Pagi itu, pak Cokro terkejut ada tiga pemuda yang meninggal di peternakan miliknya. Pemuda itu meninggalkan truknya didepan peternakan milik pak Cokro. Sontak seluruh karyawan pak Cokro juga terkejut melihat hal ini. “Jangan ada yang menyentuh ketiga mayat itu!” Ucap pak Cokro kepada para karyawannya. Pak Cokro tidak ingin jika karyawannya terlibat akan kematian yang terjadi kepada mereka. Semua karyawan pak Cokro tampak mengerubungi ketiga jenazah itu, tapi mereka tetap menjaga jaraknya sesuai dengan apa yang diperintahkan pak Cokro. Pak Cokro lalu menghubungi polisi untuk mengungkap kematian ketiga orang yang tidak dikenalnya itu. Tak lupa pak Cokro pun juga menghubungi putri dan juga ibunya untuk segera datang ke lokasi kejadian meninggalnya ketiga orang asing itu.
Sampailah Wulan dan Bu Sekar di peternakan yang dikelola pak Cokro. Wulan langsung memeluk ayahnya dengan wajahnya penuh dengan kekhawatiran, “ada apa ini ayah?” tanya Wulan. “Lihat nak..,” ucap pak Cokro sambil menunjuk kearah ketiga pemuda yang telah tewas itu. Wulan dan Bu Sekar tampak kaget setelah melihat ketiga jazad pemuda itu. Ketiga jazad itu tidak terlalu tua, bahkan terlihat masih muda. Mungkin usianya sekitar tiga puluh tahunan. Wulan masih berada dalam pelukan ayahnya dan tak melepaskannya. Wulan tampak agak tenang setelah mengamati wajah ketiga pemuda itu. Wulan juga tak mengenal ketiganya.
Polisi pun datang ke lokasi peternakan pak Cokro dan langsung memasang garis polisi ditempat ketiga pemuda yang telah tak bernyawa itu. Polisi langsung membawa ketiga jazad pemuda itu kerumah sakit untuk di otopsi. Polisi juga membawa pak Cokro dan beberapa orang untuk dijadikan saksi atas tewasnya ketiga pria asing itu. Wulan lah yang menemani pak Cokro ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian yang akan diberikan ayahnya. “ayah tenanglah...,” ucap Wulan kepada ayahnya. Memang ketiga pria itu seperti sengaja dibunuh dan ditumpuk mayatnya persis didepan sapi-sapi milik pak Cokro. Ada bekas cekikkan dan juga seperti bekas cabikan di d**a salah satu pemuda itu.
Selama kurang lebih tiga jam lamanya pak Cokro dimintai keterangan atas kematian ketiga pria itu. Polisi juga sudah mengantongi identitas ketiga pemuda yang telah tewas itu. Mereka rupanya berasal dari kecamatan lain. Rumahnya kira-kira sepuluh kilometer dari rumah pak Cokro. Mereka membawa truk saat menuju ke peternakan milik pak Cokro. Mereka juga meninggalkan truk mereka di halaman depan peternakan milik pak Cokro. Seketika pak Cokro langsung teringat akan sesembahannya. Pak Cokro lalu tersenyum dan mulai sadar bahwa ketiga pria itu mungkin akan mencuri sapi-sapi miliknya, tapi dicegah oleh Lulun samak itu.
Tak ada penahanan terhadap pak Cokro, pak Cokro lalu pulang dengan beberapa anak buahnya dan juga putrinya. Mereka memang belum terbukti bersalah atas kasus kematian ketiga jenazah itu. Selama perjalanan pulang, banyak perbincangan antara pak Cokro dan putrinya. “ayah..., Kira-kira siapa yang membunuhnya ya? Dan apa yang menyebabkan mereka terbunuh? Apakah ayah punya pandangan?” tanya Wulan. “Ayah tidak tahu nak. Ayah juga bingung dan tak punya pandangan apapun.” Jawab pak Cokro. Wulan lalu menatap tajam mata ayahnya. Wajah pak Cokro tampak biasa saja dan tidak ada raut kekhawatiran pada wajahnya. Wulan tetap berfikir positif kepada ayahnya bahwa ayahnya benar-benar tidak terlibat oleh kematian ketiga pemuda itu.
Sampailah Wulan dan pak Cokro kerumahnya. Bu Sekar pun sudah menunggu mereka, “nak, bapak..., Akhirnya kalian berdua pulang juga.” Ucap Bu Sekar tampak lega karena tidak ada penahanan terhadap sang suami. “iya ibu..., Kita tunggu hasil otopsi dari rumah sakit atas meninggalnya ketiga laki-laki itu.” Jawab Wulan. “Ibu tak perlu khawatir, kami akan baik-baik saja. Kami juga tidak terlibat akan kematian ketiga pemuda itu. Ibu sendiri kan tahu semalam bapak juga dirumah.” Ucap pak Cokro kepada sang istri. “iya benar..., Semalam ayahmu ini dirumah nak, dikamar lebih tepatnya.” Ucap Bu Sekar menimpali. “baiklah ayah, ibu..., Kita tunggu saja hasil otopsi dari rumah sakit, setelah itu kita akan mengetahui hasilnya.” Ucap Wulan kepada kedua orang tuanya.
Mereka pun melakukan aktivitas mereka dikamar masing-masing. Pak Cokro dan Bu Sekar juga masuk kedalam kamar mereka, “bapak, kira-kira siapa ya yang tega membunuh ketiga pemuda itu? Ibu agak ngeri melihat jenazah mereka.” Ucap Bu Sekar saat sedang duduk bersama pak Cokro didalam kamar mereka. “Bapak juga tidak tahu Bu, biarkan nanti polisi yang mengungkap kematian mereka. Bapak tidak mau ambil pusing, mungkin dalam beberapa hari kedepan bapak akan menutup produksi s**u dan meminimalisir kedatangan karyawan, mungkin bisa di shift.” Ucap pak Cokro.
Bu Sekar pun juga menyetujui keinginan pak Cokro itu dan yang paling penting adalah suaminya tidak terlibat akan kematian ketiga pemuda itu. Didalam kamar itu pak Cokro sempat berfikir tentang Lulun samak yang membunuh mereka. Itu artinya kesalahan mereka sangat fatal kalau sampai Lulun samak membunuh mereka bertiga. Pak Cokro juga ingat akan ketiga pria yang juga pernah menyatroni rumahnya. Mereka tak sampai dibunuh tapi hanya dibuat bingung oleh Lulun samak sampai mereka tak tahu pintu keluar rumah pak Cokro saat itu. “apa yang mereka perbuat sampai Lulun samak membunuh mereka?” tanya pak Cokro dalam hatinya.
Saat malam tiba setelah kematian ketiga orang asing yang berasal dari kecamatan sebelah itu pun pak Cokro menemui sesembahannya lagi didanau seperti biasanya. Pak Cokro lalu duduk bersila ditepian danau dan membaca mantra pemanggil Lulun samak itu. Tak menunggu lama, Lulun samak itu pun datang dengan diawali air danau yang tampak bergemuruh. “ya Cokro..., Akulah yang membunuh mereka bertiga!” ucap Lulun samak itu tanpa pak Cokro bertanya terlebih dahulu. “apa yang membuatmu sampai ingin membunuh mereka, sedangkan dulu saat ada orang ingin merampok rumahku, kau tak langsung membunuh mereka?” tanya pak Cokro yang tampak heran. “hahaha..., Memang aku ingin memberi pelajaran kepada semua orang bahwa hartaku tidak boleh diambil oleh siapapun. Mereka ingin mencuri sapi-sapi milikmu, Cokro. Aku sudah memperingatkan mereka dengan cara aku membuat truk mereka mogok, tapi mereka tetap saja ingin mengambil sapi-sapi itu. Bukan hanya satu, tapi beberapa sapi akan mereka ambil dengan menggunakan truk itu. Lalu aku membunuh mereka. Ada alasan kenapa aku langsung membunuh mereka saat malam itu juga. Hal itu dikarenakan mereka tidak bekerja denganku dan juga berhubungan denganmu.” Ucap Lulun samak itu. Pak Cokro pun langsung mengerti bahwa saat stafnya korupsi uangnya, Lulun samak itu tetap membiarkannya, namun saat putrinya memecatnya, Lulun samak itu pun langsung mengambil jiwanya.