“kau tahu Cokro, aku yang telah membunuh kedua muda-mudi itu. Akulah yang mencekik leher mereka saat mereka melakukan hal kotor itu.” Ucap Lulun samak kepada pak Cokro saat mereka berdua bertemu di danau, tempat biasa mereka berkomunikasi. “Lalu apa yang membuatmu melakukan hal itu?” Tanya pak Cokro. Pak Cokro tampak heran karena ini bukan membahas masalah tumbal.
“Hahahaha....., Aku muak melihat perbuatan b***t mereka!” Jawab Lulun samak itu lantas terkekeh.
“Lalu bagaimana dengan kedua jiwa mereka?” Tanya pak Cokro penasaran.
“Ya...., Mereka ikut bersamaku, mereka telah dikalahkan oleh hawa nafsu mereka sendiri sehingga kini mereka menjadi budakku!” ucap Lulun samak itu lagi.
Pak Cokro dan Lulun samak itu berbincang sampai menjelang fajar tiba. Banyak pelajaran yang pak Cokro ambil dari kejadian kedua remaja yang tewas didalam kamar mandi itu. Penyebab mereka meninggal bukan karena dempet dan sebagainya, tapi karena mereka dicekik oleh Lulun samak itu. Tentu saja hanya pak Cokro yang mengetahui akan hal ini. Semua orang mengira mereka mereka mati akibat dempet tapi kenyataannya bukanlah seperti itu. Sekali lagi pak Cokro mendapatkan pelajaran atas peristiwa yang baru saja terjadi. Walau pak Cokro tidak melihat hal itu secara langsung, tapi pak Cokro bisa merasakan apa yang dirasakan kedua orang tua masing-masing remaja itu. Mereka pasti merasa sangat malu, banyak orang yang akan membahas dan membicarakan hal buruk tentang mereka berdua selama beberapa hari kedepan.
Pak Cokro terkadang punya rasa syukur karena mempunyai putri seperti Wulan. Walaupun Wulan pernah tidak tinggal bersama dengan kedua orang tuanya, pak Cokro yakin selama di Amerika Wulan hanya fokus belajar saja, buktinya Wulan tidak mempunyai kekasih selama tinggal di Amerika, mengingat pergaulan disana amat sangat bebas. Walau sudah pernah tinggal di Amerika, Wulan tak melupakan adat ketimurannya. Bagi pak Cokro, Wulan tak pernah pernah melakukan kesalahan fatal, hanya saja Wulan mencintai orang miskin seperti Candra, tapi menurut pak Cokro, itu bukanlah sebuah kesalahan. Terpaksa pak Cokro merestui Wulan dan juga Candra atas saran dari Lulun samak itu. Sesampainya dirumah, pak Cokro langsung membaringkan tubuhnya tepat disebelah sang istri. Pak Cokro lalu memejamkan matanya.
Keesokan paginya, pak Cokro yang menunggu Wulan untuk sarapan pun yang ditunggu tak kunjung datang. “Bu..., Panggil Wulan, barangkali dia belum bangun.” Ucap pak Cokro kepada Bu Sekar. Bu Sekar pun melaksanakan perintah pak Cokro. Bu Sekar lalu mengetuk kamar Wulan dan langsung membuka pintu kamarnya. Benar, Wulan masih tidur diatas kasurnya dan masih berselimut rapat. “Nak..., Wulan..., Bangun, hari ini kok tidak bersiap-siap ke perkebunan?” tanya Bu Sekar lembut sambil mengelus kepala Wulan. “Bu..., Hari ini Wulan mau dirumah saja.” Ucap Wulan tanpa menengok kearah sang ibu. “Memangnya kenapa nak? Apa kau sakit?” tanya Bu Sekar sambil memeriksa kening Wulan. Wulan lalu menggeleng dan tersenyum, “tidak Bu..., Wulan hanya ingin istirahat sehari saja. Boleh kan Bu?” tanya Wulan. “tentu saja boleh nak..., Yasudah, nanti ibu akan menyuruh mbak Aminah untuk mengantar sarapan kekamarmu saja ya,” ucap Bu Sekar lalu mencium kening Wulan. Bu Sekar lalu pergi meninggalkan kamar Wulan untuk kembali ke meja makan bersama dengan pak Cokro.
“Ada apa Bu? Dimana Wulan?” tanya pak Cokro. “Benar pak..., Wulan masih tidur, hari ini katanya mau istirahat sehari, Wulan ingin dikamar saja, katanya.” Jawab Bu Sekar tenang. Pak Cokro pun langsung bergegas kekamar Wulan untuk melihat keadaan sang putri. Tidak biasanya Wulan bersikap demikian. Sebelum masuk kekamar Wulan, pak Cokro selalu mengetuk pintunya terlebih dahulu. Pak Cokro lalu masuk dan melihat keadaan putrinya dengan tubuh yang masih tertutup selimut. “Wulan..., Sakit nak?” tanya pak Cokro. “ayah..., Tidak ayah, Wulan tidak sakit, tapi Wulan mau ijin tidak masuk ke kantor boleh kan ayah?” tanya Wulan. “ya tentu saja boleh nak..., Kenapa pagi ini tidak ikut sarapan? Apakah ayah harus menemanimu?” tanya pak Cokro agak sedikit panik. Wulan lalu menggeleng sambil melayangkan senyum di bibirnya, “tidak ayah..., Wulan sendiri saja.” Jawabnya. “Oh iya ayah..., Ayah tidak perlu khawatir, Wulan tidak sakit, tapi hanya ingin beristirahat saja.” Ucap Wulan menambahi. “baiklah..., Jaga dirimu baik-baik ya nak.” Ucap pak Cokro sambil mengecup kening sang putri.
Pak Cokro lalu kembali ke meja makan untuk sarapan berdua bersama sang istri. “Wulan tidak kenapa-kenapa kan pak?” tanya Bu Sekar. Pak Cokro lalu menggeleng, “dia hanya ingin istirahat saja Bu...,” jawab pak Cokro.
“mbak Aminah..., Mbak..., Tolong siapkan sarapan untuk Wulan kekamarnya ya, Wulan hanya ingin makan dikamar saja katanya.” Ucap Bu Sekar kepada mbak Aminah dengan suara yang agak keras. “Baik Bu...,” jawab mbak Aminah patuh. Pak Cokro dan Bu Sekar pun berangkat ke area pekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan Wulan masih berada dikamarnya dengan memakai selimutnya. “permisi non Wulan...,” ucap mbak Aminah sambil membawakan makanan dan segelas s**u hangat. “Pagi mbak..., Terima kasih ya mbak.” Ucap Wulan yang berusaha duduk tetap dikasurnya. “Non Wulan tidak sakit kan?” tanya mbak Aminah. “Tidak mbak...,” ucap Wulan sambil meminum s**u hangat yang baru saja diantar oleh mbak Aminah. Mbak Aminah lalu duduk didepan Wulan yang masih bersandar dikasurnya. “Tumben non Wulan seperti tidak bersemangat.” Ucap mbak Aminah. “Iya mbak..., Saya masih shock dan masih kepikiran soal kedua remaja yang meninggal dikamar mandi yang saya buat.” Ucap Wulan. “iya non..., Saya juga kemarin mendengar, tapi saya tidak melihat secara langsung, kasihan ya non kedua orang tua remaja itu, anaknya sudah meninggal dan pasti jadi omongan warga.” Ucap mbak Aminah. “iya mbak..., Itu sudah pasti. Oh iya mbak..., Tolong bilang kepada kang Asep untuk mengumpulkan para warga kerumah ini, kita ngumpul ditepi kolam renang ya, tolong mbak Aminah bersihkan area itu dan ambil kursi di gudang untuk mereka duduk. Mbak Aminah juga siapkan makanan ringan untuk para warga yang nantinya akan saya kumpulkan.” Ucap Wulan. “jam berapa non?” tanya mbak Aminah. “Pukul lima sore saja mbak, saya ingin membahas pembongkaran kamar mandi umum yang baru saja terjadi peristiwa tidak mengenakkan itu.” Ucap Wulan. “baik non..., Kalau begitu saya permisi dulu. Jangan lupa dimakan sarapannya ya non.” Ucap mbak Aminah yang berlalu begitu saja.
Mbak Aminah pun menyuruh Asep untuk melaksanakan perintah Wulan. Asep pun langsung bergegas kerumah warga dari satu warga ke warga lainnya. Tujuannya adalah untuk membongkar kamar mandi yang pernah dibuat m***m oleh kedua remaja itu.