Sukses berwirausaha

1020 Kata
Usaha Candra berjalan amat sangat lancar. Candra bahkan mulai membuka cabang ayam goreng miliknya itu di salah satu tempat letaknya kira-kira sepuluh kilo meter dari rumahnya. Candra bahkan mengajak orang agar bisa membantunya menjual ayam goreng buatannya. Walau hanya mempunyai lima karyawan, bagi Candra itu sudah bagus dan cukup untuk membantunya berjualan ayam. Candra memberlakukan target penjualan pada setiap anak buahnya untuk menjual ayam goreng miliknya. Masing-masing orang menjualkan minimal lima puluh potong ayam goreng untuk bisa memperoleh gaji harian mereka. Kalau mereka bisa menjualkan seratus potong ayam goreng, Candra akan memberi mereka bonus harian dan langsung memberikannya setelah selesai bekerja. Menjual ayam goreng yang lumayan sukses, Candra kini perlahan bisa memperbaiki rumah orang tuanya. Rumah Candra yang dulu seperti kandang kambing, kini sudah menjadi rumah yang layak huni. Wulan juga mengapresiasi usaha Candra yang kini sudah terbilang maju. Target harian penjualan Candra adalah tujuh ratus potong ayam goreng. Terkadang dagangan Candra pernah sepi, bahkan pernah hanya laku dua ratus potong saja, namun Candra tak menyerah, Candra malah membagikan ayam goreng yang tidak terjual itu kepada orang-orang yang bekerja dijalanan seperti tukang becak, kusir kuda dan lain sebagainya. Candra tak merasa rugi dengan memberikan ayam goreng miliknya kepada orang lain. Sudah lama Candra tidak bertemu dengan Wulan karena kesibukan masing-masing. Kali ini Candra mencoba untuk bertemu dengan kekasihnya itu di perkebunan teh tempat Wulan bekerja. “bolehkah aku melamarmu?” tanya Candra saat duduk disamping Wulan. “Kau yakin?” tanya Wulan sambil menengok kearah Candra dan menatap tajam mata Candra. Candra lalu mengangguk tanpa ragu. “Aku yang tidak yakin, aku juga takut ada hal buruk yang akan terjadi kepadamu setelah kita menikah nanti.” Ucap Wulan lagi. Candra lalu menghela nafasnya dan tersenyum kepada Wulan, “Wulan..., Kalau kita sudah ditakdirkan mati, kita akan mati kapanpun itu. Kita tidak bisa mencegah kematian.” Ucap Candra tenang. “Kau masih belum mengerti juga! Ayahku bersekutu dengan setan! Dan kau yang akan menjadi tumbalnya!” bentak Wulan. “Wulan..., Kita jangan seperti orang yang tidak mempunyai Tuhan. Kita harus percaya bahwa Tuhan akan lindungi kita. Jika memang sudah takdirnya mati, aku akan mati. Tapi jika takdirku hidup, aku akan tetap hidup bersamamu.” Ucap Candra lembut. Wulan dan Candra terus berbincang dan saling berdebat dari masalah satu ke masalah lainnya. Candra pun terus meyakinkan Wulan untuk tidak khawatir terhadap hidupnya. Wulan memang keras kepala, ia tetap takut dengan hal yang belum tentu akan terjadi kepada Candra setelah mereka menikah. Candra yang sudah tak ingin berdebat lagi dengan Wulan, akhirnya Candra dengan tegas mengatakan kepada Wulan, “aku ingin melamarmu! Kau mau atau tidak?” tanya Candra sambil memegang kedua pipi Wulan. Wulan yang saat itu sangat dekat dengan Candra pun merasakan jantungnya berdegup kencang. Wulan sampai tak berani menatap mata Candra dan hanya mengarahkan matanya kearah lainnya. Wulan pun berusaha melepas tangan Candra dan pergi meninggalkan Candra sendirian. Candra tampak menghela nafasnya, Candra lalu pulang kerumahnya dengan perasaan yang sedikit kecewa. Bukan karena tak mendapat jawaban dari Wulan, melainkan ia belum berhasil meyakinkan kepada Wulan bahwa tidak akan terjadi apapun dengan dirinya. Wulan lalu menaiki kudanya dan memacu kudanya dengan kencang sampai keujung perkebunan teh miliknya. Wulan ingin menenangkan dirinya sendiri. Wulan sangat bingung dengan ketegasan Candra itu. Wulan ingin menikah dengan Candra, tapi ada ketakutan dalam dirinya yang membuatnya tidak yakin akan usia Candra yang tidak panjang lagi. Wulan juga bingung, tak tahu apa yang harus dirinya lakukan. Wulan pun berhenti disebuah ujung perkebunan teh miliknya. Wulan lalu mengikat kuda putihnya disalah satu pohon jati yang memang sengaja ditanam oleh pak Cokro pada ujung perkebunan teh itu. Wulan pun duduk diantara semak-semak belukar untuk menenangkan hatinya. “Aku tidak boleh terus seperti ini. Aku dilanda ketakutan yang tidak jelas. Aku harus menerima lamaran Candra sebelum semuanya terlambat!” ucap Wulan dalam hatinya. Walaupun ia sudah meyakinkan dirinya, namun Wulan belum bisa yakin dan percaya akan hal itu. Wulan memandang jauh kearah perkebunan teh miliknya. Wulan lalu melihat ada sepasang suami istri yang sedang sibuk memetik teh dan juga masih sempat bercanda ria, terlihat dari senyum keduanya. Wulan pun juga terbawa akan kehangatan antara sepasang suami istri itu. Wulan juga melihat sang istri yang membantu suaminya kala suaminya terjatuh diantara pohon-pohon teh yang mereka petik. Wulan terus memperhatikan mereka berdua. Memang begitulah tugas dari seorang istri, harus bisa melindungi suaminya saat suaminya sedang lengah. Wulan pun kini sudah memantapkan hatinya untuk menerima lamaran dari Candra. Berkat kedua pasangan suami istri itu yang membuatnya yakin bahwa Wulan akan menjadi perisai bagi Candra yang nantinya akan menjadi suaminya. Wulan pun kembali menaiki kudanya dan bermaksud untuk langsung kerumah Candra untuk menjawab pertanyaan Candra yang sedari tadi tak dijawabnya. Wulan lalu memacu laju kudanya lebih kencang lagi agar bisa segera sampai dirumah Candra dengan cepat. Wulan terus memacu kudanya. Sampailah Wulan didepan rumah Candra, terlihat dari kejauhan bahwa Candra sedang melamun diteras depan rumahnya yang kini sudah terlihat lebih baik. Wulan mengurangi laju kudanya agar tidak menggangu Candra yang sedang merenung didepan rumahnya. Wulan lalu mengikat kudanya disebuah pohon yang agak jauh dari rumah Candra. Wulan lalu berjalan perlahan menghampiri Candra. Tepat persis didepan tempat Candra duduk dan merenung, Wulan dengan tegas dan yakin mengatakan, “Candra...., Aku mau menerima lamaranmu!” ucap Wulan. Candra yang sedari tadi merenung dan tak memperhatikan sekitar, Candra tampak kaget dan senang. Semua perasaan bercampur menjadi satu antara senang, bingung, dan seakan tak percaya dengan ucapan Wulan yang baru saja didengarnya. Candra langsung berlari dan memeluk kekasihnya itu. Wulan hanya diam dan tidak membalas rangkulan Candra. Untuk kedua kalinya Candra berani memeluk Wulan. Candra yang sadar pun langsung melepaskan pelukannya. Candra tampak malu dan meminta maaf kepada Wulan atas perilakunya yang tidak sopan terhadap Wulan itu. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk melecehkan dirimu, maaf karena aku sangat bahagia, jadi aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri.” Ucap Candra yang tak berani menatap wajah Wulan. Candra takut Wulan akan marah saat dirinya tidak meminta ijin untuk memeluk Wulan. Wulan lalu menahan tawanya. Laki-laki sepolos Candra yang bisa membuat Wulan jatuh cinta dengan caranya. Candra yang tidak pernah berani menyentuh Wulan, lalu tiba-tiba memeluk Wulan tanpa sadar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN