Perjodohan Candra

1046 Kata
“Candra..., Bisa ibu bicara sebentar?” Tanya Bu Indah yang baru saja melihat Candra masuk kedalam rumahnya. Candra lalu menganggukkan kepalanya. Bu Indah meninggalkan suaminya yang sedang tertidur dikamarnya. Mereka berdua berjalan ke ruang tamu rumah mereka. Candra dan Bu Indah pun duduk diruang tamu. “Ada apa Bu?” Tanya Candra. “Nak..., Ibu mau bertanya, di usiamu yang sudah menginjak ke dua puluh tujuh tahun itu apa kau tidak punya rencana untuk menikah?” Tanya Bu Indah. Candra tampak kaget dengan ibunya yang tiba-tiba menanyakan hal itu. “Memangnya ada apa Bu?” tanya Candra. “ya memang..., Ibu tidak peduli apa kata tetangga. Itu ada putri Bu Ida yang baru saja pulang dari luar negeri. Dia meminta ibunya untuk mengatakan kepadamu bahwa dia ingin kamu menjadi suaminya.” Ucap Bu Indah. “anak Bu Ida? Bukankah dia masih berusia dua puluh tahun Bu?” tanya Candra. “Iya..., Usia segitu kan sudah pas untuk menikah, Candra. Apalagi kita ini hidup didesa.” Ucap Bu Indah. “Candra belum memikirkan hal itu Bu. Candra juga tidak peduli apa kata orang tentang Candra yang belum menikah. Kehidupan Candra biarkan Candra yang menjalani.” Ucap Candra yang langsung berdiri dan ingin rasanya mengakhiri perbincangannya dengan sang ibu. “tunggu Candra, apakah ada orang lain dihatimu? Apakah kau sudah mempunyai pilihan sendiri?” tanya Bu Indah yang juga ikut berdiri ingin mengetahui lebih lanjut tentang siapa gadis yang dicintai putranya itu. Candra hanya berdiam sejenak tanpa menjawab pertanyaan ibunya dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Bu Indah tampak gusar dengan putranya yang tidak mau membahas masalah percintaan itu. Bu Indah berencana keesokan harinya untuk memberi tahu temannya itu bahwa Candra sampai saat ini belum ingin menikah walau usianya sudah menginjak di angka dua puluh tujuh. Walaupun Bu Indah dan keluarga hidup dalam kekuarangan, tapi Bu Indah masih mempunyai tabungan yang nantinya tabungan itu akan diberikannya kepada Candra. Walau jumlahnya tidak banyak, tapi tabungan itu bisa dipergunakan untuk persiapan pernikahan putra semata wayangnya itu. Bertahun-tahun lamanya Bu Indah hidup dalam kekurangan semenjak bersama dengan pak Raharjo, apalagi sekarang ini pak Raharjo sakit-sakitan, sudah pasti Bu Indah harus bekerja lebih giat lagi untuk menopang kehidupan keluarga. Bu Indah lalu masuk kedalam kamarnya. Bu Indah membuka lemarinya dan mengambil uang dalam amplop yang baru saja diberikan oleh pak Cokro dua hari yang lalu. Bu Indah mengeluarkan uang itu dan mulai menghitungnya. Bu Indah sangat bersyukur karena mempunyai bos yang sangat perhatian kepada keluarganya, apalagi Wulan. Wulan yang membayar semua biaya rumah sakit ayah Candra yang tidak sedikit itu. Setelah menghitung uang pemberian pak Cokro, Bu indah lalu menyimpannya lagi didalam lemari. Bu Indah pun duduk disebelah suaminya yang sedang berbaring melawan sakitnya. Bu Indah lalu tidur disamping suaminya dan melihat wajah suaminya yang sedang tertidur lelap itu. Sudah tiga puluh tahun lebih Bu Indah menemani pak Raharjo dari pak Raharjo muda sampai sekarang sudah tua. Tak sedikitpun Bu Indah mempunyai pemikiran untuk meninggalkan suaminya itu. Walau hidup dalam kesusahan dan hanya bisa makan sehari hanya satu kali, tak membuat Bu Indah berpaling dari pak Raharjo. Bu Indah tidak pernah memandang berapa uang yang didapat suaminya itu sebagai seorang buruh dipeternakan milik pak Cokro. Bu Indah tahu, setiap suaminya itu menerima upah dari hasil kerjanya, pak Cokro tidak pernah memintanya sedikitpun. Pak Cokro memberikan seluruh upahnya kepada Bu Indah dan Bu Indah yang akan membagi uang itu. Gaji yang diberikan pak Raharjo kepada Bu Indah itu mungkin hanya digunakan untuk bayar listrik saja, sisanya mungkin Bu Indah tabung untuk nantinya melamar gadis untuk Candra. Walau hidup dalam kekurangan, tak membuat Bu Indah merasa menderita dengan kehidupannya. Bu Indah dan pak Raharjo sama-sama hidup dalam kesusahan semenjak beliau masih kecil. Asalkan bisa menikah dengan seseorang yang Bu Indah cintai, hidup Bu Indah sudah merasa cukup. Bu Indah pun lalu tidur disamping suaminya itu. Pak Cokro malam itu kembali bermimpi menemui Lulun samak itu. Didalam mimpi pak Cokro, pak Cokro seperti tidak berada didanau, tapi beliau ada disebuah sungai besar yang tampak asing menurut beliau. Didalam mimpi itu, Lulun samak pun berkata bahwa pak Cokro bisa juga menemui Lulun samak itu di sungai. Lulun samak itu bisa berada dimana-mana asalkan berada dalam sumber air yang besar seperti sungai, danau, rawa dan lain sebagainya. Pak Cokro lalu terbangun dari mimpinya. Pak Cokro lalu melihat istrinya yang sedang terlelap disampingnya. Pak Cokro lalu meminum air putih yang ada dimeja kamarnya itu sambil berfikir, “memangnya disekitar sini ada sebuah sungai?” tanya pak Cokro dalam hatinya. Pak Cokro lalu membangunkan istrinya, “ibu..., Ibu...,” bisik pak Cokro lembut. Bu Sekar lalu membuka matanya. “Ada apa pak? Malam-malam begini kenapa bapak membangunkan ibu?” tanya Bu Sekar. “bu..., Memangnya disekitar sini ada sungai?” tanya pak Cokro. “Bapak ini aneh-aneh saja. Kenapa malam-malam begini tanya sungai, mana ibu tahu?” ucap Bu Sekar lalu menutup matanya lagi karena masih dalam keadaan mengantuk. Pak Cokro lalu membaringkan tubuhnya lagi sambil memikirkan sesuatu dan letak sungai yang ada dikampungnya itu. Keesokan paginya, pak Cokro pun berencana untuk mencari sebuah sungai yang ada dikampungnya itu. Pak Cokro masih penasaran dengan kata-kata Lulun samak yang menghinggapi mimpinya itu. Pak Cokro pun lalu berpamitan kepada putrinya untuk berangkat ke peternakan miliknya. “ayah..., Bolehkah Wulan ikut?” tanya Wulan. “tentu saja boleh nak..., Ayo kita ke peternakan.” Ucap pak Cokro yang tampak senang karena putrinya mau ikut ke peternakan. “Wulan tidak ingin ikut ibu ke kebun kopi?” tanya Bu Sekar. Wulan lalu menggeleng sambil tersenyum. “Lain kali ya Bu.. , pagi ini Wulan ingin ke peternakan dengan ayah.” Ucap Wulan sambil memeluk ibunya. “hmmm..., Baiklah..., Sana ikut ayahmu, tidak perlu mencemaskan ibu.” Ucap Bu Sekar lalu masuk kedalam kamarnya. Wulan dan pak Cokro pun saling memandang, “ibu marah ya Yah?” tanya Wulan tampak bingung dengan sikap ibunya barusan. “hmmm..., Sudah biarkan saja, ayo kita berangkat.” Ucap pak Cokro sambil menggandeng putrinya menuju ke kandang kuda miliknya. Mereka berdua pun berangkat ke peternakan milik pak Cokro dengan menaiki kuda mereka masing-masing. Tujuan Wulan ke peternakan tentu saja hanya ingin bertemu dengan Candra, pujaan hatinya. Karena jika berada didalam rumah, Wulan tidak akan lagi bisa bertemu dengan Candra karena sekarang ini Candra tidak lagi mengantar s**u kerumahnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN