Maksud pak Cokro menjalankan rencana pernikahan putrinya pada hari Rabu, kamis dan Jumat adalah karena sesuatu, itupun tak sembarang hari pak Cokro akan melaksanakan acara pernikahan itu. Pernikahan itu harus dilaksanakan pada saat hari Rabu pon, Kamis Wage, Jumat Kliwon sesuai kalender Jawa perhitungannya. Menurut pak Cokro, hari itu adalah hari terbaik sepanjang masa dan juga hari itu adalah hari dimana Lulun samak juga memerintahkan menikah saat malam Jumat Kliwon. Hari itu sangat pas dengan perhitungan kalender Jawa milik pak Cokro. Pak Cokro memang sudah mempersiapkan hari itu, namun pak Cokro belum memberi tahu putrinya atas pernikahan yang akan dirayakan sesuai perintah pak Cokro.
Rabu pon, Kamis Wage, Jumat Kliwon. Hari itulah yang akan menjadi hari dimana warga desa akan mengukir sejarah pernikahan yang akan dilangsungkan oleh keluarga pak Cokro, orang terkaya dan terpandang didesanya. Mulai sekarang pak Cokro ingin mengumpulkan undangan untuk tamu-tamu yang akan diundang oleh pak Cokro. Untuk hari jumatnya, pak Cokro ingin mengundang warga kampung agar mereka hanya makan sepuasnya di acara pernikahan Wulan nantinya. Untuk hari pertama, yaitu hari Rabu, pak Cokro akan mengundang para pengusaha yang ia kenal dari berbagai kota bahkan dari luar negeri untuk datang menghadiri acara pernikahan sang putri. Pak Cokro ingin agar pernikahan putrinya berjalan lancar, mewah dan mengesankan. Sejauh ini sepanjang pak Cokro tinggal didesa itu, belum ada sama sekali orang yang menikah selama tiga hari tiga malam, pak Cokro lah yang nanti akan mengukir sejarah.
Saat dirumah, pak Cokro bertemu dengan putrinya dan memanggilnya untuk duduk membahas pernikahan yang nanti akan dilangsungkan secara meriah. “begini Wulan, ayah mau mengatakan tentang pernikahanmu nanti.” Ucap pak Cokro. “ayah..., Lamaran juga masih Minggu depan, ayah sudah membahas pernikahan saja.” Ucap Wulan kepada ayahnya. “Hmmm..., Pernikahan putri ayah ini haruslah sangat meriah dan juga mewah. Kau lihat nanti, pernikahanmu akan menjadi sejarah karena ayah ingin melaksanakan selama tiga hari tiga malam.” Ucap pak Cokro. “apa? Tiga hari tiga malam?” Wulan tersentak kaget dengan rencana ayahnya. “Eitsss..., Kau tidak boleh menolaknya sayang, ini merupakan permintaan ayah. Putri ayah harus jadi ratu dan mengukir sejara dikampung kita ini.” Ucap pak Cokro. Wulan yang tak ingin mendebat ayahnya pun hanya pasrah saja dengan keputusan ayahnya. “terserah ayah saja lah!” ucap Wulan lalu pergi meninggalkan pak Cokro dan langsung masuk kekamarnya dan menutup pintunya dengan keras sampai pak Cokro tersentak kaget, namun pak Cokro tersenyum karena gemas melihat sikap putrinya.
“Ayah ada-ada saja! Menikah tiga hari tiga malam! Aku tak bisa membayangkannya!” gerutu Wulan sambil menjatuhkan tubuhnya dikasurnya. Wulan pun menelepon Candra untuk membahas masalah ini, “sudah..., Kita turuti saja permintaan ayahmu itu. Semua ayahmu lakukan tentunya demi untukmu, lagi pula kau adalah putrinya satu-satunya.” Ucap Candra menenangkannya. “hhhsssttt! Kau dan ayah sama saja!” ucap Wulan sambil menutup teleponnya. Wulan pun pasrah dengan keputusan ayahnya yang akan menikahkannya selama tiga hari tiga malam lamanya. Saat Wulan berbaring dan berfikir, pak Cokro lalu mengetuk pintu kamar Wulan dan masuk kedalam kamarnya. Pak Cokro pun duduk dikasur samping Wulan berbaring, “nak..., Kau tahu sendiri, teman ayah kan banyak. Kalau hanya sehari saja tidak akan cukup. Rencana ayah adalah di hari terakhir nanti, ayah akan sekalian mengadakan pesta rakyat untuk pernikahanmu.” Ucap pak Cokro. “benarkah ayah?” tanya Wulan. Tampaknya Wulan setuju dengan rencana ayahnya karena akan diadakan pesta rakyat saat pernikahannya nanti. “ayah pastikan nanti tidak akan ada warga yang kelaparan saat pernikahanmu. Ayah haramkan warga kampung kelaparan. Kita bagikan makanan untuk mereka. Kau setuju sayang?” tanya pak Cokro. “ya ayah, aku setuju.” Ucap Wulan lalu tersenyum bahagia. “Ayo peluk ayah...,” ucap pak Cokro sambil merentangkan kedua tangannya. Pak Cokro dan Wulan pun saling berpelukan layaknya ayah dan juga anak.
Setelah mendengar alasan pak Cokro, Wulan lalu menyetujui pernikahannya dengan Candra yang akan diadakan selama tiga hari tiga malam lamanya. Wulan pun tak peduli dengan hari yang dipilihkan ayahnya itu. Bagi Wulan semua hari tentunya baik dan tak akan ada masalah. Yang paling membuat Wulan setuju adalah, karena pak Cokro ingin mengadakan pesta rakyat di hari bahagianya nanti. Wulan terharu ketika pak Cokro sendiri mengucapkan hal itu. Hari pertama untuk teman ayahnya dan juga temannya atau dengan teman Candra, namun hari ketiga untuk pesta rakyat dan yang paling membuat Wulan terharu dari ucapan ayahnya adalah karena pak Cokro tidak ingin dihari kebahagiaan Wulan diharamkan ada orang lapar didesanya. Semua orang akan kebagian makanan dari pesta rakyat yang akan diadakan oleh pak Cokro ini.
Wulan tak sabar untuk menunggu acara lamaran yang rencananya akan dilaksanakan Minggu depan pada malam Jumat yang akan datang. Setelah acara lamaran nanti, kedua belah pihak keluarga akan membicarakan pernikahan antara Wulan dan juga Candra. Pak Raharjo, ayah Candra yang sebentar lagi akan berbesan dengan orang terkaya didesanya pun agak sedikit canggung. Malam itu, pak Raharjo beserta putra dan juga istrinya pun berkumpul untuk membicarakan acara lamaran yang akan diadakan Minggu depan itu. “Candra..., Ketahuilah, kau sebentar lagi akan menjadi menantu dari pak Cokro, orang terpandang dan terkaya didesa kita ini. Banyak orang yang memandang sebelah mata tentang dirimu dan keluarga kita ini. Bapak harap jika suatu saat kamu mendengar omongan yang tidak mengenakkan ditelingamu, tidak usah pikirkan itu.” Ucap pak Raharjo memberi petuah kepada Candra. “Ya pak..., Oh iya pak, dipernikahan Candra dan juga Wulan nantinya akan diadakan acara selama tiga hari tiga malam pak. Itu sesuai dengan keinginan pak Cokro.” Ucap Candra. Pak Raharjo tampak kaget dengan apa yang diucapkan Candra. Selama ini belum ada orang yang menikah dengan acara sampai tiga hari tiga malam. “Ya kan Wulan putri satu-satunya pak Cokro, wajar kalau pak Cokro mengadakan acara seperti itu. Pak Cokro kan juga merupakan orang penting didesa ini, kenalannya juga banyak, mungkin acara satu hari tidaklah cukup mengundang para tamu-tamunya.” Ucap pak Raharjo.
Banyak petuah yang dikatakan pak Raharjo kepada Candra mengenai laki-laki setelah menikah. Pak Raharjo juga sangat mewanti-wanti Candra untuk tidak merahasiakan sesuatu dari Wulan yang akan menjadi istrinya. “Tidak mudah menyatukan hati nak, apalagi kau dan nak Wulan sangat berbeda status sosial, mungkin kau bisa beradaptasi ketika dirumah pak Cokro, tapi belum tentu nak Wulan bisa beradaptasi dirumah kita ini.” Ucap pak Raharjo. Pak Raharjo juga menyetujui jika Candra nantinya akan tinggal dirumah pak Cokro. Walaupun Candra akan tinggal dirumah pak Cokro, untuk pekerjaan akan ia lakukan dirumahnya sendiri seperti goreng ayam dan lain sebagainya.