Kedua remaja yang menjadi mangsa

1032 Kata
Malam itu, dikamar mandi umum didekat danau yang sangat sepi, ada dua remaja yang sedang berkasih-kasihan didepan area kamar mandi itu. Mereka tampak melihat kearah sekitar dan memastikan bahwa disekitar kamar mandi umum itu telah sepi. Tak ada satu orang pun berkeliaran malam itu dikarenakan jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Entah kenapa muda-mudi itu memutuskan untuk berpacaran disebuah kamar mandi umum itu. Sang laki-laki lalu merayu si perempuan gadis desa itu untuk melakukan hubungan layaknya suami istri ditempat itu. “Tapi aku takut sayang...,” ucap si perempuan. “apa yang kau takuti? Ada aku disini, jika kau hamil, aku yang akan bertanggung jawab.” Ucap si laki-laki meyakinkan. Gadis itu kira-kira berusia tujuh belas tahun dan seumuran dengan si laki-laki. Mereka sedang menggelora sehingga berpacaran secara sembunyi-sembunyi dari kedua orang tua mereka. Mereka yang masih asik berduaan lalu melakukan hal itu dikamar mandi paling ujung agar tidak terlihat oleh orang lain. Saat mereka untuk pertama kali melakukannya, si perempuan itu menahan kesakitannya demi membahagiakan si laki-laki. Perempuan itu lalu merintih menahannya, sedangkan si laki-laki menutup mulutnya. Mereka adalah kedua remaja yang tadi pagi diberi uang oleh pak Cokro, maka dari itu mereka bisa pergi berdua menghabiskan uang itu untuk membeli sesuatu. Saat sedang bersetubuh, alat kelamin mereka menempel dan tidak bisa terpisahkan. Mereka tampak berusaha melepaskan satu sama lain, tapi mereka merasakan kesakitan. Saat mereka sedang berusaha melepaskan alat vital mereka, mereka merasa ketakutan melihat sosok Lulun samak yang muncul tepat didepan keduanya. Malam itu pun Lulun samak mengambil jiwa kedua pemuda-pemudi itu. Seketika nyawanya pun melayang dengan alat vital yang masih menempel. Malam itu tidak ada satu pun orang yang mendengar teriakan mereka berdua ketika Lulun samak mencekik mereka berdua. Mengingat, area kamar mandi umum dan danau itu letaknya agak jauh dari pemukiman warga. Mereka berdua meninggal dengan cara memalukan keluarga mereka. Keadaan mereka yang meninggal dengan posisi itu tentunya akan membuat keluarga mereka merasa malu. Kedua pemuda-pemudi itu kini sudah tak bernyawa didalam kamar mandi yang dibangun oleh Wulan. Untuk pertama kalinya juga kamar mandi buatan Wulan memakan korban. Keesokan paginya, seperti biasa, warga desa selalu kekamar mandi untuk membuang hajatnya, mencuci atau mandi dan keperluan lainnya. Karena kedua jenazah pemuda-pemudi itu letaknya berada dikamar mandi paling pojok dan dengan keadaan pintu yang sedang tertutup, tak ada satu orang pun yang menyadari bawa ada sepasang manusia yang tidak bernyawa berada disalah satu kamar mandi umum itu. “Ibu..., Kok sendirian, memangnya dimana Rani?” sapa salah seorang ibu-ibu yang kebetulan mau kekamar mandi untuk mencuci pakaian. “Iya Bu..., Sejak pagi Rani tidak terlihat, mungkin dia sedang berada di luar.” Ucap salah satu ibu korban yang belum menyadari bahwa sang putri telah meninggal dikamar mandi itu. Setelah mencuci, Bu Erni selaku ibu kandung dari Rani menemukan sapu tangan putrinya yang terjatuh tak jauh dari lokasi kamar mandi umum itu. Bu Erni lalu mengambil sapu tangan itu sambil bertanya-tanya dalam hatinya, “bukankah ini sapu tangan putriku? Kenapa pagi-pagi sekali dia sudah tidak ada dirumah? Bukankah dia bekerja sekitar pukul sembilan pagi? Ini kan masih jam tujuh pagi?” ucap sang ibu dalam hatinya. Banyak pertanyaan yang tak mempunyai jawaban dalam hati Bu Erni. Bu Erni pun tak pikir panjang lalu mengambil sapu tangan putrinya yang terjatuh di area kamar mandi umum itu. Bu Erni membawa sapu tangan putrinya itu dan berharap putrinya sudah berada dirumah saat Bu Erni pulang nanti. Sementara itu, kedua orang tua Bagas mencari-cari Bagas yang dari semalam tidak pulang kerumahnya. Kedua orang tua Bagas bahkan meminta pak RT dan pak RW untuk mencarikan anaknya yang sudah semalaman tidak pulang. “memangnya putra teteh itu dimana pamitnya semalam?” tanya pak RT kepada ibunya Bagas. “pamitnya semalam mau pergi bersama teman-temannya pak, setelah mendapat uang dari pak Cokro, Bagas pamit pergi bersama teman-temannya.” Ucap ibunya Bagas dengan suara yang bergetar. Kepanikan melanda hati kedua orang tua Bagas karena tak biasanya Bagas sampai tidak pulang ketika bermain dengan teman-temannya. “teteh sudah mencari Bagas dimana saja?” tanya pak RT. “sudah pak..., Saya sudah mencari kerumah teman-teman sebayanya yang biasa bermain bersamanya, tapi tak satupun mereka bermain dengan Bagas. Saya mohon pak..., Tolong Carikan Bagas.” Ucap ibunya Bagas memohon. Pak RT sebagai perangkat desa pun mengangguk, ini merupakan tanggung jawab yang harus dipikulnya. Pak RT lalu pergi ke surau untuk mengabarkan kepada masyarakat bahwa Bagas telah hilang, dan bagi ada orang yang bertemu dengan Bagas untuk segera memberi tahu kedua orang tuanya. Dengan begitu seluruh warga akan membantu keluarga Bagas untuk menemukan Bagas. Pagi itu, Wulan yang sudah bekerja dikantornya pun juga mendengar kabar hilangnya Bagas, ayah Bagas adalah karyawan pemetik teh di perkebunan milik pak Cokro. Sementara Bagas masih sekolah dan masih kelas dua SMA, sedangkan Rani hanya lulus SMP saja dikarenakan Rani ingin membantu ibunya untuk bekerja. Rani bekerja sebagai seorang penjual kue dari satu desa ke desa lainnya seperti ibunya. Suatu ketika, Candra merasakan perutnya yang sangat sakit. Candra lalu bermaksud untuk kekamar mandi umum dan meninggalkan dagangannya yang tinggal sedikit itu tak jauh dari danau itu. Candra masuk kekamar mandi disebelah tempat Rani dan Bagas melakukan hubungan terlarang itu. Candra sudah merasa aneh dengan kamar mandi disebelahnya. Kamar mandi itu tertutup tapi tidak ada suara gemercik air setitik pun. Setelah Candra keluar dari kamar mandi, Candra menengok kearah kamar mandi yang disangkanya aneh itu. Masih tertutup dan tak terdengar suara apapun. Candra lalu menempelkan telinganya dipintu kamar mandi itu. Sekali lagi Candra tak mendengar suara apapun. Saat Candra sedang fokus menempelkan telinganya, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya, ia adalah pak RT. “Ada apa Candra?” tanya pak RT yang tampak bingung dengan Candra. “kebetulan ada pak RT disini, ini lho pak, kamar mandi ini, sudah sedari tadi tidak ada suara air atau manusia, tapi pintu ini terkunci.” Ucap Candra. Pak RT pun lalu memeriksanya, menggedor sambil memanggil orang yang berada dikamar mandi itu. “ada orang didalam!” teriak pak RT. Tak ada orang pun yang menjawab. Mendengar ada keributan diarea kamar mandi itu pun, warga segera berkumpul disana. “ayo kita dobrak sama-sama!” perintah pak RT kepada warga yang ada disekitar kamar mandi itu. Candra juga ikut mendobrak kamar mandi itu dan......,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN