Permintaan pak Cokro

1046 Kata
Acara lamaran sudah disepakati oleh keluarga Wulan dan juga Candra. Pak Cokro dengan berat hati mau menuruti hati putrinya itu. “Ayah...., Terima kasih.” Ucap Wulan kepada ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Kau bahagia?” Tanya pak Cokro dengan senyum palsunya. Wulan hanya mengangguk sambil menyeka air matanya yang tak terasa telah menetes di pipinya karena rasa haru yang dirasakannya. Ayahnya yang pernah menentang hubungannya dengan Candra karena alasan harta. Berat hati pak Cokro memberikan restunya kepada putrinya yang dianggapnya salah memilih pasangan. Pak Cokro tentunya mendengarkan saran dari Lulun samak itu untuk menikahkan sang putri dengan pria miskin itu. “Nak..., Ayah punya satu permintaan untukmu. Katakanlah juga kepada calon suamimu itu tentang permintaan ayah ini.” Ucap pak Cokro sambil merangkul putrinya yang sedang duduk bersandar didadanya. “Apa itu ayah?” tanya Wulan penasaran. “Ayah ingin, setelah pernikahanmu dan Candra nanti, ayah ingin agar kau tetap tinggal disini bersama ayah dan juga ibu. Kau tahu, rumah sebesar ini akan terasa sepi dan tidak berarti lagi jika tidak ada dirimu. Ayah berharap permintaan ayah ini bisa kau lakukan.” Ucap pak Cokro. Wulan lalu menghela nafasnya, “ayah..., Aku sudah mengatakan hal ini kepada Candra, Candra juga menyetujuinya, kedua orang tua Candra pun juga menyetujui hal ini.” Ucap Wulan. Pak Cokro tampak berterima kasih dengan putrinya yang tetap akan tinggal dirumahnya bersama dengan suaminya. Dengan begini, Candra akan mudah diawasi oleh Lulun samak itu. “ayah..., Tapi ada satu permintaan dari Candra untuk ayah setelah kita nanti menikah.” Ucap Wulan penuh dengan keraguan. “apa permintaannya itu?” tanya pak Cokro. “Ayah..., Candra akan tetap meneruskan usahanya menjadi penjual ayam goreng meskipun dirinya telah menjadi menantu ayah.” Ucap Wulan. “hmm...., Dia memang pekerja keras. Untung saja dahulu ayah memecatnya, jadi dia berkembang dan lihat, kini juga dia menjadi lebih baik.” Ucap pak Cokro. Wulan lalu tersenyum didepan ayahnya dan memeluk ayahnya, “terima kasih ayah...,” ucapnya. Suasana haru menyelimuti keluarga Wulan. Pak Cokro tidak akan kehilangan putrinya meskipun putrinya akan menikah. Namun pak Cokro tentunya akan sangat sulit memberi sesuatu kepada Candra. Candra sudah bisa berdiri diatas kakinya sendiri setelah dipecatnya dari peternakan milik pak Cokro. “Sebentar lagi ayah tidak akan bisa lagi memelukmu lagi.” Ucap pak Cokro sambil mencium kepala putrinya. “Memangnya kenapa ayah? Apakah seorang tak boleh lagi memeluk putrinya?” tanya Wulan bingung. “hmmm...., Nanti suamimu akan cemburu terhadap ayah. Hahaha...,” ucap pak Cokro lalu tertawa lepas. “ayah....,” ucap Wulan sambil mencubit ayahnya. Pak Cokro pun meringis ketika putrinya mencubitnya, tapi sejenak sakit itu telah hilang saat Wulan mengusap bekas cubitan itu. Setelah selesai membicarakan hal dan rencana lamaran yang akan dilaksanakan pada Minggu depan, Wulan lalu masuk kedalam kamarnya. Pak Cokro berpesan kepada putrinya untuk menjaga kesehatannya. Pak Cokro tidak ingin Wulan kecapekan di acara lamarannya nanti dan membuat wajahnya menjadi kusam. Wulan pun juga menyetujui akan hal itu. Wulan meyakinkan ayahnya bahwa dirinya akan baik-baik saja. Sesampainya didalam kamar Wulan tetap tersenyum sambil memeluk gulingnya. Wulan lalu memejamkan matanya, berharap dirinya bisa mimpi indah malam itu. Keesokan paginya, Candra pun bekerja seperti biasanya. Setiap hari selalu sibuk dengan ayam goreng dagangannya. Candra sangat bersyukur karena baru pertama kali memulai usaha, tapi usahanya sudah lancar dan bisa mempekerjakan lima orang untuk membantunya berdagang. Paling tidak Candra bisa membuka lapangan pekerjaan untuk kelima orang itu. Saat Candra sedang berdagang, datanglah pak Cokro menemuinya dengan menaiki kudanya. Candra agak canggung saat pak Cokro datang kelapak dagangannya. Untuk menyembunyikan perasaannya yang campur aduk, Candra pun langsung mencium punggung tangan pak Cokro begitu pak Cokro datang dan turun dari kudanya. “Candra.. , aku kemari tentunya untuk tujuan penting.” Ucap pak Cokro yang terlihat berbeda ketika sedang berbicara dengan Candra. “apa tujuan pak Cokro datang kemari?” tanya Candra lembut. “pernikahanmu dan putriku nanti biarkan aku yang memilihkan tanggalnya, semua orang tidak boleh ikut campur dalam hal itu. Pernikahan kalian berdua nanti akan aku rayakan selama tiga hari tiga malam berturut-turut. Harinya harus Rabu, Kamis, dan Jumat.” Ucap pak Cokro. Kalau hanya masalah tanggal dan hari, Candra pun juga akan menyanggupi akan hal itu, namun ada sesuatu yang Candra ingin bicarakan tapi agak sedikit takut. Semua itu mengenai mas kawin yang nantinya akan diberikan kepada Wulan. “putriku Wulan tidak meminta emas dan permata darimu karena aku sudah sering membelinya. Kau adalah laki-laki yang beruntung, walaupun hidup Wulan dipenuhi dengan harta, namun bukan itu yang ia cari. Saya harap kamu tidak memanfaatkan kebaikan Wulan dan aku ini. Urusan mas kawin biar Wulan dan kau saja yang berunding, aku tahu kau tidak akan mungkin bisa memberikan emas permata seperti aku memberikannya kepada Wulan, jadi semua itu kau perlu membicarakan dengan Wulan.” Ucap pak Cokro lalu pergi meninggalkan lapak dagangan Candra. Candra diam seribu bahasa, hatinya agak sedikit sakit saat pak Cokro berkata bahwa ia tak akan mampu memberikan emas permata kepada Wulan seperti pak Cokro yang memberikannya setiap saat. Candra lalu menenangkan dirinya sendiri, pak Cokro mungkin sekarang sudah berbeda dengan waktu itu, tapi kata-kata pak Cokro itu membuat Candra merasa terhina dan direndahkan hanya karena masalah harta. “memangnya dia pikir Wulan bahagia dengan emas permata yang dia berikan!” gerutu Candra. Candra yang berkata seperti itu pun langsung menyebut, “astaghfirullah haladzim.” Ucapnya sambil mengelus dadanya. “Ini batu permulaan, sebentar lagi aku akan tinggal bersamanya dan setiap hari bersamanya.” Ucap Candra sembari menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan kasar. Sepertinya Candra harus menyiapkan hati yang lapang untuk menghadapi pak Cokro nantinya. Candra tidak boleh lemah dan menyerah, bahkan Candra harus membuktikan bahwa dia bisa memberikan apapun yang Wulan inginkan tanpa bantuan dari ayahnya lagi. Hari ini Candra tak fokus berjualan karena selalu teringat akan kata-kata pak Cokro yang membuatnya merasa down. Candra lalu mengontrol dirinya sendiri dan berusaha mengubah sebuah penghinaan menjadi pecut baginya agar selalu giat dan rajin dalam bekerja agar bisa menghidupi Wulan dan menuruti semua keinginan Wulan nantinya yang akan menjadi istrinya. Namun tetap saja Candra masih teringat akan penghinaan pak Cokro terhadap dirinya. Berkali-kali Candra mengatur nafasnya agar tidak kalah dengan rasa marahnya. Candra mencoba untuk bersabar dengan kata-kata yang baru saja dilontarkan pak Cokro terhadapnya. “aku tidak boleh menyerah!” ucapnya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN