Air suci

1063 Kata
Candra dan Bu Indah pun sudah sampai dirumah Wulan sekitar pukul sepuluh pagi. Mereka berdua bermalam dirumah Abah Salim kemarin. “Assalamualaikum?” Sapa Candra ketika akan memasuki rumah pak Cokro. Biasanya kalau pagi, rumah pak Cokro memang tampak sepi. “Waalaikum salam.” Jawab mbak Aminah yang kebetulan mendengar suara Candra. “Wulan dimana mbak?” Tanya Candra. “Non Wulan ada didapur, ia sedang memasak.” Jawab mbak Aminah dengan senyumnya. Bu Indah pun duduk diruang tamu sambil melihat ke sisi sudut rumah pak Cokro. Memang tidak terlihat jika pak Cokro ini seorang pemuja jin, namun tidak mungkin juga jika Abah Salim membohonginya. Candra dan Wulan pun keluar dari kamarnya menuju ruang tamu tempat Bu Indah duduk. “Ibu...,” sapa Wulan ramah kepada ibu mertuanya. “Iya nak..., Bagaimana keadaanmu?” tanya Bu Indah. “Hmm..., Wulan baik-baik saja Bu.” Jawab Wulan. “nak..., Ini ada titipan dari Abah Salim, beliau bilang bahwa kau harus meminum air ini agar tidak ada lagi roh jahat yang menggodamu lagi.” Ucap Bu Indah sambil memberikan sebotol air kepada menantunya. Tanpa berpikir lagi, Wulan pun langsung meminum air putih yang diberikan oleh Bu Indah. Saat itu pula Wulan merasa tubuhnya terasa segar tidak seperti saat meminum air putih pada umumnya. Setelah selesai minum, Bu Indah juga mengajak Wulan untuk membaca surat alfatihah setiap pagi sebelum minum air putih. “nak..., Kau harus bersabar, Abah berpesan agar kau meminum air putih setiap pagi sebelum makan, tapi sebelum meminumnya, kau harus membacakan surat alfatihah sebanyak tujuh kali. Kau mengerti?” tanya Bu Indah. “Baik Bu..., Wulan mengerti.” Jawab Wulan tanpa ragu. “semua ini Abah yang memberi tahu, semoga kau selalu dilindungi oleh yang maha kuasa.” Ucap Bu Indah. Wulan tampak terharu dengan ibu mertuanya yang begitu perhatian kepadanya. Namun Bu Indah sama sekali tak membahas tentang pak Cokro yang sudah berlaku curang dengan memuja jin yang bisa memberinya kekayaan. Bu Indah berbincang dengan Wulan sebelum pulang kerumahnya. Terkadang Bu Indah juga menceritakan masa mudanya kepada Wulan. Wulan pun juga antusias mendengarkan cerita Bu Indah. “Baiklah kalau begitu, ibu agak lelah, ibu pulang dulu ya nak, sampaikan salam ibu kepada pak Cokro dan juga Bu Sekar.” Ucap Bu Indah. Candra dan Wulan juga mengantar Bu Indah samoai ke halaman depan rumah mereka. “Mas..., Ayo istirahat dikamar saja, wajahmu tampak lelah.” Ucap Wulan. Candra pun tersenyum gemas terhadap istrinya yang nampak cantik itu. Mereka pun beristirahat didalam kamar mereka sambil berbincang. Setelah Candra tertidur, Wulan pun kembali meneruskan masakannya yang sudah terbengkalai sejak beberapa jam yang lalu. Setidaknya nanti jika suaminya bangun, semua masakan sudah siap untuk dimakan. Sesampainya didapur, ternyata masakan Wulan sudah matang, mbak Aminah yang memasaknya. “Wah..., Mbak Aminah, terima kasih ya mbak, saya tadi tidak sempat memasak karena suami baru saja datang bersama mertua.” Ucapnya. “iya non, tidak apa-apa. Non Wulan istirahat saja, biar nanti saya yang menyiapkan makanannya.” Ucap mbak Aminah. Wulan pun kemudian kembali kekamarnya dan melihat suaminya yang sedang lelap tertidur. Wulan juga ikut berbaring disamping suaminya sambil terus menatap wajah suaminya yang sedang tertidur itu. Wulan pun merasa bahwa dirinya adalah orang yang beruntung karena sudah memiliki Candra dan menikah dengannya. Wulan berpikir tidak ada manusia seberuntung dirinya. Selain tampan, Candra juga sangat menyayanginya dan juga menjadi seorang pria pekerja keras. Perjuangan Candra untuk mendapatkan dirinya juga patut diacungi jempol, mengingat keduanya bukan berasal dari strata yang sama. Sambil membelai rambut suaminya, Wulan pun berkata, “mas..., Maafkan aku ya, hampir satu tahun pernikahan kita, tapi aku juga belum bisa memberikanmu keturunan.” Bisiknya pelan. Wulan sendiri juga merasa kasihan kepada Candra mengenai keturunannya itu. Anak yang diidam-idamkannya saat berada didalam kandungan, ternyata gugur secara tiba-tiba. Wulan tahu, keguguran yang dialaminya sangat tidak masuk akal, namun Wulan tak ingin memikirkan hal itu karena semua sudah terjadi dan bayinya juga tidak akan kembali lagi. Saat Wulan memikirkan sesuatu sambil membelai rambut suaminya, Candra pun membuka matanya. Wulan tampak kaget dan malu saat Candra membuka matanya sedangkan dirinya masih menatap wajah suaminya. Wulan pun langsung salah tingkah dan berhenti membelai kepala suaminya. “sayang..., Ternyata kamu ada disini?” tanya Candra lalu memeluk istrinya. Wulan pun hanya tersenyum dan diam saja. “mas kok bangun?” tanya Wulan. “Hm...., Tiba-tiba aku sangat lapar,” jawabnya. “Kalau begitu, ayo kita makan dulu mas, ini juga sudah siang menjelang sore.” Ucap Wulan. “sebentat, aku masih ingin memeluk istriku.” Ucap Candra manja. Candra pun tak melepas pelukannya dan malah pelukan Candra semakin erat. Wulan hanya diam saja saat suaminya memeluknya. Mereka kembali berbincang, Candra juga ingin mengajak Wulan untuk pindah rumah, namun Candra mengurungkan niatnya, Candra tak ingin istrinya itu menjadi tersinggung atas ucapannya. Candra pun akan mengajak Wulan pindah rumah setelah Wulan bisa hamil kembali. Bukan hanya untuk melindungi anaknya nanti, tapi juga untuk melindungi Wulan sendiri karena Abah Salim sudah berpesan bahwa Wulan juga adalah seorang calon tumbal ayahnya sendiri. Setelah saling berpelukan, Wulan pun menyiapkan makanan untuk suaminya dan juga menemani suaminya makan. Dirumah itu, mereka hanya berdua bersama dengan para pembantu yang sibuk berbenah atau memasak. Sementara itu pak Cokro dan Bu Sekar akan pulang kerumah sekitar pukul empat atau lima sore sesuai keinginan mereka. Hari ini Candra dan Wulan mempunyai waktu berduaan agak lama karena kedua orang tua Wulan masih bekerja. Saat duduk diatas kasur, Candra pun memulai pembicaraannya, “sayang..., Kau masih ingin mempunyai anak, bukan?” tanya Candra agak ragu. Candra tak ingin pertanyaannya membuat istrinya tersinggung atau menjadi beban. “iya mas..., Aku masih ingin mempunyai anak, mas Candra juga kan?” tanya Wulan. “iya, tentu saja, ayo kita buat sekarang.” Ucap Candra seraya mengecup bibir istrinya. Wulan pun hanya tersenyum diam menikmati buaian suaminya. Maklum, mereka juga sehari semalam tidak tidur bersama. Keduanya saling merindukan satu sama lainnya. Wulan menikmati cumbuan suaminya, terkadang ia juga membalasnya. Sikap Candra yang lembut dan begitu mesra membuat Wulan sangat nyaman jika berada didekat Candra. Candra memperlakukan Wulan dengan sangat baik dan selalu meminta ijin sebelum melakukan aktivitasnya. Bagi Wulan, Candra adalah laki-laki yang paling sempurna yang diturunkan Tuhan hanya untuknya, khusus untuk dirinya saja. Sebagai sepasang suami istri, mereka juga saling mempunya rasa keberuntungan karena telah memiliki satu sama lainnya. Bagi Candra, ia sangat beruntung bisa memiliki Wulan, begitu juga dengan Wulan yang merasa sangat beruntung memiliki Candra. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN