Untuk bertemu Candra.

1053 Kata
Wulan lalu melihat ke arah sekitar peternakan dan tidak menemukan Candra ada disana. Wulan lalu bertanya kepada salah seorang karyawan ayahnya dan benar saja, Candra sudah berangkat mengantar s**u. Wulan jadi bisa bertemu dengan Candra nanti setelah Candra selesai mengantar s**u ke pelosok desa lainnya. Wulan pun lalu menemui ayahnya lagi yang sedang berbincang-bincang itu. “Ayah..., Maaf mengganggu ayah yang sedang berbincang. Ayah..., Wulan mau berjalan-jalan mengelilingi sekitar mungkin sampai ke kebun kopi untuk menemui ibu.” Ucap pak Cokro. “iya..., Boleh nak..., Tapi ayah tidak bisa mengantarmu nak, kau berjalan-jalan sendiri saja berani? Atau ayah menyuruh salah satu karyawan disini untuk menemanimu?” tanya pak Cokro. “hmmm..., Tidak perlu ayah..., Wulan sendiri saja.” Ucap Wulan dengan senyumnya. “baiklah..., Putri ayah ini memang pemberani. Hati-hati ya sayang...,” ucap pak Cokro lalu mencium kening putrinya itu. Wulan pun pergi meninggalkan peternakannya. Wulan ke peternakan hanya ingin bertemu dengan Candra, tapi Candra sudah tidak ada ditempat. Wulan pun menaiki kudanya menuju ke danau. Sesampainya didanau itu, tentunya Wulan melihat masih ada para warga desa yang masih mencuci baju mereka di tepi danau. Dengan melihat kejadian itu, tentu saja Wulan tidak tinggal diam. Wulan langsung menegur para warga yang masih mencuci ditepi-tepi danau itu. “loh..., Ibu-ibu ini kenapa tidak menggunakan kamar mandi umum?” tanya Wulan. “Eh..., Non Wulan..., Kita memakai air sumur untuk membilas non, habisnya kita merasa sayang  sekali jika kita menggunakan air untuk mencuci dan membilas.” Ucap warga desa. Wulan lalu melayangkan senyum manisnya kepada mereka. “ibu..., Air disumur itu tidak akan habis. Ibu boleh mencuci disana dan membilas disana juga ya Bu..., Ibu juga boleh memakai sabun detergen untuk mencuci baju.” Ucap Wulan. “baik non..., Terima kasih non.” Ucap salah seorang ibu-ibu. “oh..., Saya lihat tidak ada yang mencuci menggunakan detergen. Apa kalian tidak mencuci menggunakan detergen?” tanya Wulan. Ibu-ibu ditepi danau itu lalu menggeleng. Mereka sama sekali tidak tahu apa itu detergen. Mereka tidak pernah menggunakan itu. “Baiklah kalau begitu..., Nanti siang atau sore saya akan ke supermarket untuk membeli kebutuhan bulanan saya. Saya akan belikan detergen untuk kalian semua agar kalian bisa mencuci dengan bersih terutama untuk pakaian penting seperti seragam anak dan lain sebagainya.” Ucap Wulan yang tidak pernah meninggalkan senyumnya ketika sedang berbicara kepada warga desa. “benarkah itu non?” tanya seorang ibu. Wulan pun lalu mengangguk. Setelah berbicang dengan para warga, Wulan pun menjauh dari kerumunan tepi danau itu. Wulan melihat air danau disebelah sana yang tampak tenang. Wulan menatap jauh danau itu. Lamat-lamat Wulan melihat kearah danau itu seperti ada sesuatu yang muncul kedasar airnya. “apa itu?” Wulan melihat ada sebuah tikar berbahan pandan yang seperti berjalan mendekat kearahnya. Wulan lalu tak menghiraukan tikar itu dan malah meninggalkannya. Wulan pun pergi meninggalkan tepi danau itu dengan menggunakan kudanya. Wulan bermaksud untuk menemui ibunya yang masih berada diperkebunan kopi. Wulan menaiki kudanya agak kencang agar bisa segera sampai ke tempat ibunya bekerja. Sesampainya di perkebunan kopi, Wulan langsung kekantornya biasa tempat para pekerja meletakkan barang bawaannya seperti tas dan lain sebagainya. Wulan lalu mencari ibunya yang tidak terlihat. Wulan juga sama sekali tidak melihat kuda ibunya. Wulan lalu bertanya ke salah satu karyawan ibunya. Bu Sekar ternyata berkunjung ke kebun teh miliknya. Tanpa menunggu lama, Wulan pun kembali menaiki kudanya untuk menemui ibunya yang sedang berada di perkebunan teh milik keluarga mereka. Wulan pun sampai di perkebunan teh dan melihat ibunya baru saja keluar dari kantor kebun teh itu. “Ibu..., Ibu...,” Wulan memanggil nama ibunya dan turun dari kudanya. Bu Sekar yang melihat putrinya datang pun memberikan senyum yang merekah. “Loh..., Tidak jadi ikut ayah, sayang?” tanya Bu Sekar sambil mencium kening putrinya. “sudah Bu..., Tapi Wulan bosan disana. Disana kan lebih banyak pegawai laki-laki kan Bu..., Kalau disini banyak pegawai perempuan, jadi Wulan tidak canggung.” Ucap Wulan. “Ini ibu mau ikut memetik teh, kamu mau ikut nak?” tanya Bu Sekar. “boleh saja Bu..., Wulan ambil caping dulu dan juga wadah ya Bu.” Ucap Wulan. Ibunya pun menunggu Wulan didepan kantor itu. Sebagai seorang putri dari pemilik kebun teh itu, tak lantas membuat Wulan enggan memetik teh atau memeras s**u sapi. Wulan bahkan sangat mahir melakukan hal itu. Semua karyawan ayah dan ibu Wulan pun juga sangat menyayangi Wulan sebagai seorang bos muda. Banyak warga kampung menginginkan putri yang mempunyai sifat seperti Wulan. Selain cantik, Wulan juga sangat ramah, cerdas dan juga berwawasan tinggi. Wanita terhormat dan juga mau membantu pekerjaan ibu dan juga ayahnya. Bu Sekar pun tidak melarang Wulan ikut memetik teh dikebunnya. Sebagai seorang anak bos, Wulan pun juga tidak ragu melakukan hal itu. Wulan lalu mengikat kudanya didekat kuda ibunya yang tidak jauh dari kantor kebun teh itu. Semua warga desa menyapa Wulan dengan ramah. Mereka pun tak canggung ketika anak bosnya bekerja bersama dengan mereka. Wulan juga sangat ramah kepada mereka, bahkan Wulan juga bercanda bersama mereka. Karena asik memetik teh, Wulan lupa bahwa jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. “wulan..., Ayo pulang nak..,. Kita makan siang dulu.” Ucap Bu Sekar. Wulan lalu melihat jam ditangannya dan benar saja, rak terasa waktu begitu cepat berlalu. Wulan pun hari itu tidak jadi menemui Candra. Wulan lalu ikut pulang bersama dengan ibunya. Dipertengahan jalan, Wulan melihat ayahnya yang juga akan pulang menuju rumah mereka. “ayah...,” panggil Wulan. Pak Cokro tak mendengar suara Wulan dan malah mempercepat laju kudanya karena pak Cokro sangat lapar. Sesampainya dirumah, pak Cokro baru melihat putrinya yang ternyata naik kuda persis dibelakangnya. “ayah..., Ayah tadi Wulan panggil ayah, tapi ayah tidak mendengar.” Ucap Wulan. “Oh iya? Maafkan ayah ya nak.” Ucap pak Cokro. “tidak apa-apa ayah, ayo kita masuk. Ayah dan ibu makanlah terlebih dahulu, Wulan harus mandi karena Wulan tiga jam ini terkena sinar matahari. Hahaha...,” ucap Wulan sambil terkekeh. “uluh uluh..., Putri ayah ini..., Sinar matahari sehat nak. Yasudah, ayah juga mandi, kita makan sama-sama ya sayang.” Ucap pak Cokro. Mereka pun masuk dikamar masing-masing, sementara Wulan langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang beberapa jam ini terkena sinar matahari. Didalam kamar mandi pun Wulan juga masih memikirkan Candra. Candra yang seolah acuh kepadanya yang membuat Wulan semakin penasaran dengan tingkah polah Candra.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN