Apa yang harus Wulan lakukan

1077 Kata
“baik Bu..., Sebentar lagi Wulan pulang!” Ucap Wulan dalam teleponnya lalu menutupnya. Wulan pun berpamitan dengan keluarga pak Raharjo dan berjanji akan kerumah sakit keesokan harinya. Wulan lalu mengajak Asep untuk segera pulang kerumahnya. Diperjalanan pun Wulan hanya terdiam memikirkan kekasihnya yang sedang terbaring lemah dirumah sakit itu. “Kang..., Candra pasti sembuh kan?” Tanya Wulan kepada sang supir. Ada keraguan di wajah Wulan mengenai kesehatan Candra. “Kalo saya yakin non, Candra itu orang yang kuat, dia pasti bisa berjuang untuk kesembuhannya.” Ucap Asep menyemangati majikannya itu. “aku kasihan dengan kedua orang tua Candra, kang. Mereka sangat sedih dan tampak bingung. Itu semua terlihat dari wajah mereka.” Ucap Wulan lagi. Asep tak menjawab ungkapan Wulan itu, Asep juga tampak bingung mengenai kesehatan Candra. Sepertinya baru saja kemarin Asep bertemu dengan Candra dan Candra tampak sehat-sehat saja, sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa Candra sakit. Sampailah Wulan dirumahnya pukul enam sore. Wulan pun langsung masuk kekamarnya dan langsung mandi karena seharian ini dia dirumah sakit untuk mengurus semua keperluan Candra. Setelah selesai mandi, Wulan pun langsung menuju meja makan. Kedua orang tuanya sudah sampai disana, “ayo makanlah dulu nak...,” ucap Bu Sekar kepada putrinya. Wulan hanya mengangguk tak menjawab dengan suaranya. Wulan masih merasa sedih dengan kejadian yang baru saja menimpa Candra. Kekasihnya itu kini tergolek lemah tak berdaya diatas ranjang rumah sakit. Suasana tampak hening dimeja makan itu. Pak Cokro pun juga memperhatikan kesedihan yang mendera putrinya itu. “Wulan...., Candra sakit apa?” tanya pak Cokro yang berpura-pura peduli. “Belum ditemukan penyakitnya.” Jawab Wulan dengan nada datarnya. Wulan tidak menghabiskan makanannya dan langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang masih duduk menikmati makanannya. “mau kemana kamu nak?” tanya Bu Sekar saat Wulan berdiri dari kursinya. “Wulan agak capek Bu, ijinkan Wulan beristirahat.” Ucap Wulan melirik ayahnya. Bu Sekar yang melihat gerak-gerik Wulan yang sepertinya sedang memendam amarah pun membiarkan Wulan yang langsung masuk kekamarnya. “sepertinya putri kita itu sedang marah, kesal, jengkel.” Ucap Bu Sekar kepada suaminya. Pak Cokro tak menjawab ungkapan istrinya itu. Pak Cokro pun tampak bingung dengan perilaku putrinya itu. Pak Cokro juga tidak peduli dengan keadaan Candra, kalau bisa Candra biarlah mati saja agar putrinya, Wulan tidak jadi menikah dengan laki-laki miskin itu. Wulan yang langsung masuk kedalam kamarnya pun merebahkan tubuhnya di kasur dan mulai sedih memikirkan kekasihnya itu. Wulan menangis sesenggukan bila teringat akan Candra yang tergolek lemas tak berdaya itu. “Dia tidak salah apa-apa, kenapa dia yang menjadi korban atas keserakahan ayahku sendiri.” Ucap Wulan dalam hatinya. Wulan adalah tipe wanita yang tidak bisa menangis didepan umum, Wulan selalu bisa memendam kesedihannya dan menumpahkan semuanya ketika berada didalam kamarnya. Kamar Wulan adalah kamar yang berkesan bagi Wulan, tangis, tawa dan suasana apapun ia rasakan didalam kamar itu. Kamar itu adalah kamar saksi bisu hidup Wulan. Saat Wulan sedang menangis pun, tiba-tiba sang ibu mengetuk pintu kamarnya. “Wulan..., Wulan...,” panggil sang ibu lembut. Wulan tak menjawab dan tak menghiraukan panggilan ibunya. Ia terus menangisi keadaan Candra. Bu Sekar pun berhenti memanggil nama putrinya yang tidak menjawab panggilannya. Bu Sekar kembali kekamarnya dengan wajah lesunya. “ada apa Bu?” tanya pak Cokro. “putri kita itu sekarang sudah mempunyai dunia sendiri pak. Bahkan dia terlihat sedih saat kekasihnya itu sakit dan dirawat dirumah sakit.” Ucap Bu Sekar. “Memangnya Candra sakit apa Bu? Kenapa dia sampai dirawat dirumah sakit? Mereka itu kan orang miskin, kalau sampai berobat kerumah sakit, itu artinya dia punya penyakit yang agak serius Bu.” Ucap pak Cokro. “Ibu tidak tahu pak. Sebentar pak, bukankah Wulan seharian ini bersama dengan Asep, coba bapak panggil Asep, kita tanya saja kepadanya.” Ucap Bu Sekar. Pak Cokro pun langsung menelepon Asep untuk segera datang kekamarnya. Tak lama setelah itu, Asep pun datang kekamar pak Cokro dan Bu Sekar. “Iya pak..., Ada apa bapak memanggil saya?” tanya Asep. “Kamu seharian ini kan yang mengantar Wulan, kamu sudah pasti tahu kan, penyakit apa yang menyerang tubuh Candra?” tanya pak Cokro. “Iya pak..., Saya memang seharian ini bersama non Wulan, tapi sepertinya dokter belum menemukan penyakit yang menggerogoti Candra, pak. Saya hanya mendengar bahwa Candra hanya kurang cairan saja. Begitu yang saya dengar.” Ucap Asep. “Oh..., Jadi dia hanya dehidrasi saja. Ya sudah, sana kembalilah ke pekerjaanmu.” Ucap pak Cokro kepada Asep. Asep pun lalu pergi meninggalkan kamar pak Cokro setelah memberi tahu pak Cokro mengenai hal itu. “hanya dehidrasi Bu..., Mungkin putri kita saja yang terlalu khawatir.” Ucap pak Cokro kepada istrinya. Bu Sekar dan pak Cokro pun melanjutkan perbincangannya dikamarnya dan membahas apapun peristiwa yang terjadi hari ini. Malam itu, sekitar pukul sebelas, Candra menggigil dan badannya terasa sangat panas sekali. Candra sama sekali belum siuman dari pingsannya sejak tubuh tadi. “Pak..., Candra badannya panas sekali. Bapak sama panggil suster.” Ucap Bu Indah panik. Pak Raharjo pun langsung bergegas memanggil suster jaga malam itu. Suster itu pun membawa termometer untuk memeriksa suhu tubuh Candra. Benar saja Candra sangat panas. Temperatur tubuhnya mencapai tiga puluh sembilan derajat celsius. “pak..., Saya teleponkan dokter dulu untuk bertanya obat apa yang harus diberikan kepada pasien.” Ucap suster itu. Pak Raharjo pun mengangguk pasrah. Pak Raharjo juga tampak panik dengan keadaan yang telah menimpa Candra malam itu. Obat hanya untuk meredakan panasnya saja, jika efek obat itu sudah habis, Candra akan kembali panas dan sampai sekarang belum sadarkan diri. Candra masih berada dalam alam bawah sadarnya, bisa dikatakan Candra sedang bermimpi tentang warga kampung yang sudah meninggal didanau itu. Dalam mimpi itu, Candra melihat banyak orang, ada wanita, anak kecil, pria, bahkan dalam mimpi itu Candra bermimpi bertemu dengan keempat kakak Wulan yang telah tiada. Candra diingatkan oleh orang yang mengaku sebagai kakak Wulan itu untuk berhati-hati dengan pak Cokro. Kalau Candra tidak berhati-hati, maka nasibnya akan sama seperti keempat kakak Wulan dan juga orang-orang yang ditemuinya itu. “banyaklah berdoa agar kau mempunyai pelindung, Candra.” Ucap salah seorang yang mengaku sebagai kakak Wulan. “Memangnya apa yang akan terjadi kepadaku?” tanya Candra kepada pria yang baru saja ditemuinya itu. “kau akan menjadi calon tumbal selanjutnya.” Ucap pria itu lalu menghilang entah kemana. Candra pun langsung terbangun dari tidurnya dengan keringat yang bercucuran ditubuhnya. Candra seakan kaget melihat tangannya yang sudah terpasang selang infus. Candra melihat ke sekeliling lalu memanggil kedua orang tuanya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN