Pagi itu, pak Cokro pergi ke danau dengan membawa kuda yang biasa dibawanya berangkat ke peternakan. Bersama dengan sang putri, pak Cokro ingin membagikan sejumlah uang kepada siapapun yang ditemuinya. Tujuan pak Cokro melakukan hal itu adalah, karena pak Cokro ingin menumbalkan salah satu dari mereka. “Wulan..., Bantu ayah membagikan uang-uang ini ya.” Ucap pak Cokro kepada putrinya. Wulan dengan semangat mengambil uang-uang itu. Wulan pun mengumpulkan mereka dan mulai membagikannya, “jangan berebut, semua pasti akan dapat.” Ucap Wulan sambil melayangkan senyumnya. Wulan selalu senang jika ayahnya sudah mulai berbagi.
Tanpa sadar, setiap pak Cokro membagikan uang-uangnya didanau, pasti ada saja orang yang meninggal setelahnya. Orang-orang tidak menyadari akan hal itu. Hanya saja terkadang beberapa dari mereka setelah mendapatkan uang dari pak Cokro, mereka tidak melakukan aktivitas mereka didanau.
Banyak remaja yang juga mendapatkan uang-uang itu, mereka tampak senang bisa mendapatkan uang seratus ribu yang mereka dapatkan secara Cuma-Cuma pagi itu.
Setelah selesai acara bagi-bagi uang, pak Cokro dan Wulan lalu berangkat bekerja ke tempat masing-masing. Di persimpangan jalan, mereka lalu berpisah. Pak Cokro menuju peternakan miliknya, sedangkan Wulan menuju kebun teh yang kini dikelolanya.
Sesampainya disana, Wulan langsung masuk ke kantor perkebunan teh, mereka yang dipilih Wulan untuk menjadi staf pun berangkat lebih pagi dari Wulan. Mereka juga rajin memberikan laporan keuangan kepada Wulan dengan tenang. Tak ada satu pun dari mereka yang terlihat nakal saat diberikan kesempatan untuk memiliki jabatan tinggi.
Para orang tua staf yang dipilih Wulan pun juga tampak bangga karena anak-anak mereka bisa menjadi staf setelah Wulan mengambil alih perkebunan teh milik pak Cokro. Setiap pagi, sebelum memulai aktivitas, Wulan selalu mengumpulkan para staf untuk membahas masalah apapun yang terjadi di perkebunan teh yang dikelolanya kini. “ingat..., Kalian harus tetap berbakti kepada kedua orang tua kalian walaupun kini jabatan kalian lebih tinggi dibanding dengan mereka. Setiap saya berkeliling ke area perkebunan, saya mendengar bahwa orang tua kalian selalu bangga kepada kalian saat kalian saya pilih menjadi staf saya. Memang sengaja saya pilih yang muda-muda dikarenakan kalian ada dimasa produktif. Kalian masih energik dan kalian layak mendapatkan hal itu.” Ucap Wulan saat acara brefing dipagi hari. Tak lupa, Wulan selalu mendengar keluh kesah mereka setiap pagi. Apapun yang mereka utarakan, Wulan selalu mendengarkan mereka.
Seperti biasa, setelah memeriksa keuangan kantor, Wulan selalu berkeliling area perkebunan untuk melihat-lihat dan mengawasi para pekerja disana. Para staf yang jujur dan para pekerja yang rajin, tentunya membuat Wulan seakan beruntung telah memiliki mereka. Sikap ramah Wulan yang membuat mereka tulus bekerja untuk Wulan. Berbeda dengan sebelumnya, para staf yang angkuh terhadap mereka, membuat mereka malas bekerja dan mereka selalu berharap ada perubahan dalam tatanan pekerjaan mereka.
Akhirnya yang mereka inginkan pun terkabul, Wulan yang melihat sendiri para stafnya berbuat semena-mena itu langsung memecatnya. Bukan hanya semena-mena, mereka juga melakukan korupsi besar-besaran untuk kepentingan mereka sendiri. Untung saja Wulan segera mengetahui akan hal itu, kalau korupsi yang mereka lakukan tidak diketahui oleh Wulan, sudah dipastikan bahwa beberapa tahun kemudian, pak Cokro mungkin akan mengalami kebangkrutan karena uang yang keluar lebih banyak dibanding dengan pemasukan.
Pak Cokro sebenarnya membiarkan mereka yang korupsi besar-besaran, toh uang yang mereka ambil adalah uang pemberian sang Lulun samak yang nantinya akan kembali kepada pak Cokro lagi saat Lulun samak itu menginginkan tumbal. Tapi Wulan telah menyelamatkan mereka, Wulan langsung memecat mereka begitu mereka ketahuan melakukan korupsi. Pak Cokro saat itu berpura-pura kaget saat Wulan mengatakan tentang mereka yang korupsi. Secara teori pak Cokro mungkin rugi, tapi sebenarnya pak Cokro mendapatkan beberapa tumbal dari orang yang memakan hartanya secara Cuma-Cuma. Akan sangat mudah pak Cokro menumbalkan mereka yang telah memakan harta pak Cokro secara Cuma-Cuma.
Terkadang, setiap tahunnya, saat pak Cokro mengadakan pesta rakyat dengan membagikan makanan kepada warga desa, pak Cokro selalu mengingatkan mereka untuk makan dengan cukup, mereka boleh memakan sesuai yang mereka inginkan asalkan mereka tak menyisakan sebutir nasi pun di piring mereka. Hal itu dikarenakan, saat makanan mereka tersisa walau sedikit dipiringnya, itu artinya syarat timbal belum bisa terpenuhi dan Lulun samak tak bisa mengambil jiwa mereka yang makanannya tersisa sedikit pun di piringnya.
Pak Cokro selalu memotong sapinya yang paling besar untuk pesta rakyat yang setiap tahunnya dilakukannya. Pernah suatu ketika pak Cokro menyembeli sapi terbesarnya berbobot sekitar tiga ratus kilo gram. Satu sapi yang disembelih pak Cokro bisa membuat perut seluruh warga desa menjadi kenyang.
Pak Cokro mempunyai rencana baru. Pak Cokro ingin sekali membuka pabrik s**u untuk s**u kambing. Dengan membuka peternakan kambing etawa, pak Cokro tentunya harus belajar terlebih dahulu. Sebelum melakukan hal itu, pak Cokro selalu meminta saran kepada sesembahannya itu, lilin samak. Kalau Lulun samak itu bilang tidak, pak Cokro tidak akan melakukannya. Tapi jika Lulun samak itu bilang iya, pak Cokro langsung akan melakukannya. Semua usaha yang pak Cokro lakukan atas dasar pak Cokro meminta saran dari Lulun samak itu. Peternakan sapi, perkebunan teh, dan juga kopi adalah atas saran dari Lulun samak.
Wulan tengah berkeliling area perkebunan teh miliknya dengan menaiki kuda kesayangannya. Wulan tampak gagah berani sebagai seorang wanita yang bisa memacu kudanya dengan baik. Kuda putih yang manis itu adalah kuda kesayangan Wulan yang selalu menemani Wulan melakukan aktivitasnya.
Memang orang terkaya didesa itu adalah keluarga pak Cokro, dan ada juga beberapa orang kaya lainnya tapi kekayaan warga kampung itu jauh dibawah pak Cokro. Orang kaya didesa Wulan biasanya berciri-ciri mempunyai mobil didepan rumahnya. Beberapa merk mobil standar yang pak Cokro mungkin bisa membelinya sepuluh sekaligus itu sudah dianggap kaya oleh warga desa. Pak lurah adalah orang terkaya kedua setelah pak Cokro, tapi kekayaan pak lurah sama sekali tak sebanding dengan pak Cokro. Pak lurah mungkin mempunyai ladang yang biasa dikerjakan oleh buruh harian lepas yang selalu disewanya. Seorang pak Cokro yang hanya warga kampung biasa pun pak lurah akan hormat kepadanya ketika bertemu. Hal itu dikarenakan pak Cokro lebih kaya raya dibanding dengan sang lurah pemimpin desa itu. Begitu pun perangkat desa lainnya yang tak sengaja bertemu dengan pak Cokro, pasti mereka juga akan tunduk dan hormat dihadapan pak Cokro. Pak Cokro sendiri semakin yakin bahwa uang-uangnya lah yang membuat pak Cokro semakin dihormati.