“ibu! Bapak!” Suara Candra mengagetkan kedua orang tuanya yang baru saja terlelap dari tidurnya. Candra sudah sadar akibat bermimpi bertemu orang-orang yang telah meninggal dan keempat kakak Wulan. “Nak..., Kau sudah sadar...,” Ucap Bu Indah menangis terharu. “Memangnya ada apa denganku Bu?” Tanya Candra. “Kami juga tidak tahu persis kejadiannya nak, tiba-tiba saat pagi ketika kami ingin membangunkanmu untuk sholat subuh, kau sudah tidak sadarkan diri disana.” Ucap Bu Indah bercerita. Bu Indah dengan lembut menyapu keringat Candra yang bercucuran itu. “Ibu dan bapak yang mengantarku kemari?” tanya Candra. “Tidak nak..., Awalnya kita diantar oleh kang Asep ke puskesmas, lalu tidak tahu kenapa non Wulan dan juga kang Asep tiba-tiba berada di puskesmas tak lama kemudian. Non Wulan yang membawamu kemari.” Ungkap Bu Indah. Candra tampak terdiam sejenak mengingat tentang mimpinya. “Bu..., Apakah Wulan punya kerabat? Kakak atau adik?” tanya Candra tiba-tiba. Bu Indah tampak bingung dengan Candra ketika menanyakan silsilah keluarga Wulan, “setahu ibu, Wulan tidak punya adik. Tapi dulu sebelum non Wulan lahir, Bu Sekar sering keguguran.” Ucap Bu Indah bercerita. Candra lalu menghela nafasnya, Candra mengingat akan mimpinya yang terasa sangat nyata itu. Didalam mimpi itu Candra melihat fisik dari orang yang mengaku sebagai kakak Wulan itu. Mereka tampak lusuh, compang-camping dan tubuhnya dipenuhi oleh luka. “Nak..., Ada apa?” tanya Bu Indah membuyarkan lamunan Candra. “Bu..., Aku baru saja bermimpi, ada orang yang mengatakan bahwa dia adalah kakak Wulan, tapi dalam mimpi itu, orang itu tampak lusuh dan seperti sedang menderita.” Ucap Candra mulai bercerita. “nak..., Sudahlah..., Lebih baik kau tidur saja.” Ucap Bu Indah mengalihkam pembicaraan. Candra pun menuruti keinginan ibunya. Candra lalu kembali berbaring dan memejamkan matanya kembali.
Bu Indah tidak ingin Candra bercerita lebih jauh lagi. Mulai dari inilah Bu Indah dan pak Raharjo mulai curiga terhadap keluarga Wulan tapi mereka tidak mau menuduh sesuatu yang tidak ada buktinya. “Bu..., Sudah..., Tidak usah berfikir lebih jauh lagi.” Bisik pak Raharjo. Bu Indah lalu mengangguk pelan seakan tahu apa maksud perkataan pak Raharjo itu.
Keesokan paginya, Candra sudah merasa lebih baik, tubuhnya sudah sehat dan tidak merasa sakit apapun. Saat itu pula dirinya menelepon Wulan. “halo..., Ini Candra?” tanya Wulan bersemangat. “Iya..., Ini aku.” Jawab Candra singkat tapi diikuti dengan senyumnya. “Aku baru saja bersiap-siap akan kerumah sakit pagi ini.” Ucap Wulan. “Wulan..., Terima kasih ya...,” ucap Candra. “Oh..., Terima kasih untuk apa? Karena aku mengantarmu kerumah sakit? Bukankah itu sudah menjadi tugasku sebagai kekasihmu? Lalu untuk apa kau berterima kasih?” suara Wulan yang terlalu banyak tanya itulah yang membuat Candra selalu merindukannya. “Bisakah kau bertanya satu persatu? Aku bingung menjawabnya.” Ucap Candra. “hmmm..., Baiklah baiklah..., Aku akan kerumah sakit saja untuk menanyakan satu persatu kepadamu. Da.....,” ucap Wulan yang langsung menutup teleponnya. Candra lalu tersenyum senang, sudah lama rasanya dia tidak mendengar suara Wulan yang manja itu.
“Nak..., Sarapan lah terlebih dahulu,” ucap Bu Indah yang turut merasakan kebahagiaan putranya yang baru saja menelepon Wulan. Bu Indah lalu menyiapkan makanan untuk Candra didepan pangkuannya. “Biar Candra makan sendiri Bu...,” ucap Candra. “iya nak..., Sudah beberapa hari ini kamu tidak makan, kau hanya mendapat asupan makanan lewat selang saja.” Ucap Bu Indah. “Sampai sebegitu parahnya ya Bu, tapi Candra bersyukur Bu, kalau tidak sakit Candra tidak akan bisa sarapan pagi kan Bu...,” ucap Candra lalu tersenyum dan mulai mengunyah makanannya. Bu Indah dan pak Raharjo pun juga tersenyum. Mereka tampak senang bisa melihat putranya yang sudah sehat kembali.
Setelah makan, datanglah dokter untuk memeriksa Candra. Dokter itu mengatakan bahwa Candra sudah sehat dan besok sudah boleh pulang kerumahnya. Mereka tambah berbahagia atas ucapan yang dikatakan oleh dokter itu. “Bu..., Lebih baik besok ibu pulang terlebih dahulu. Ibu siapkan saja syukuran untuk kesembuhan putra kita. Ibu ambil saja uang tabungan bapak dibawah lipatan baju-baju bapak didalam lemari dikamar kita.” Ucap pak Raharjo. “baik pak..., Kita memang harus mengadakan syukuran atas kesembuhan putra kita, jangan sampai kembali kerumah sakit lagi ya pak.” Ucap Bu Indah. “bu..., Lebih baik uang syukuran untuk Candra memakai uang Candra saja.” Ucap Candra. “tidak nak..., Uangmu kan bisa kau pergunakan untuk modal usaha. Pakai uang bapak saja tidak apa-apa, bapak masih ada tabungan kok nak.” Ucap pak Raharjo. Candra pun lalu mengangguk menyetujui ayahnya.
Tak lama setelah keluarga mereka berbincang, datanglah Wulan yang masuk kedalam ruangan tempat Candra dirawat. “pagi.. , ibu dan bapak...,” sapa Wulan dengan senyumnya yang manis. “eh..., Non Wulan, selamat pagi. Kok sudah sampai pagi-pagi sekali?” Ucap pak Raharjo berbasa-basi. “iya pak.., eh iya pak..., Ini ada makanan buat bapak dan juga ibu. Ada bebek bakar buatan mbak Aminah untuk sarapan bapak dan ibu. Pasti bapak dan ibu belum makan kan?” tanya Wulan sambil menyodorkan makanannya. “Nak Wulan ini lho, kok repot-repot sekali, pakai bawain makanan segala.” Ucap Bu Indah sambil tersenyum. “Ayo kita makan Bu..., Wulan juga mau makan disini bareng ibu dan juga bapak.” Ucap Wulan.
Wulan memang sengaja tidak makan dirumah dikarenakan Wulan ingin makan bersama kedua orang tua kekasihnya itu. Wulan mulai makan bersama mereka berdua. Wulan merasa sangat bersyukur ketika sedang berada ditengah keluarga Candra. Walau keluarga Candra hidup dengan pas-pasan, bahkan bisa dikatakan miskin, tapi keluarga Candra sangat pandai bersyukur. Bahkan Bu Indah dan pak Raharjo tak pernah sama sekali tersisa makanannya ketika makan. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan Wulan, Wulan terkadang marah jika masakan asisten rumah tangganya tidak cocok dilidahnya. Wulan terkadang memilih makan diluar rumah ketika Wulan tidak ingin makan makanan dirumahnya. Wulan pun terkadang juga membuang sisa makanannya ketika perutnya sudah merasa kenyang. “nak..., Nak Wulan.” Suara Bu Indah membuyarkan lamunan Wulan. “Iya Bu..., Ada apa Bu? Apa makanannya tidak enak?” tanya Wulan agak panik. Bu Indah pun lalu tersenyum, “enak kok nak..., Terima kasih ya nak, kami sangat bersyukur bisa mengenal nak Wulan dalam kehidupan kami. Karena nak wulan juga sudah banyak membantu keluarga kami. Besok Candra sudah bisa pulang kerumah. Oh iya nak..., Nanti ibu boleh kan ikut nak Wulan pulang terlebih dahulu? Ibu mau menyiapkan syukuran atas kesembuhan Candra dirumah, biarkan besok bapak yang membantu Candra mengemasi barang-barang untuk pulang.” Ucap Bu Indah. “ibu ini lho..., Kok mau ikut nak Wulan, ibu kan bisa pulang sendiri.” Ucap pak Raharjo. “ah..., Bapak ini. Tidak apa-apa pak, biar nanti ibu pulang bersama saya. Mobil saya masih muat kalau hanya untuk ibu kok pak. Hehehe...,” ucap Wulan sambil terkekeh.