Kekhawatiran pak Cokro

1002 Kata
Untuk kesekian kalinya pak Cokro menemui sesembahannya itu. Pak Cokro dan Lulun samak itu berbincang membahas mengenai banyak hal termasuk masalah kekayaan pak Cokro yang kian melambung tinggi itu. “Kau tidak usah khawatir Cokro, kau nanti akan lihat bahwa aku yang akan mencari mangsa disana, di sumur dan kamar mandi umum itu.” Ucap Lulun samak itu lantas tertawa. Suasana malam di pinggir sungai itu memang tampak sangat sepi mencekam. Kini pak Cokro telah menemukan tempat baru untuk bertemu dengan sesembahannya itu. Letaknya didekat sungai yang agak jauh dari danau itu. Walau sekitar danau itu sekarang sudah ramai, tapi tidak dengan sungai itu. Sebenarnya mau disungai atau di danau, pak Cokro tetap bisa memanggil Lulun samak itu, tapi pak Cokro memilih tempat yang dekat dengan rumahnya yaitu didanau. Tapi kini keadaan danau yang tampak ramai dengan antusias warga, jadi sekitar danau itu kini semakin ramai. Sementara itu, saat pak Cokro sedang berbincang dengan Lulun samak itu, Wulan yang sedang berada didalam rumahnya pun masih memikirkan bagaimana caranya untuk menghidupkan para warga terutama para remaja agar mau berkumpul mengikuti kegiatan sosial yang akan dibimbing oleh Wulan sendiri. Wulan pun berkonsultasi dengan ibunya dan ibunya mendukung penuh rencana Wulan ini. Dengan begini sudah pasti Wulan akan semakin terkenal akan kebaikannya dimata para masyarakat didesanya. Pak Cokro sebagai ayah Wulan juga menyetujui keinginan Wulan itu. Itu semata-mata disetujui hanya karena pak Cokro ingin mencari nama agar seluruh warga desa menyebutnya keluarga yang baik hati. Dengan begitu tidak akan ada orang yang curiga bahwa pak Cokro kaya karena menyembah atau memuja si Lulun samak itu. Wulan pun mengumpulkan para pembantunya agar besok bisa memasak porsi besar didepan rumahnya agar para warga tertarik dan ingin mengetahui sebenarnya ada acara apa di rumah Wulan. Setelah berkonsultasi dengan para pembantu dan juga ibunya, Wulan pun merasa lelah ditubuhnya karena seharian ini Wulan berada dikebun teh bersama dengan ibunya. Wulan ingin mencari kesibukan lain supaya dirinya tidak merasa kesakitan dihatinya ketika mengingat Candra. Wulan tahu bahwa jika seandainya dirinya bisa bersama dengan Candra, tentu saja hal itu akan mengecewakan ayahnya sendiri. Tapi Wulan berfikir lagi, kalau bukan Candra, tidak ada lagi laki-laki lain yang bisa membuat dirinya merasa tertarik dan jatuh cinta. Wulan juga bingung dengan dirinya sendiri. Begitu banyak laki-laki didunia yang pernah dia temui, tak ada satupun laki-laki yang bisa membuat Wulan jatuh cinta seperti perasaannya dengan Candra. Setelah perbincangannya dengan si Lulun samak selesai, pak Cokro lalu pulang kerumahnya. Dari perbincangan antara pak Cokro dan Lulun samak itu, ada sesuatu yang membuat pak Cokro menjadi penasaran. Si Lulun samak itu berkata bahwa dirinya akan mudah mencari tumbal dengan adanya kamar mandi umum milik warga itu. Pak Cokro tidak mengetahui akan hal itu, tempat yang sekarang ini begitu ramai malah akan menambah pundi-pundi uangnya. Pak Cokro memuja sosok Lulun samak itu kira-kira sudah dua puluh lima tahun lamanya. Pak Cokro sudah banyak menumbalkan beberapa tetangganya, keempat putranya dan juga kedua mertuanya. Kematian-kematian keluarga pak Cokro itu tidak pernah disadari oleh sang istri. Sering kali sang istri mengalami keguguran sebelum Wulan lahir didunia ini. Bu Sekar pun tidak tahu mengenai hal itu bahwa keguguran yang menimpanya akibat dari perjanjian antara sang suami dan Lulun samak itu. Bu Sekar tidak mengetahui perjanjian apa yang dilakukan suaminya sehingga suaminya kaya raya seperti sekarang ini. Mengenai Wulan, kenapa sang Lulun samak itu tidak mengambil Wulan dikarenakan Wulan lahir dikala bulan purnama dengan hari Jumat Kliwon. Si Lulun samak itu enggan mengambil Wulan dikarenakan menurutnya, Wulan sangat sulit dibunuh. Sampai sekarang pun si Lulun samak tidak bisa membunuh Wulan dikarenakan Wulan memiliki perisai alami yang membuat si Lulun samak enggan mengambil nyawanya sebagai tumbal. Kalau hanya untuk menggertak pak cokro, tentu saja si Lulun samak itu bisa melakukannya, tapi kalau untuk membunuh, Lulun samak itu tidak akan bisa melakukannya. Wulan adalah gadis yang sempurna bagi makhluk alam gaib. Selain lahir dimalam Jumat Kliwon, Wulan juga lahir tepat saat bulan purnama tiba. Bagi alam mereka, Wulan adalah gadis sempurna dan tidak akan ada satu pun makhluk yang bisa membunuhnya. Pak Cokro tidak mengetahui akan hal itu. Setiap hari sesungguhnya pak Cokro dihantui oleh rasa takutnya akan keselamatan Wulan. Setiap malam saat tidurnya, pak Cokro selalu menengok kamar Wulan dan memastikan Wulan aman disana. Pak Cokro tidak pernah bisa tidur nyenyak setiap malam. Pak Cokro selalu ketakutan akan keselamatan Wulan. Setiap Wulan sakit, pak Cokro pun juga merasakan sakit yang diderita Wulan. Bagi pak Cokro, putri semata wayangnya itu adalah belahan jiwanya yang harus ia jaga. Sebagai putri satu-satunya di keluarga pak Cokro, Wulan pun tahu posisinya. Wulan sangat sadar bahwa dirinya adalah putri dari orang kaya dikampungnya. Maka dari itu, dengan kemewahan yang menaunginya, Wulan sebenarnya merasakan kesepian yang teramat dalam. Dengan menjadi putri dari pak cokro, membuat Wulan selalu ingat bahwa dirinya adalah putri orang terkaya didesanya. Wulan sangat sadar bahwa ayahnya adalah orang paling berpengaruh didesanya. Sampai ke desa lain pun tahu bahwa pak Cokro adalah orang terkaya didesa itu. Ayahnya memiliki banyak karyawan yang dipekerjakan tanpa menggunakan ijazah, hal ini tentunya membuat warga kampung terbantu atas usaha yang diberikan pak Cokro kepada mereka. Walau sebagai seorang pemuja setan, pak Cokro sama sekali tidak pernah menzalimi para pekerjanya. Pak Cokro sangat menghargai mereka ketika mereka bekerja. Pak Cokro pun juga memberikan perhatian yang lebih kepada setiap pekerjanya. Setiap setahun sekali, pak Cokro memberikan uang tunjangan hari raya kepada warga kampung agar para warga bisa merayakan hari raya dengan uang-uang yang mereka dapat. Setiap sebulan sekali pak Cokro juga mengadakan pesta rakyat untuk para warga yang bertujuan agar para warganya bisa menikmati juga hasil kerja keras pak Cokro. Tapi bukan itu sebenarnya maksud pak Cokro melakukan hal itu. Seorang pemuja, jika ingin menumbalkan orang yang bukan saudaranya, pak Cokro harus berbuat baik kepada orang yang akan ditumbalkannya. Maka dari itu, saat pak Cokro ingin menunbalkan salah satu anak kecil dikampungnya, pak Cokro membagikan uang terlebih dahulu kepada para anak kecil itu. Dengan begitu pak Cokro bisa menumbalkan anak kecil itu karena si anak sudah diberi uang oleh pak Cokro sebagai tukar nyawa. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN