Rencana pembongkaran kamar mandi umum

1049 Kata
Sore ini, para warga sudah berkumpul dirumah Wulan, tepatnya di tepi kolam renang rumah Wulan. Wulan mengumpulkan mereka dengan tujuan untuk membahas pembongkaran kamar mandi umum yang dibangun olehnya. Para warga tampak melihat rumah Wulan yang tampak mewah dengan arsitektur modern dan juga banyak banyak pajangan mewah disetiap sudut rumahnya. Warga tampak senang saat berada dirumah Wulan. Rumah itu tampak sejuk, bersih dan juga menenangkan saat mereka melewati ruang tamu menuju pekarangan kolam renang. “Baik..., Semuanya sudah berkumpul ya, terima kasih pak RT.” Ucap Wulan yang memulai berbicara didepan para warga yang diundangnya. “tujuan saya mengumpulkan anda semuanya disini tentunya kita akan memusyawarahkan tentang kamar mandi yang tempo lalu ada kejadian dua remaja yang telah meninggal disana. Memang saya adalah orang yang membangun kamar mandi itu, tapi saya anggap itu bukan milik saya, melainkan milik kalian semua, para warga.” Ucap Wulan panjang lebar. Wulan pun juga meminta pendapat kepada warga yang biasa mencuci dan mandi disana. Ada yang setuju jika kamar mandi itu dibongkar agar tidak terjadi lagi kejadian yang sama seperti sebelumnya. Namun, banyak juga yang tidak setuju kamar mandi itu dibongkar dikarenakan banyak warga menggantungkan aktivitas mereka disana seperti mandi dan mencuci pakaian. “begini teh..., Teteh kan tahu sendiri, sudah banyak warga menggantungkan aktivitas mereka disana. Semenjak ada kamar mandi itu, sudah tidak ada lagi orang tenggelam didanau. Teteh kan tahu sendiri jika orang-orang yang tenggelam di danau itu tak pernah ditemukan lagi jazadnya.” Ucap pak RT selaku pemimpin warga. Wulan pun lalu berfikir sejenak mengenai pembongkaran kamar mandi yang akan dilakukannya. Para warga sangat senang dengan sikap Wulan yang tidak angkuh dan langsung membongkar kamar mandi itu walaupun dia sendiri yang membangunnya. Karena ada yang setuju dan tidak, Wulan lalu memberikan kertas kecil kepada para warga untuk menulis kata setuju atau tidak dan Wulan akan menghitung berapa jumlah orang yang setuju dan berapa jumlah orang yang tidak setuju. Tak lama saat Wulan sedang membahas masalah pembongkaran kamar mandi, datanglah ayah dan ibu Wulan. Mereka baru saja pulang dari tempat mereka bekerja seperti biasanya. Karena sebentar lagi jam makan malam akan dilaksanakan, Bu Sekar dan pak Cokro bermaksud untuk mengajak para warga untuk makan bersama di area kolam renang rumahnya. Para warga dengan senang hati memakan makanan yang disediakan oleh pak Cokro. Pak Cokro ingin jika orang yang akan keluar dari rumahnya harus pulang dengan perut kenyang. Sambil mereka makan, Wulan dibantu oleh Asep membuka satu persatu kertas yang ditulis oleh warga dan menghitung berapa banyak orang setuju atau tidak setuju dengan pembongkaran kamar mandi umum itu. Wulan dan Asep menghitung jumlahnya dan banyak yang tidak setuju dengan pembongkaran kamar mandi umum itu. Saat itu juga Wulan mengumumkan tidak akan membongkar kamar mandi umum itu. Wulan juga berharap semoga tidak ada lagi kejadian-kejadian buruk yang terjadi dikamar mandi yang telah dibangunnya itu. Memang semenjak kamar mandi itu dibangun, intensitas kematian warga yang tenggelam didanau bahkan tidak ada. Tapi baru kali ini ada sepasang remaja yang meninggal dengan cara tidak wajar akibat dicekik oleh Lulun samak. Tentunya hal itu hanya pak Cokro yang tahu, tapi pak Cokro menyimpannya. Tak satu pun orang yang tahu akibat dari meninggalnya sepasang remaja itu. Mereka tahunya sepasang remaja itu meninggal akibat alat kelamin yang dempet. Setelah menghitung jumlahnya, ternyata lebih banyak warga yang tidak setuju jika kamar mandi umum itu dibongkar. Wulan lalu mengurungkan niatnya untuk membongkar kamar mandi umum itu. Para warga pun pulang kerumah mereka masing-masing setelah makan bersama dirumah Wulan. Mereka pulang dengan perut yang kenyang dan makan makanan enak dari rumah pak Cokro. Jika ada undangan panggilan kerumah pak Cokro, sudah pasti mereka sangat bersemangat karena pak Cokro akan selalu memberi mereka makan yang enak yang tak pernah mereka makan. Pernah suatu ketika pak Cokro menyembelih lima puluh ekor bebek dan membuatnya bebek bakar lalu dibagikan kepada warga  sekitar. Tentunya hari itu mereka makan enak pemberian dari pak Cokro. Setelah itu mereka tidak lagi makan makanan enak selain pemberian dari pak Cokro. “Kang Asep, tolong masukkan kursi ini ke gudang ya.” Ucap Wulan kepada Asep, supir pribadi keluarga pak Cokro. “Baik non..,” ucap Asep lalu membereskan kursi-kursi itu dan memasukkannya lagi didalam gudang. “Bagaimana nak?” tanya pak Cokro kepada putrinya. “Hmm..., Banyak yang tidak setuju kamar mandi itu dibongkar, ayah. Untung saja ayah memberi tahuku mengenai hal ini, jadi aku tak langsung membongkarnya.” Ucap Wulan. “Iya nak..., Kamar mandi umum itu sudah bukan milikmu lagi walau kau yang mengeluarkan uang untuk membangunnya. Kamar mandi itu milik warga, sudah menjadi hak mereka untuk menentukan apakah kamar mandi itu dibongkar atau tidak.” Ucap pak Cokro. “Ya ayah..., Terima kasih ayah.” Ucap Wulan sambil memeluk ayahnya. Pak Cokro pun tersenyum sambil mencium kepala sang putri. Lagi-lagi pemandangan keluarga hangat tampak pada keluarga pak Cokro. “Ayah..., Aku membawa laporan keuangan dari perkebunan teh, ayah boleh memeriksanya. Ayah diruang tamu dulu ya, aku akan mengambilnya.” Ucap Wulan kepada ayahnya. Pak Cokro pun lalu berjalan kearah ruang tamu sambil menunggu putrinya, sedangkan Wulan berjalan kekamar untuk mengambil laporan keuangan perkebunan teh yang dikelolanya. Tak menunggu waktu lama, Wulan pun berjalan keruang tamu sambil membawa berkas-berkas. “Nak..., Tak perlu kau melaporkan semua ini kepada ayah, kau boleh menggunakan uang dari hasil perkebunan itu sesuai dengan apa yang kau inginkan. Ayah percaya kepadamu, kau pasti akan menggunakannya dengan bijak.” Ucap pak Cokro. “Bukan begitu maksud Wulan, ayah. Paling tidak ayah tidak lupa bahwa ayah telah memiliki perkebunan teh. Dengan uang ini ayah bisa membeli ladang lagi untuk perkebunan anggur sesuai rencana Lan.” Ucap Wulan. “Hahaha..., Baiklah putriku. Kau ini memang anak yang bisa diandalkan. Dengan memilikimu, ayah tak perlu lagi orang lain untuk membantu ayah mengelola bisnis ayah ini.” Ucap pak Cokro sambil tertawa. Pak Cokro dan Wulan berbincang-bincang diruang tamu sampai pukul sembilan malam. Tidak hanya berbincang, mereka juga teekadnag bercanda dan saling mengejek satu sama lain. “Ayah..., Ayah tak boleh memakai baju berwarna merah, nanti Wulan tidak bisa membedakan antara ayah dan ibu, hahaha...,” celoteh Wulan. “Awas ya kamu, dasar anak kurang ajar!” ucap pak Cokro lalu mengejar Wulan. Wulan pun lalu berlari dan langsung masuk kedalam kamarnya dan langsung mengunci pintunya agar ayahnya tak bisa masuk kekamarnya. Mereka saling bercanda sampai larut malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN