Lamaran Candra dan Wulan

1048 Kata
Acara lamaran Candra dan Wulan pun hari ini akan dilangsungkan. Malam Jumat Kliwon seperti apa yang telah diperintahkan oleh pak Cokro. Semua orang dirumah Wulan tengah mempersiapkan semuanya dengan sangat matang seperti rumah yang bersih, tapi dan juga wangi, tak lupa hidangan yang akan disuguhkan oleh pak Cokro. Semua hidangan mewah yang belum pernah Candra makan pun ada dirumah pak Cokro. “Ayah..., Apakah ini tidak terlalu berlebihan? Ini kan hanya lamaran saja.” Ucap Wulan. Pak Cokro pun lantas tersenyum, “bukankah kita harus memuliakan tamu?” pak Cokro kembali bertanya kepada Wulan. “Iya ayah..., Ayah..., Terima kasih ya.” Ucap Wulan dengan wajahnya yang tampak berkaca-kaca. “kau tidak perlu berterima kasih kepada ayah nak, ayah ini kan ayahmu.” Ucap pak Cokro sambil mencium kening Wulan. Pak Cokro dan Wulan memang sangat dekat, ayah dan anak ini saling menyayangi satu sama lain. Pak Cokro juga senang melihat wajah putrinya yang tampak bahagia karena akan dilamar oleh sang kekasih. Sebuah tenda sudah dipasang didepan rumah Wulan untuk menyambut keluarga Candra. Sedangkan Wulan masih berada dalam tahap make up untuk menyambut Candra. Wulan bahkan memanggil seorang make up artist dari Jakarta. Seorang makeup artist ini adalah orang yang sangat ahli dalam bermake-up. Sudah banyak juga artis yang mempercayakan acara lamaran atau nikahan kepada make up artist pilihan Wulan ini. Sementara Candra pun telah mempersiapkan apa yang harus dibawanya untuk melamar sang pujaan hati. Ada rasa gundah dalam diri Candra, Candra takut jika Wulan tak menerima lamarannya. Pak Raharjo lalu menenangkan Candra dengan perkataannya yang membuat Candra bisa berpikir lebih luas lagi. “nak Wulan tidak akan mempermainkan dirimu, tadi bapak lihat dirumahnya persiapannya sangat megah, tendanya sangat besar.” Ucap pak Raharjo kepada Candra. “iya lho nak, apa yang kita bawa ini tak sebanding dengan tenda yang dipasang dirumah nak Wulan, kau akan lihat, disana sangat megah.” Ucap Bu Indah menimpali. Malam itu, setelah magrib, keluarga pak Raharjo pun datang kerumah Wulan untuk melamarnya. Dirumah Wulan sudah siap semuanya dan hanya menunggu Candra datang. Acara lamaran pun dimulai dan lamaran Candra diterima oleh Wulan dan juga keluarganya. Mereka pun langsung menyusun rencana pernikahan yang akan berlangsung sesuai kehendak pak Cokro. “Saya akan adakan selama tiga hari tiga malam.” Ucap pak Cokro didepan keluarga Candra. Pak Raharjo dan Bu Indah pun juga menyetujui keinginan pak Cokro itu. Mereka berpikir ya maklum saja, Wulan adalah putri satu-satunya pak Cokro dan pak Cokro adalah orang terkaya didesanya, pantas jika pak Cokro melakukan hal itu. Kira-kira pukul sebelas malam, keluarga Candra pun pulang kerumahnya. Sementara Wulan membantu yang lainnya merapikan rumahnya kembali. Acara lamaran Wulan berjalan dengan sangat lancar, tak lupa pak Cokro malam itu juga langsung menemui Lulun samak itu untuk mengucap terima kasih karena acara yang diadakan pada malam Jumat itu berjalan dengan lancar. Pak Cokro dengan cepat sampai ke danau itu dan langsung duduk ditepinya untuk membaca mantra pemanggil Lulun samak itu. Air danau mulai bergemuruh diiringi oleh kedatangan Lulun samak itu. “Cokro...., Aku datang!” ucapnya dengan suara yang menggema. “terima kasih karena sudah membantuku.” Ucap pak Cokro kepada Lulun samak itu. “ya Cokro..., Tapi ingat, kau harus menikahkan putrimu pada malam Jumat Kliwon salah satunya.” Ucap Lulun samak itu mengingatkan pak Cokro. “aku akan selalu mengingat akan hal itu. Aku juga berencana untuk memberi makan pada orang miskin di pernikahan putriku nanti.” Ucap pak Cokro. “Itu bagus Cokro, aku menyetujuinya.” Ucap Lulun samak itu lalu masuk kedalam air dan tak terlihat lagi. Ini adalah pertemuan singkat antara Lulun samak dan juga pak Cokro. Kira-kira mereka hanya berbincang sekitar satu jam lamanya. Setelah berbincang dan meminta ijin kepada sesembahannya, pak Cokro pun lalu pulang menuju rumahnya. Setelah sampai dirumah, Wulan ternyata belum tidur dan menanyakan kemana ayahnya pergi selama satu jam ini. Tentu saja pak Cokro tak menjawab secara jujur dari mana saja pak Cokro pergi. “pembayaran tenda bukankah bisa dibayar keesokan harinya ayah?” tanya Wulan seperti sedang menghardik ayahnya. “ayah hanya takut ayah tidak punya waktu dan ayah mengecewakan orang lain. Ayah menghindari akan hal itu.” Ucap pak Cokro menutupi kebohongan yang dilakukannya. Tanpa memperpanjang masalah, Wulan pun bergegas menuju kamarnya untuk beristirahat. Malam itu Wulan terasa lelah namun lelah itu juga membuat dirinya bahagia. Sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang istri bagi seorang Candra, laki-laki pekerja keras dan juga tampan. Sementara itu dirumah Candra, Candra lalu berberes dan mandi. Candra seakan tidak percaya bahwa sang kekasih telah menerima lamarannya. Candra juga merasakan kebahagiaan yang belum pernah dirasakan selama ini. Baru lamaran saja Candra sudah merasa sebahagia ini, bagaimana nanti jika Candra melaksanakan pernikahan, sudah pasti kebahagiaan itu akan bertambah dan yang lebih membuat Candra lebih bahagia adalah pak Cokro kini sudah berbeda, tidak ketus lagi saat sedang berbicara dengannya. Candra lalu membaringkan tubuhnya dikasur kamarnya, Candra melihat langit-langit kamarnya yang sudah diperbaikinya itu dan terkadang tersenyum ketika mengingat ucapan Wulan yang menerima lamarannya. Namun, seketika Candra terbesit dan teringat akan sosok Lulun samak yang saat itu pernah ditemuinya bersama dengan Wulan sampai membuatnya dirawat dirumah sakit selama beberapa hari. Candra sebenarnya merasa ngeri jika teringat akan hal menakutkan itu. Sosok itu sungguh menyeramkan dan pak Cokro yang terlihat dekat didepan mata sosok itu tak merasa takut bahkan bisa mengajaknya berkomunikasi. Candra pun mengingat kembali saat itu, Candra tak mungkin bisa melupakan sosok paling menakutkan itu, Candra berharap tak lagi bertemu dengan sosok mengerikan itu. Candra tak peduli dengan apa yang dilakukan pak Cokro dengan sosok itu, tapi Candra sedikit bertanya-tanya tentang tujuan pak Cokro, kenapa sosok itu meminta tumbal dari pak Cokro, apa yang telah diperbuat oleh pak Cokro itu. Itulah pertanyaan yang timbul dibenak Candra. Candra yang tak ingin memikirkan masalah itu lebih jauh lagi pun memilih untuk memejamkan matanya yang sudah protes dengan cara mulutnya yang terus menguap setiap menitnya. Baru saja terlelap, Candra pun bermimpi bahwa dia ada disebuah istana dengan kedua orang tuanya yang ada disana, Candra melihat kedua orang tuanya yang telah dirantai dikedua tangannya seperti seorang tahanan. Candra ingin menolong ayah dan ibunya, tapi ketika ia ingin mendekat, tiba-tiba Candra terasa dilempar menjauh dari kedua orang tuanya. Walau Candra melihat mereka berdua, namun Candra tak bisa mendekat entah terhalang sesuatu seperti kaca. Ada pembatas antara dia dan juga kedua orang tuanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN