Wulan kini sudah menemukan orang-orang terpilihnya untuk bekerja dikantornya. Wulan juga sudah mengajarinya dengan baik mengenai hal keuangan dan lain sebagainya. Dengan mengganti orang-orang baru, Wulan berharap akan ada perubahan dalam kemajuan kebun teh yang dikelolanya ini.
“Ayah..., Hari ini aku lumayan lelah,ternyata lebih lelah mengajari dibanding dengan mengerjakan sendiri.” Ucapnya kepada ayahnya. Perubahan yang Wulan lakukan ini pastinya akan berdampak baik bagi perkebunan teh milik ayahnya. Tak lupa Wulan terkadang main di perkebunan kopi yang dikelola oleh Bu Sekar untuk belajar lebih banyak disana.
Sudah beberapa hari ini, sejak Wulan mengelola perkebunan teh milik ayahnya, Wulan pun sudah jarang bertemu dengan Candra. Terkadang dirinya rindu dengan Candra, tapi Wulan agak malu jika harus mengungkapkan kerinduannya. Pak Cokro agaknya lebih senang karena intensitas bertemunya Wulan dan Candra menjadi berkurang. Berharap Candra dan Wulan tidak bersatu, itulah harapan pak Cokro, namun jika mereka bersatu pun tak apa-apa karena Candra adalah calon tumbal bagi keluarga pak Cokro. Dengan menumbalkan Candra, tentunya pak Cokro akan bertambah kaya raya. “nak..., Ayah lihat kau sudah tidak pernah bertemu dengan Candra.” Ucap pak Cokro yang seakan mulai menyetujui antara dirinya dan juga Candra. “ya ayah..., Kita sibuk dengan urusan kita masing-masing, dia dengan usahanya sedangkan aku juga memulai memimpin perkebunan teh kita ini.” Ucap Wulan. “iya nak..., Anak muda memang sebaiknya lebih produktif, ayah sangat bangga kepadamu yang mampu mengungkap keganjilan yang menyebabkan kerugian kepada keluarga kita ini dan yang paling membuat ayah bangga adalah, kamu sangat bijak dengan mengambil keputusan ini.” Ucap pak Cokro kepada putrinya. Wulan lalu membalas pujian ayahnya itu dengan senyumnya.
Hari pun sudah sore, saatnya Wulan dan pak Cokro pulang kerumahnya. Biasanya pak Cokro dan Bu Sekar pulang saat siang hari, tapi tidak dengan Wulan. Wulan memutuskan untuk pulang saat sore hari. Hal itu dikarenakan Wulan ingin memaksimalkan usahanya yang selama ini mengalami penurunan. Tentunya kedua orang tuanya pun menyetujui hal ini.
Sebenarnya Wulan ingin mengajak kekasihnya bekerja dengannya lagi, tapi Wulan mengurungkan niatnya karena pendapatan Candra sekarang lebih banyak dari gaji yang akan ditawarkan Wulan. Candra kini usahanya lumayan maju, dengan pendapatan kotor setiap harinya satu juta lima ratus ribu rupiah bisa mengubah kehidupan Candra menjadi lebih baik lagi. Wulan pun mengagumi usaha sang kekasih yang sedang dirintisnya itu.
Sementara itu, pak Cokro belum membicarakan soal syarat-syarat kepada Candra yang nantinya akan menjadi menantunya. Pak Cokro menginginkan agar Candra ikut bersamanya tinggal bersama Wulan, Wulan pun menyetujui hal itu. Wulan tak ingin berpisah dengan kedua orang tuanya. Mengingat Wulan selalu hidup serba ada, sedangkan dirumah Candra, air saja tidak tersedia. Akan sulit bagi Wulan jika dirinya tinggal bersama Candra dirumahnya. Wulan belum membicarakan hal ini kepada Candra dikarenakan mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Malam itu, setelah jam makan malam, Candra bermaksud memberanikan diri untuk berkunjung kerumah Wulan. Mbak Aminah selaku asisten rumah tangga dirumah Wulan pun membukakan pintu untuk Candra. “mbak..., Wulan ada?” tanya Candra pelan. “oh..., Ada, sebentar ya Candra, saya panggilkan non Wulan.” Ucap mbak Aminah ramah. Mbak Aminah menyuruh Candra untuk duduk diruang tamu dan menunggu untuk dipanggilkan Wulan. Mbak Aminah lalu mengetuk pintu kamar Wulan dan memberitahunya mengenai hal ini. Wulan yang merasa kegirangan karena kekasihnya telah datang pun langsung keluar rumah. Mbak Aminah lalu membuatkan secangkir teh untuk Candra.
Wulan lalu menemui kekasihnya itu diruang tamu rumahnya, “malam, Wulan.” Sapa Candra sambil menatap wajah kekasihnya yang tampak cantik jelita itu. Wulan hanya mengangguk sambil tersenyum. Mereka lalu berbincang-bincang dan bercanda bersama disela-sela kerinduan yang mereka berdua rasakan.
Saat mereka berbincang, datanglah pak Cokro lalu menyapa Candra dengan ramah. Candra memang tampak bingung dengan sikap pak Cokro yang berubah dengan cepat. “Candra..., Bagaimana usahamu? Lancar?” tanya pak Cokro. “Alhamdulilah pak...” jawab Candra singkat dengan senyumnya yang menghiasi bibirnya. “Candra..., Mumpung kamu ada disini, dan Wulan juga ada disini. Saya ingin mengatakan bahwa nanti jika kalian menikah, kalian berdua harus tetap tinggal disini. Apakah kau setuju?” tanya pak Cokro tanpa basa basi. Wulan lalu melirik Candra, Wulan melihat mimik wajah kekasihnya itu. Candra lalu melemparkan senyumnya, “baik pak...,” jawabnya tanpa ragu dan tanpa berfikir. Candra berfikir bahwa semua permintaan pak Cokro itu untuk kebaikan putrinya. “Pak..., Tapi saya tetap boleh melanjutkan usaha saya kan?” tanya Candra. “ya...., Tentu saja boleh, kau juga boleh kerumah orang tuamu sewaktu-waktu.” Ucap pak Cokro. Senyum pun lalu menghiasi wajah-wajah mereka bertiga yang sedang duduk diruang tamu.
Setelah mengatakan hal itu, pak Cokro pun meninggalkan mereka berdua agar mereka lebih banyak waktu untuk berbincang. Pak Cokro merasa bahwa Candra adalah anak yang baik. Di zaman yang serba maju ini, masih ada laki-laki seperti Candra yang benar tulus mencintai Wulan. Tak pernah pak Cokro melihat Candra memegang tangan Wulan atau melakukan sentuhan-sentuhan lainnya yang membawa kepada hal perzinahan. Memang begitu adanya, Candra memang tak pernah menyentuh Wulan, mencium pun juga Wulan yang mencium pipinya saat pertama kali Candra menyatakan perasaannya. Candra begitu menghargai Wulan dengan cara tidak menyentuhnya ketika masih berada di tahap berpacaran. Candra hanya memandang wajah Wulan saja ketika sudah merindukan kekasihnya itu. Begitu pun dengan Wulan yang tak keberatan dengan hal itu. Candra masih menjaga budaya ketimurannya saat berpacaran dengan Wulan. Berbeda dengan saat dirinya yang pernah tinggal di Amerika. Berciuman di tempat umum sudah menjadi pemandangan biasa bagi Wulan ketika dirinya tinggal disana.
Saat berada di Amerika, Wulan juga menghindari berpacaran dengan orang Amerika karena perbedaan budaya yang menurut Wulan nantinya akan lebih ribet jika dijalani. Apalagi Wulan adalah pewaris harta sang ayah yang nantinya mau tidak mau dirinya harus mengelolanya.
“Wulan..., Wulan..., Aku ijin pamit dulu ya, hari sudah menjelang malam.” Ucap Candra membuyarkan lamunan Wulan. “baiklah..., Aku panggil ayah dan ibuku dulu, kau mau berpamitan dengan mereka bukan?” tanya Wulan. Candra lalu mengangguk dan Wulan pun memanggil kedua orang tuanya, “ibu..., Ayah..., Candra mau pamit pulang.” Ucap Wulan sambil memanggil kedua orang tuanya. Tak lama setelah itu datanglah pak Cokro dan Bu Sekar menghampiri Candra. Candra lalu berpamitan dengan kedua orang tua Wulan dengan mencium kedua tangan orang tua Wulan. Keduanya pun menyambut Candra dengan baik, kesopanan Candra memang patut diacungi jempol. Candra lalu berpamitan untuk pulang, tampaknya dia lega karena sudah melepas rindu dengan kekasihnya itu.