“ayah .., kita sewa pengacara saja agar masalah ini cepat selesai.” Ucap Wulan memberikan saran. Pak Cokro tak menjawab. Pak Cokro masih merasa bingung dengan keadaan dan tak tahu apa yang harus dilakukannya lagi. Polisi bahkan menyuruh pak Cokro untuk menjaga peternakannya pada malam hari agar tidak terjadi kejadian yang sama seperti sebelumnya. “Wulan..., Ayah masih bingung dengan para polisi itu. Mereka bilang tidak ada tanda-tanda penganiayaan terhadap ketiga pemuda yang tewas dipeternakan kita itu, tapi yang membuat hal ini semakin rumit adalah pihak keluarga meminta sejumlah uang kepada ayah untuk ganti rugi.” Ucap pak Cokro. “apa? Ganti rugi? Bukankah menurut polisi mereka berencana untuk mencuri sapi-sapi milik ayah? Kenapa mereka menuntut ganti rugi? Ini termasuk pemerasan, ayah! Ayah harus tegas. Wulan akan menghubungi teman Wulan untuk mengurus masalah ini!” ucap Wulan lalu meninggalkan pak Cokro.
Wulan yang tampak emosi langsung kekamarnya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi salah seorang temannya yang kini berprofesi sebagai seorang pengacara untuk membantu ayahnya menyelesaikan masalah ini. Tak menunggu lama, teman Wulan itu langsung mengangkat teleponnya. Tanpa basa-basi terlebih dahulu, Wulan juga langsung mengatakan bahwa dirinya meminta bantuan kepada temannya itu. Teman Wulan juga menerimanya dan berniat untuk membantu ayah Wulan agar masalah yang mendera pak Cokro cepat teratasi.
Setelah Wulan berbincang dengan temannya yang kini sudah menjadi pengacara itu, Wulan lalu menemui ayahnya lagi. Terlibat dari pintu kamar Wulan bahwa pak Cokro sedang duduk melamun memikirkan hal itu. Perlahan Wulan menghampiri ayahnya yang sedang termenung diruang tamu itu. “ayah..., Ayah bersabarlah..., Besok teman Wulan akan terbang kemari untuk membantu ayah.” Ucap Wulan menghibur ayahnya. Wulan juga terlihat sedih saat melihat wajah pak Cokro yang tampak masam akibat memikirkan hal itu. “Wulan..., Ayah tidak mau menuntut kembali orang yang ingin menjebloskan ayah kedalam penjara itu. Ayah hanya ingin agar masalah ini bisa cepat selesai.” Ujar pak Cokro.
Wulan pun juga mengatakan kepada ayahnya bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan orang yang telah menuntut ayahnya. Sekali lagi Wulan telah membantu ayahnya untuk mendapatkan keadilannya. “Wulan..., Terima kasih ya nak..., Kalau saja kau bukan putri ayah, bagaimana nasib ayah sekarang ini.” Ucap pak Cokro yang memang bangga dengan putrinya itu. Menurut pak Cokro, putrinya cukup bijak untuk menyelesaikan sebuah masalah. Walau usianya baru saja dua puluh satu tahu, tapi pemikiran Wulan sudah sangat matang seperti orang dewasa diatas usianya. Wulan lalu mengajak ayahnya untuk makan malam dan mengatakan pada ayahnya untuk tidak memikirkan hal itu lagi. “ayah tidak perlu memikirkan hal itu lagi ya, ayah tidak akan kenapa-kenapa. Wulan jamin ayah dan keluarga korban akan berada di jalur damai tanpa embel-embel uang.” Ucap Wulan menenangkan ayahnya.
Mereka pun makan malam bersama seperti biasanya. Bu Sekar juga tahu semua masalah yang sedang mendera pak Cokro. Bu Sekar percaya selagi ada Wulan, semua masalah yang kini tengah menyelimuti keluarga mereka akan segera berlalu. Bu Sekar yakin bahwa putrinya itu akan selalu mempunyai cara untuk memecahkan masalah-masalah yang ada. “Wulan..., Setelah selesai makan, Wulan istirahat ya.” perintah Bu Sekar kepada putrinya. “iya baiklah..., Ayah dan ibu juga ya.” Balas Wulan.
Setelah selesai makan malam, Wulan langsung masuk kedalam kamarnya seperti yang tengah diperintahkan oleh ibunya. Tentunya Wulan tak langsung tidur karena saat itu jam masih menunjukkan pukul tujuh lewat sedikit. Wulan lalu duduk dikasurnya sambil mengutak-atik laptopnya dan memeriksa keuangan hari ini. Sebenarnya Wulan tak pernah membawa pekerjaannya setelah sampai dirumah, namun kali ini Wulan hanya iseng saja. Wulan lalu membuka-buka tentang salon dan juga bridal untuk nikahannya nanti yang akan dilaksanakan tak lama lagi. Karena ayah Wulan menginginkan acara pernikahan selama tiga hari tiga malam, tentunya Wulan juga akan mencari orang yang akan meriasnya selama tiga hari itu.
Setelah puas melihat-lihat di laptopnya, Wulan merasakan kantuk yang teramat berat. Matanya seakan tak ingin membuka lagi. Wulan lalu bermaksud untuk mengistirahatkan tubuhnya yang seharian ini lelah bekerja. Wulan juga tak mendengar jika Candra telah meneleponnya berkali-kali. Wulan hari ini merasa sangat lelah ditambah dengan ayahnya yang kini sedang didera masalah kematian tiga pemuda di peternakannya itu. Sementara itu, pak Cokro ingin mengutarakan kebingungannya dengan Lulun samak itu. Pak Cokro keluar dari dalam rumahnya secara mengendap-endap agar semua orang yang berada didalam rumahnya tidak mendengar dan curiga kepadanya. Setelah dirasa cukup aman, pak Cokro lalu berjalan agak cepat menuju danau itu.
Sampailah pak Cokro ditepi danau. Walaupun malam itu belum terlalu larut, kamar mandi umum yang pernah dibangun Wulan tampak sepi semenjak ada kedua remaja yang tewas disana akibat sempet seperti yang telah dituduhkan kepada warga. Pak Cokro seklias seperti melihat ada sepasang kekasih yang berada dikamar mandi itu namun pak Cokro tak menghiraukannya. Pak Cokro fokus kepada tujuannya yaitu untuk menemui Lulun samak itu agar mendapatkan saran. Pak Cokro lalu duduk bersila dengan kedua tangan yang disatukan didepan dadanya. Setelah membaca mantra ya, Lulun samak itu pun datang menemuinya diiringi suara air danau yang berisik karena tertiup angin. “Ada apa Cokro?” tanya Lulun samak itu dengan suara yang menggema. “aku ingin meminta saran atas masalah yang saat ini tengah hadir dalam kehidupan keluargaku atas kematian kepada ketiga pemuda yang kau bunuh dipeternakan milikku.” Ucap pak Cokro mulai menceritakan masalahnya. “kau tenang saja Cokro, setelah kau pulang dari danau ini, masalahmu akan langsung selesai dan kau tak perlu memikirkan hal itu lagi. Ketiga pemuda itu sudah bersamaku dan menjadi pengikutku.” Ucap Lulun samak itu lalu pergi meninggalkan pak Cokro sendirian. Pak Cokro sama sekali belum beranjak dari tempat duduknya. Pak Cokro lalu menghela nafasnya dan berharap apa yang dikatakan Lulun samak itu cepat terkabul.
Pak Cokro lalu pulang kerumahnya dengan berjalan santai sambil memikirkan masalahnya. Pak Cokro tampak heran dengan Lulun samak itu, sepertinya Lulun samak itu tampak mudah menyelesaikan masalah yang sedang menghinggapi pak Cokro itu. Pak Cokro lalu membaringkan tubuhnya disamping sang istri setelah sudah sampai berkomunikasi dengan Lulun samak itu. Pak Cokro lalu memejamkan matanya seperti apa yang telah diperintahkan oleh Lulun samak itu kepada pak Cokro. Pak Cokro yang malam itu tak bisa tidur dengan nyenyak pun terus berusaha memejamkan matanya agar keesokan harinya pak Cokro bisa menjalani aktivitas seperti biasanya. Pak Cokro lalu berbalik badan dan memeluk tubuh sang istri.