Kali ini, pak Cokro memulai ritualnya ditepi danau yang lokasinya agak jauh dari kamar mandi umum yang telah dibuat putrinya. Banyak yang pak Cokro utarakan kepada sosok lulun samak itu mulai dari bisnis-bisnisnya, persiapan pernikahan sang putri dan juga urusan lainnya. Pak Cokro mau meminta solusi atas pernikahan putrinya yang nantinya akan digelar secara meriah dirumah pak Cokro. Pak Cokro bermaksud untuk mengadakan pesta selama seminggu berturut-turut yang tentunya juga pak Cokro akan mengundang para relasinya. “kau boleh saja melaksanakan pesta seminggu penuh, tapi kau harus buat pesta pertama saat malam Jumat Kliwon,” ucap Lulun samak itu. Pak Cokro pun juga mematuhi perintah Lulun samak itu. Sosok Lulun samak itu juga nantinya akan datang di acara pernikahan Wulan dan Candra.
Tentunya Lulun samak akan datang pada hari pertama pernikahan Wulan dengan menjelma sebaga seorang wanita yang belum pernah ditampilkan dihadapan pak Cokro sebelumnya. Pak Cokro selama ini hanya melihat wujud asli Lulun samak itu. Tampak mengerikan memang, tapi pak Cokro tak pernah takut kepada sosok Lulun samak itu. Mau tak mau, pak Cokro tak bisa menolak kedatangan Lulun samak itu suatu saat nanti jika putrinya telah menikah. “Ingat Cokro..., Malam Jumat Kliwon.” Ucap Lulun samak itu lalu pergi meninggalkan pak Cokro ditepi danau sendirian.
Suasana tampak begitu hening ketika Lulun samak itu pergi meninggalkan pak Cokro. Pak Cokro lalu pulang dengan pikirannya yang tampak khawatir. Banyak pertanyaan aneh yang menghantui pikiran pak Cokro, “apakah saat putriku menikah nanti, apakah itu juga ajalku sebentar lagi?” pertanyaan tanpa jawaban itu menghinggapi pikiran pak Cokro sampai dirumahnya.
Seperti biasa, pak Cokro membaringkan tubuhnya disamping sang istri sambil menatap tajam wajah istrinya yang tampak tidur terlelap disampingnya. Pak Cokro selalu melakukan hal itu dikarenakan pak Cokro tak ingin melewatkan saat-saat bersama sang istri. Entah dirinya ataupun sang istri yang akan mati terlebih dulu, pak Cokro tak peduli akan hal itu. Pak Cokro selalu memanfaatkan kesempatan menatap istrinya setiap ada kesempatan melakukannya.
Suatu ketika, sang istri mengigau memanggil nama pak Cokro. Tapi kali ini lain suaranya, suara yang keluar dari mulut Bu Sekar seperti bukan dari Bu Sekar pada biasanya. Pak Cokro tampak menatap heran sang istri dikarenakan suara sang istri yang tampak berbeda dari biasanya. “bu..., Bu...,” bisik pak Cokro menyadarkan istrinya. Bu Sekar yang mengigau dengan suara aneh itu pun langsung bangun. “Ada apa pak?” tanyanya dengan mata yang masih tertutup. “Ibu tidurlah...,” ucap pak Cokro kepada sang istri. Bu Sekar tak menjawab lagi ucapan pak Cokro dan memilih untuk tertidur kembali.
Keesokan paginya, seperti biasanya, keluarga pak Cokro selalu melaksanakan sarapan pagi sebelum memulai kesibukan masing-masing. “ayah..., Seragam untuk karyawan kebun teh sudah jadi, bagaimana cara Wulan mengangkatnya?” tanya Wulan. “kau suruh saja Asep membantumu, kau masukkan seragam-seragam itu kedalam mobil, lalu biarkan Asep yang menyetirnya. Kau tinggal membuntutinya dari belakang sambil membawa si putih.” Saran pak Cokro. “Ayah selalu mempunyai ide brilian, terima kasih ayah.” Ucap Wulan sambil tersenyum. Setiap pagi selalu saja ada kemesraan antara pak Cokro dan juga sang putri yang menjadi pemandangan Bu Sekar. Bu Sekar selalu bahagia saat pak Cokro dan Wulan tampak akrab seperti pemandangan pagi ini.
Wulan dan pak Cokro tak pernah berdiam lebih lama dari dua Minggu. Seperti sebelumnya, jika mereka sedang marah karena perbedaan pendapat, terkadang Wulan memang mendiamkan sang ayah, tapi jika sang ayah sakit, Wulan lah yang paling khawatir dengan keadaan ayahnya. Begitu juga sebaliknya, jika Wulan sakit, pak Cokro yang khawatir lebih dari sang istri.
Wulan dan pak Cokro sudah sampai ditempat masing-masing. Kini pak Cokro sudah aktif mengelola peternakannya kembali sedangkan Wulan membagikan seragamnya kepada para karyawan perkebunan teh miliknya. “sabar jangan berebut, semuanya akan kebagian masing-masing empat seragam setiap orangnya.” Ucap Wulan saat melihat para karyawannya berebut seragam. “Bu..., Ini gratis kan?” tanya salah seorang karyawan pemetik teh. “iya..., Ini gratis, tidak dipungut uang apapun.” Ucap Wulan sambil tersenyum. Setelah mereka mendapatkan seragamnya, mereka sangat antusias kembali bekerja. Wulan memang memilihkan seragam para buruh pemetik teh itu berlengan panjang dan seragam itu agak tebal untuk melindungi mereka dari sinar matahari. Seragam itu masing-masing berjenis satu setel atasan dan juga bawahan agar mereka tak lagi memakai celana tipis dan seadanya ketika berangkat memetik teh dikebun miliknya.
Banyak para buruh pemetik teh suka dengan cara memimpin Wulan daripada sebelumnya. Wulan sebagai seorang bos tak pernah semena-mena terhadap para karyawan pabrik. Wulan pun juga memberlakukan sistem kekeluargaan pada para karyawannya. Wulan selalu menyapa ramah mereka ketika berjumpa dan selalu membantu apapun yang menjadi kesulitan mereka. Tak seperti sang ayah yang sering memaafkan kesalahan para staf, Wulan justru tak memiliki ampun untuk mereka atas kesalahan mereka yang disengaja itu. Hanya saja Wulan tak memasukkan mereka kedalam penjara.
“Eh..., Itu non Wulan lho, sangat baik sekali sampai memberi kita seragam.” Ucap salah seorang pemetik teh. “iya..., Non Wulan memang sangat baik kepada kita. Sadar tidak, semenjak non Wulan memimpin perkebunan teh ini, makanan disini juga enak-enak lho, aku juga sering membawa makanan itu pulang untuk anak-anakku.” Ucap sesama mereka.
Wulan yang mendengar selentingan itu pun tampak senang, berharap mereka bekerja dengan baik lalu membawa pengaruh yang baik bagi kebun teh yang dikelola wulan saat ini. Wulan pun juga antusias memasarkan teh produksinya mulai keluar pulau dan rencananya akan merambah sampai ke luar negeri agar bisa mendapatkan pendapatan secara maksimal.
Kebaikan Wulan semoga dibalas baik oleh para karyawan yang kini bekerja dengannya. Wulan sangat semangat dalam bekerja, apalagi sekarang setiap pagi Candra selalu membangunkan Wulan dengan cara meneleponnya. Hal itulah yang membuat Wulan selalu semangat dalam bekerja. Tak lupa Candra selalu memperhatikan Wulan dan mengingatkannya untuk makan atau aktivitas lainnya. Wulan merasa bahagia saat Candra memperhatikannya. Memang pak Cokro dan Bu Sekar tak pernah melepaskan perhatiannya, tapi perhatian yang diberikan oleh Candra kepadanya membuatnya sangat bersemangat untuk menjalani hari-harinya.
Tak lupa, Wulan juga selalu menyempatkan diri untuk berkeliling perkebunan teh untuk melihat para pekerja dan juga mencari informasi dan masalah yang sedang dihadapi oleh para pekerjanya. Wulan sangat percaya dengan kepolosan para pekerja, pendidikan mereka memang rendah, mereka juga miskin, tapi jangan pernah meragukan kejujuran mereka. Mereka-mereka lah yang selama ini tulus bekerja dan jujur selama bekerja sampai kejujuran mereka dimanfaatkan oleh para staf yang telah dipecat oleh Wulan.