh kamu sudah pulang nak.” Sapa Bu Indah. Candra pun mencium punggung tangan ibunya. “iya Bu..., Kalau ibu bagaimana? Apa ibu sudah bicara kepada Bu Sekar mengenai hal ini?” tanya Candra. “Hmm..., Sudah nak, Bu Sekar pun juga langsung menyetujuinya, tapi ibu sedikit berbohong kepadanya mengenai alasan ibu mengundurkan diri dari perkebunan itu. Ibu bilang bahwa ibu ingin berjualan ayam saja, ibu sudah lelah jika harus bekerja di perkebunan.” Ucap Bu Indah bercerita. “iya..., Ibu sudah tepat memberikan alasannya, Bu..., Ibu kan sekarang sudah tidak bekerja, kebutuhan ibu biar Candra yang menanggungnya seratus persen, ibu jangan sungkan-sungkan jika meminta sesuatu kepada Candra, Candra pasti bisa mengabulkannya.” Ucap Candra sambil tersenyum. Bu Indah pun lalu mengangguk pelan dan membalas senyuman Candra. Setelah Candra selesai beres-beres, Candra pun berpamitan untuk pulang kerumah istrinya sementara seperti biasanya, Bu Indah dirumah bersama dengan Ade, laki-laki yang kini telah resmi menjadi adik angkat Candra. Bu Indah pun sudah menganggap Ade seperti putranya sendiri, bahkan mereka juga saling bercerita mengenai kejadian yang mereka alami. Candra sampai dirumahnya sekitar pukul tiga sore dan langsung menuju kekamarnya. “Loh..., Mas..., Mas dari mana saja? Kok sudah mandi?” tanya Wulan. “Sayang, coba kamu cek ponselmu, aku menulis pesan singkat disana bahwa aku kerumah untuk berbincang dengan ibu sebentar. Oh iya sayang, aku juga ingin memberi tahumu bahwa ibu sekarang sudah tidak lagi bekerja di perkebunan kopi milik Bu Sekar.” Ucap Candra mulai bercerita. Sontak membuat Wulan pun kaget, kenapa tiba-tiba Bu Indah langsung mengundurkan diri dari pekerjaannya. “tidak, tidak ada apa-apa, hanya saja ibu sudah lelah.” Ucap Candra menambahi. “ya mas..., Memang Bu Indah sudah saatnya berhenti bekerja, usianya yang tak lagi muda tak memungkinkan fisiknya kuat seperti dulu.” Ucap Wulan. Untuk saat ini Candra dan Bu Indah masih ingin merahasiakan tentang ayahnya yang mengambil kekayaan dengan cara memuja. Sekitar pukul lima sore, Bu Sekar dan pak Cokro pun pulang dari aktivitasnya, Bu Sekar dan pak Cokro langsung memanggil Candra untuk mengetahui lebih lanjut mengenai alasan Bu Indah mengundurkan diri dari perkebunan kopi miliknya. “Candra..., Ayah dan ibu memanggilmu hanya untuk bertanya dan mengetahui alasan apa yang membuat Bu Indah mengudurkan diri?” tanya Bu Sekar dengan mata tajamnya menatap menantunya. “Saya yang menyuruhnya Bu, saya tidak tega dengan ibu yang sudah semakin tua tapi masih bekerja.” Ucap Candra memberi alasan. “hmmm..., Tapi bagi ibu, alasanmu itu tidak masuk akal. Kau menyuruh ibumu untuk keluar dari tempatnya bekerja, tapi kamu menyuruh ibumu untuk membantu mengurusi daganganmu, apa itu tidak sama saja?” ucap Bu Sekar menghardik. Candra pun menghela nafasnya, Candra ingin menghadapi semua ini dengan hati yang tenang. “Kalau soal membantu saya itu keinginan ibu saya sendiri Bu, kalau menurut Bu Sekar hal ini tidak masuk akal, saya juga bisa melarang ibu saya untuk tidak melakukan apapun ketika dirumah. Bu, maaf sekali saya harus mengatakan hal ini. Ibu saya sudah sejak muda adalah wanita pekerja keras, tentu saja beliau akan merasa bingung jika tidak melakukan kegiatan apapun.” Ucap Candra dengan tenang. Tampaknya Bu Sekar sangat puas dengan jawaban Candra dan tidak ingin memperpanjang masalah itu lagi. Hari ini Bu Sekar melihat sosok laki-laki sejati ada pada diri Candra. Candra juga laki-laki bertanggung jawab seperti yang pernah diceritakan Wulan kepadanya. “baiklah..., Kau boleh kembali kekamarmu lagi, kita tidak bisa juga melarang seseorang untuk tetap bekerja dengan kita, benar begitu kan pak?” ucap cap Bu Sekar sambil melirik ke arah suaminya. Pak Cokro hanya mengangguk ketika menanggapi pernyataan istrinya itu. Walau pak Cokro diam, pak Cokro agak curiga dengan Candra dan juga ibunya mengenai Bu Indah yang mengundurkan diri secara mendadak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN