Pak Cokro lalu berfikir bahwa semua hartanya akan aman karena ada sang penjaga harta-harta miliknya. Pak Cokro tak butuh penjaga atau apapun untuk menjaga perkebunannya, peternakannya atau rumahnya. Semua akan tetap aman selagi pak Cokro masih bersekutu dengan Lulun samak itu. Walau begitu, namun pak Cokro terkadang masih khawatir dengan nyawanya yang mungkin tak akan lama lagi hidup. Jiwa pak Cokro sepenuhnya sudah menjadi milik Lulun samak sesuai dengan perjanjian yang ada. Pak Cokro sudah menjualnya sebagai ganti harta-hartanya kini yang sangat melimpah. Pak Cokro terus berjalan menuju rumahnya sambil mengkhawatirkan sesuatu yang nantinya akan terjadi kepadanya. Mungkin untuk saat ini pak Cokro ingin menikmati hidupnya bersama keluarganya.
Sampailah dirumah, pak Cokro lalu membaringkan tubuhnya di samping sang istri dan memeluknya. Selisih dua jam, kira-kira pukul enam pagi, sang istri yang masih berada dalam pelukan pak Cokro pun tampak senang karena tak biasanya saat tidur pak Cokro memeluknya. “Bapak..., Sudah pagi, ayo bangun.” Bisik sang istri lembut. Perlahan pak Cokro lalu membuka matanya dan melihat kearah jam dinding, “sejam lagi ya Bu...,” ucap pak Cokro. Bu Sekar lalu mencium pipi suaminya dan beranjak dari tidurnya. Walaupun keluarga pak Cokro mempunyai beberapa pembantu, tapi untuk kelengkapan kebutuhan pak Cokro selalu dilakukan sendiri oleh Bu Sekar. Hari ini pak Cokro mau memakai baju apapun selalu Bu Sekar yang memilihkannya. Pak Cokro hanya tinggal memakainya saja. Semua keperluan pak Cokro selalu Bu Sekar yang menyediakannya.
Bu Sekar pun keluar dari kamarnya dan membangunkan putrinya. Perlahan Bu Sekar mengetuk pintu kamar sang putri dan memanggil namanya dari balik pintu. Bu Sekar lalu masuk dan melihat Wulan yang sedang tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Bu Sekar lalu mengelus pelan tangan putrinya, “Wulan..., Bangun sayang, sudah setengah tujuh.” Ucap Bu Sekar lembut. Wulan lalu menggeliatkan tubuhnya dan membuka matanya. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Wulan. Melihat sang putri sudah terbangun, Bu Sekar lalu kembali kekamarnya untuk mandi pagi dan membantu mbak Aminah menyiapkan sarapan.
Setelah semua mandi, keluarga pak Cokro pun selalu berkumpul di meja makan sebelum melakukan aktivitas yang biasa mereka lakukan. “Ayah.., apakah sudah ada kabar mengenai ketiga pemuda itu?” tanya Wulan setelah mengunyah makanan pertamanya. Pak Cokro lalu menggelengkan kepalanya. Pak Cokro tampak santai walau peternakan miliknya sedang ada masalah. “Hari ini sepertinya hasil otopsi ketiga orang itu keluar hasilnya, nanti akan tahu siapa yang membunuh mereka bertiga.” Ucap pak Cokro kepada sang putri. “semoga saja segera ketemu siapa yang membunuh mereka ya ayah, agar ayah tidak perlu bolak balik kekantor polisi untuk masalah ini.” Ucap Wulan.
Setelah selesai makan, Wulan berangkat bersama pak Cokro, ia akan terus menemani pak Cokro sampai masalah ini selesai. Wulan tidak ingin sesuatu terjadi kepada pak Cokro karena Wulan yakin pak Cokro tak terlibat atas kejadian meninggalnya ketiga pemuda itu. Baru saja sampai di peternakan, disana sudah ada polisi yang masih memeriksa lokasi tempat ketiga pemuda itu tewas. Sekali lagi pak Cokro ditanyai ditempat itu juga. “iya kalau malam disini tidak ada yang jaga, saya pulang, anak-anak juga pulang.” Ucap pak Cokro memberi keterangan kepada polisi itu.
Para polisi terus menghujani pak Cokro dengan pertanyaan-pertanyaan dan tentunya Wulan selalu ada disamping sang ayah. “Menurut hasil otopsinya bagaimana pak?” tanya Wulan menimpali. “pagi ini harusnya sudah keluar hasilnya, Bu.” Jawab salah seorang polisi kepada Wulan. Polisi juga memeriksa ke arah sekitar untuk mencari barang bukti lainnya. Saat polisi itu agak menjauh dari pak Cokro dan juga Wulan, Wulan pun menenangkan ayahnya, “ayah..., Ayah tidak usah takut. Kalau ayah tetap dicurigai sebagai pembunuh, Wulan yang akan turun tangan dan akan segera mencari pengacara dari Jakarta.” Ucap Wulan kepada ayahnya. Pak Cokro lalu tersenyum, “tidak perlu nak..., Tenanglah dulu, nanti juga masalah ini akan selesai.” Ucap pak Cokro kepada sang putri. Kematian ketiga pemuda di peternakan milik pak Cokro memang membuat pak Cokro agak sedikit kerepotan. Karena kematian mereka, kegiatan karyawan pak Cokro terbatasi dan tidak bisa bebas sedangkan pak Cokro harus memberhentikan produksi s**u sapinya. Hal itu tentu saja merugikan pak Cokro bahkan ada masalah baru, keluarga korban menuntut balik pak Cokro atas kematian ketiga pemuda itu. Namun pak Cokro tetap santai menghadapi masalah itu. Pak Cokro tahu bahwa dirinya tak akan dipenjara atas kematian ketiga pemuda itu. Polisi masih melihat truk itu dan memeriksa milik siapa truk itu sebenarnya.
Polisi juga sudah mengantongi indentitas pemilik truk itu, kesaksian pemilik truk itu berkata bahwa memang truknya disewa untuk membawa sapi dari kota. Kesaksian itu pun membawa dugaan bahwa benar ketiga pemuda itu ingin mencuri sapi-sapi milik pak Cokro. Namun polisi masih mendalami kasus kematian ketiga pemuda itu. Posisi mereka meninggal ditumpuk layaknya kain yang tidak terpakai. Semua kasus itu masih didalami polisi. Polisi pun juga masih berbicang dengan pak Cokro dan juga Wulan. Dari pengakuan pak Cokro sendiri pun polisi sebenarnya sudah tahu jika pak Cokro tak terlibat sama sekali dengan kematian ketiga pemuda itu.
Setelah memeriksa tempat kejadian perkara, polisi itu lalu berpamitan untuk pulang bertugas kembali. Polisi itu akan terus datang sampai kematian ketiga pemuda itu terungkap. “ayah..., Apakah kasus ini bisa ditutup?” tanya Wulan. “Ya bisa nak..., Tapi ayah tak ingin melakukan hal itu, biarkan saja hukum berjalan apa adanya. Apalagi ada keluarga salah satu korban yang menuntut ayah atas kejadian ini.” Ucap pak Cokro. “Harusnya mereka tidak melakukan hal ini kan ayah, mereka telah berusaha mencuri sapi milik ayah bukan!” Wulan agak emosi dengan salah satu keluarga korban yang telah menuntut ayahnya. Pak Cokro lalu tersenyum kembali dan menepuk bahu putrinya.
“sudah..., Sabarlah sayang.. , ayah baik-baik saja nak.” Ucap pak Cokro menenangkan Wulan. “Ya tapi Wulan khawatir, ayah. Kita sewa pengacara saja ya?” bujuk Wulan. Pak Cokro menolak ajakan Wulan dan akan tetap mengikuti proses hukum yang ada. Pak Cokro merasa tidak terlibat akan masalah ini. Itu artinya pak Cokro tak mungkin bisa tertangkap. Pak Cokro tahu kasus ini tak akan pernah bisa terungkap karena yang membunuh ketiga pemuda itu bukanlah manusia, melainkan Lulun samak yang selama ini disembah oleh pak Cokro. Ditemani oleh sang putri, pak Cokro masih tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya, bahkan pak Cokro juga ikut memberi makan sapi-sapi miliknya.