Tersentak Candra pun kaget karena mimpi buruk yang tengah menghinggapinya. Candra lalu melihat kearah jam dindingnya, pukul empat pagi. Candra pun langsung mengambil air wudhu untuk melakukan Shalat sunah sebelum subuh dan juga akan dilanjutkan dengan Shalat Subuh. Setelah Shalat, Candra mendoakan kedua orang tuanya agar kedua orang tuanya dilindungi oleh Yang mahakuasa. Hanya itu yang bisa Candra lakukan, Candra juga berdoa atas umur panjang kedua orang tuanya. Candra tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada kedua orang tuanya seperti yang ia lihat di mimpinya. “Candra..., Kau sudah Shalat? Ibu baru saja akan membangunkan dirimu.” Ucap Bu Indah kepada Candra saat melihat Candra sedang duduk bersila menghadap kearah kiblat. “iya ibu..., Candra baru saja selesai.” Ucap Candra. Candra tak ingin menceritakan mimpinya kepada ibu dan juga ayahnya. Candra tak ingin kedua orang tuanya khawatir akan mimpi yang baru saja menghinggapi Candra. Candra tetap berpikir positif walau mimpi itu adalah mimpi buruk baginya. Tak ingin mengingat mimpi itu, setelah selesai shalat, Candra pun langsung bergegas ke dapur untuk menggoreng ayam-ayam yang akan diperdagangkan nanti. Kira-kirs pukul lima pagi, Candra sudah memulai menggoreng ayam-ayamnya. Biasanya para karyawannya akan datang pukul sembilan pagi, agak siang memang karena biasanya mereka bisa efektif jika berdagang pukul sembilan pagi sampe pukul lima sore.
Candra selalu memasrahkan ayam gorengnya kepada ibunya, “ibu..., Candra titip dulu, nanti pukul sembilan pasti mereka akan datang untuk mengambil ayam-ayam ini, masing-masing kantong isinya ada seratus potong ayam goreng. Ini dan bapak kalau ingin makan ya makan saja, tinggal ambil.” Ucap Candra sebelum berjualan ayam gorengnya. Setiap pagi sekitar pukul tujuh Candra selalu berkeliling kampung terlebih dahulu sebelum menjualnya kekampung lain. Sementara anak buahnya berjualan di pinggir jalan raya, pasar dan juga tempat keramaian lainnya dengan cara membuka lapak mereka. Walau hatinya gusar, Candra tetap bersemangat untuk memulai dagangannya itu.
Tujuan utama Candra setelah berkeliling kampung adalah untuk menemui Wulan terlebih dahulu untuk memberi Wulan ayam goreng buatannya. Sejak Candra berjualan, tak sekalipun Wulan mencicipi ayam goreng milik Candra. Ini juga Candra yang memaksa untuk memberikannya kepada Wulan. Wulan awalnya menolak dan lebih ingin membelinya saja, tapi Candra bersikeras agar Wulan tidak membayarnya. Bukannya ingin menghina, Wulan malah ingin menghargai hasil jerih payah Candra selama ini dengan berdagang dengan cara membeli ayam goreng milik Candra. Wulan sebenarnya juga sudah bosan kalau hanya memakan ayam, tapi mau tak mau Wulan tetap harus mencicipinya untuk menghargai pemberian dari Candra.
Pukul sembilan pagi, Candra sudah menunggu Wulan dikantor tempat biasa Wulan bekerja. Candra melihat tanda-tanda Wulan dengan kuda kesayangannya. Terlihat wajah Candra cerah dengan senyumnya yang menambah nilai ketampanannya. “Kenapa pagi sekali?” tanya Wulan dengan senyumnya. “aku tidak ingin terlambat.” Ucap Candra masih menatap wajah cantik kekasihnya itu. Wulan lalu tersenyum geli melihat Candra, “harusnya kau mengepel, menyapu, memasak kalau datang sepagi ini. Hahaha...,” ucap Wulan bercanda karena Candra datang sangat pagi sekali. Candra lalu tersipu malu dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Wulan. Setelah mengantarkan ayamnya, Candra pun akhirnya pergi untuk melanjutkan menjual ayam gorengnya, “semoga hari ini beruntung.” Ucap Wulan sembari tersenyum ketika kekasihnya berpamitan untuk pulang.
Wulan pun yang sudah kenyang karena baru saja sarapan pagi akhirnya membiarkan ayam pemberian Candra berada didepan mejanya. Wulan lalu membuka ponselnya lalu ada pesan masuk dari Candra, “segera dimakan ya, mumpung masih anget.” Tulis Candra dalam pesan singkat itu. Wulan yang awalnya tak ingin segera memakan ayam itu pun akhirnya sedikit menggigit ayam goreng pemberian Candra. Wulan lalu merasakan rasa dari ayam goreng buatan Candra. Rasanya memang biasa, tapi ketulusan Candra seakan membuat rasa ayam itu sedikit lebih berbeda. Wulan pun menghabiskan ayam pemberian Candra itu sesegera mungkin agar ia bisa beraktivitas kembali.
Setelah memakan ayam goreng itu, Wulan lalu mengumpulkan para karyawannya untuk brefing pagi seperti biasanya. Setelah brefing kira-kira pukul sepuluh pagi para karyawan Wulan mulai bekerja. Perut Wulan terasa sangat kenyang setelah makan ayam goreng pemberian Candra, namun Wulan tetap memaksa dirinya untuk bekerja dan tidak ingin memanjakan tubuhnya. Setiap pagi Wulan selalu memeriksa keuangan kantor dengan sangat teliti. Setelah kebun teh dipimpin oleh Wulan, pertumbuhan ekonomi pada perkebunan teh itu sungguh pesat. Pak Cokro bangga dengan hasil kerja putri semata wayangnya itu. Setelah diambil alih Wulan beberapa bulan ini, kolega pak Cokro pun juga bertambah banyak karena Wulan sangat rajin memasarkan hasil dari perkebunan teh yang saat ini sedang dikelolanya.
Hari pun sudah sore, saatnya Wulan untuk pulang kerumahnya. Wulan pun pulang dengan penuh semangat karena hari ini pemasukan pada hasil pemetik teh itu bertambah secara signifikan. Wulan tentunya ingin memberi tahu ayahnya tentang pencapaiannya ini. Wulan lalu memacu kudanya dengan kencang agar bisa segera sampai dirumahnya. Wulan terkadang berbicara dengan kuda kesayangannya itu saat berada diperjalanan menuju rumahnya. Kuda kesayangan Wulan ini juga jarang sekali marah dimusim kawin atau masa birahinya. Maka dari itu, Wulan sangat menyayangi si putih. Kuda itu sudah bersama dengan Wulan sejak Wulan masih SMP sebagai hadiah ulang tahunnya dari sang ayah.
Sampailah Wulan dirumahnya, rumah tampak sepi karena ibunya sedang mandi dan ayahnya sepertinya belum pulang.setelah memasukkan kudanya didalam kandang, Wulan pun bergegas kedalam rumahnya. Saat berada didalam kandang kuda, Wulan hanya melihat kuda hitam milik ibunya. Wulan pun bergegas masuk kedalam rumahnya sambil berteriak-teriak memanggil nama ayahnya, “ayah...., Ayah...., Ayah....,” ucap Wulan berkali-kali memanggil nama ayahnya. Bu Sekar yang saat itu sedang mandi dikamarnya tidak mendengar teriakan putrinya itu. Tiba-tiba mbak Aminah menghampiri Wulan, “non..., Pak Cokro belum pulang. Mungkin nanti agak terlambat.” Ucap mbak Aminah. “Baiklah kalau begitu, saya kekamar dulu ya mbak.” Ucap Wulan sambil berlalu saja meninggalkan mbak Aminah yang sedang berdiri didepannya. Wulan yang tak sabar ingin menceritakan tentang pencapaiannya itu pun menahan niatnya dan memilih untuk mandi terlebih dahulu. Wulan juga akan mengatakan hal ini saat setelah makan malam nanti.
Baru selesai mandi dan mengganti pakaiannya, Wulan pun bergegas keruang tamu untuk duduk-duduk disana sejenak melepas penatnya. Hari ini Wulan tampak merasa lelah dan hanya melamun saja ketika sedang duduk diruang tamu. Tak lama kemudian, datanglah pak Cokro yang masuk kedalam rumahnya, pas sekali saat itu pak Cokro yang tampak lelah langsung disambut dengan senyum oleh putrinya yang tampak ceria, “ayah...., Selamat sore...,” ucap Wulan sambil tersenyum. “Sore nak..., Sudah pulang nak, biasanya duluan ayah.” Ucap pak Cokro membalas senyuman putrinya. “iya ayah..., Kenapa ayah terlambat pulang?” tanya Wulan. Pak Cokro pun duduk disamping putrinya lalu menyenderkan tubuhnya disofa ruang tamu. “Sepertinya kematian ketiga pemuda itu akan menyusahkan ayah. Seharian ini ada polisi yang berkeliling di peternakan ayah sampai ayah merasa tidak nyaman dengan mereka.” Keluh pak Cokro. “aduh..., Ayah kenapa tidak menelepon Wulan? Wulan akan selalu ada buat ayah.” Ucap Wulan yang merasa kasihan dengan sang ayah yang masih dimintai keterangan atas kematian ketiga pemuda itu.