Diduga mati karena dempet

1048 Kata
Ditemukan sepasang muda-mudi dengan tubuh dan alat kelamin yang masih menempel satu sama lain tanpa memakai busana. Pak RT lalu melihat wajah kedua pemuda-pemudi itu. Betapa kagetnya pak RT saat melihat bahwa kedua muda-mudi itu ialah Bagas dan juga Rani. “Candra! Kamu panggil kedua orang tua Bagas dan juga kedua orang tua Rani! Ini pakai saja motor saya!” Ucap pak RT itu tampak panik. “Tolong jangan ada yang menyentuh keduanya sebelum mendapat ijin dari kedua orang tuanya!” Perintah pak RT kepada warganya. Para warga bisa melihat kedua jenazah pemuda-pemudi itu tanpa busana apapun. Pak RT lalu menyuruh istrinya untuk mengambil kain jarik yang ada dirumahnya untuk menutupi tubuh kedua jenazah itu. Tak membutuhkan waktu lama, Candra pun kembali dengan memboncengkan ayah dari Rani dan juga ayah dari Bagas. Sedangkan ibu-ibu keduanya disuruh Candra untuk menyusul saja. Disusul oleh istri pak RT membawa kain jarik untuk menutupi tubuh keduanya. “tutupi dulu Bu tubuh mereka.” Ucap pak RT kepada sang istri. Kedua orang tua Bagas dan Rani seakan tak percaya jika putra putri mereka meninggal dengan cara seperti itu. Tubuh keduanya menjadi tontonan warga sekitar yang melihatnya. Candra juga sudah mengabari Wulan bahwa ada insiden dikamar mandi umum yang telah dibangunnya. Wulan yang dikabari itu pun langsung bergegas menuju kedanau dengan menaiki kuda kesayangannya. Sesampainya disana, di area itu sudah agak ramai dengan orang-orang yang ingin melihat jasad keduanya. Saat Wulan ingin melihat jenazah Rani dan juga Bagas, para warga lalu memberi jalan untuk Wulan. Wulan tampak terkejut dengan kedua jenazah itu dengan alat kelamin yang masih menempel satu sama lain. “ada apa?” bisik Wulan ditelinga Candra. “dempet.” Bisik Candra singkat. Wulan lalu langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. “Kedua orang tua Rani dan kedua orang tua Bagas, mau dilaporkan polisi atau bagaimana? Atau langsung diurus pemakaman saja?” tanya pak RT meminta pendapat kedua orang tua Rani dan juga Bagas. Mereka sepakat untuk tidak membawa hal ini ke kepolisian. Cukup dimakamkan saja dengan layak. Para ibu-ibu dan bapak-bapak pun berusaha untuk memisahkan mereka. Wulan juga membantu memegangi jenazah perempuan. Tak membutuhkan waktu lama, mereka lalu bisa terpisahkan. Sebelum membawa kedua jenazah itu dirumah duka, pak RT dan Bu RT pun menyelimuti tubuh keduanya dengan kain jarik itu sebelum membopongnya. Setelah kedua jenazah sudah berada dirumah masing-masing, Wulan tak meninggalkan kamar mandi yang dibangunnya. Ditemani oleh Candra, Wulan duduk ditepi sekitaran danau. Wulan tampak sedih dengan kejadian yang baru saja dilihatnya. Kamar mandi yang dibuatnya untuk membantu warga mendapatkan fasilitas mereka pun disalah gunakan oleh kedua pemuda-pemudi itu. Candra pun menenangkan Wulan dan membantu Wulan agar Wulan bisa membuka pikirannya lebih luas lagi. “sudah berapa banyak orang yang melakukan hubungan terlarang itu disini ya Candra?” tanya Wulan dengan tubuh yang tampak lemas. “aku rasa baru kali ini saja, selebihnya semoga tidak ada lagi. Yang ini biarlah menjadi pelajaran bagi para remaja dan kita semuanya.” Ucap Candra. Wulan tapi merasa bersalah atas pembangunan kamar mandi umum itu. “kalau saja aku tidak membangun kamar mandi ini, mungkin kedua remaja itu tidak akan mati disini.” Ucap Wulan. Candra lalu menghela nafasnya, berharap ucapannya bisa menenangkan kekasihnya. “semuanya bukankah sudah digariskan oleh yang maha kuasa?” ucap Candra. “ayo kita pulang...,” ucap Wulan lalu berdiri dan menghampiri kuda kesayangannya. Candra pun mengambil sisa dagangannya dan bermaksud akan membagikannya kepada para tetangganya. Wulan lalu memacu kudanya secara perlahan ke perkebunan teh miliknya. Selama perjalanan menaiki kudanya, Wulan berfikir tentang kedua muda-mudi itu. Mereka masih sangat muda, tapi mereka sudah mempunyai pikiran untuk melakukan hal itu dikamar mandi itu. Sungguh, nafsu bisa mengalahkan akal sehat. Lalu Wulan bersyukur karena mempunyai kekasih seperti Candra, Candra adalah laki-laki yang tidak neko-neko menurut Wulan. Pemikirannya selalu positif dan juga sederhana. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, sekitar pukul empat sore, Wulan pulang kerumahnya dengan menaiki kuda kesayangannya. Kali ini Wulan tidak memacu kudanya dengan kencang. Perlahan berjalan dengan santai, kuda Wulan pun seperti merasakan perasaan Wulan. Wulan memang sangat terkejut dengan peristiwa yang baru saja terjadi di kamar mandinya. Wulan benar-benar merasa shock atas kejadian itu. Sampailah Wulan dirumah dan memasukkan kudanya dikandangnya. “Putih..., Istirahatlah.” Ucap Wulan sambil mencium kepala bagian atas kuda itu. Wulan masuk kerumahnya dengan keadaan lesu. Dikandang Wulan melihat ada kuda kedua orang tuanya, itu artinya kedua orang tua Wulan sudah pulang terlebih dahulu. Melewati ruang tamu tidak ada orang pun disana, Wulan lalu langsung masuk kekamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Saat mandi pun Wulan masih teringat akan kedua jenazah sepasang remaja itu. Setelah selesai mandi, seperti biasanya, untuk menunggu waktu makan malam tiba, Wulan biasanya berkumpul dengan kedua orang tuanya diruang tamu. Wulan lalu menceritakan kejadian yang baru saja terjadi di kamar mandi yang telah dibangunnya. “Menurut ayah dan ibu, apakah aku harus membongkar kamar mandi itu?” tanya Wulan yang tampak bimbang dan takut. Wulan tidak ingin kejadian serupa terjadi lagi. “Hmm..., Menurut ayah, tidak perlu nak. Kalau kau bongkar kamar mandi itu, orang-orang juga akan merasa rugi dan mereka pasti akan melakukan aktivitas mereka di danau seperti semula.” Ucap pak Cokro. Wulan tampak terdiam dengan jawaban sang ayah. “Sudah, Wulan. Tidak usah difikirkan lagi. Kasihan jenazahnya, doakan saja dosa-dosa mereka terampuni.” Ucap Bu Sekar menenangkan putrinya yang tampak merasa bersalah dengan kejadian yang baru saja terjadi. Mereka pun makan malam bersama, tapi kali ini wulan tampak lebih banyak diam tidak seperti sebelumnya. Kedua orang tua Wulan sadar jika Wulan merasakan rasa bersalah atas pembangunan kamar mandi yang telah dibangunnya. “sudah Wulan, tidak perlu dipikirkan lagi ya nak.” Ucap Bu Sekar sambil mengelus kepala putrinya. “aku masih saja teringat akan hal itu, ibu. Hatiku mengatakan kalau aku harus membongkar kamar mandi itu.” Ucap Wulan. “Baiklah kalau begitu, kau kumpulkan saja para warga disini, kalau mereka setuju, kau boleh membongkarnya, tapi kalau mereka tidak setuju, kau tidak boleh membongkarnya. Kamar mandi umum itu sudah bukan milikmu lagi, Wulan. Kamar mandi itu sudah milik warga meski kau yang membangunnya.” Ucap Bu Sekar. “Hmm..., Baiklah ibu..., Besok Wulan akan mengumpulkan para warga untuk membahas masalah ini.” Jawab Wulan yang berlalu begitu saja kekamarnya. Atas saran dari sang ibu, hati Wulan agak sedikit terbuka untuk mengumpulkan para warga terlebih dahulu sebelum ia mengambil keputusannya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN