Ungkapan rasa

1060 Kata
Candra memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanya kepada Wulan hari ini. Candra tahu bahwa dirinya mungkin tidak akan diterima oleh keluarga Wulan, tapi Candra sudah tidak bisa membendung perasaannya lagi yang harus ia ungkapkan. Candra pun memutuskan untuk bertemu Wulan di tepi danau yang tentunya tidak jauh dari kamar mandi umum yang dibangun oleh Wulan. Wulan pun menyanggupi pertemuan itu. Sudah lama Wulan tidak melihat Candra, jika Wulan datang ke peternakan, Wulan tidak pernah bertemu dengan Candra karena pasti Candra sudah sibuk mengantar s**u-s**u itu. Candra datang lebih dulu ke tepi danau, dia duduk diantara semak-semak sambil melempar beberapa batu kerikil kearah air danau yang tenang itu. Tak lama setelah itu, Wulan pun datang dengan membawa kuda kesayangannya menemui Candra yang sedang termenung ditepian danau. Wulan mengikat kudanya terlebih dahulu dipohon yang tidak jauh dari kamar mandi umum itu. Saat sedang mengikat kudanya, Wulan disapa ramah oleh para penduduk sekitar. Wulan pun tersenyum ramah ketika para warga menyapanya. Melihat senyum Wulan yang mekar tentunya membuat para warga yang menyapanya ikut senang atas keramahan Wulan. Candra tidak menyadari bahwa Wulan sudah sampai ditepi danau untuk menemuinya. Wulan mulai mendekat menghampiri Candra yang sedang duduk termenung ditepi danau. Disebelah Candra terdapat kertas koran yang ia bawa dari kantor peternakan agar Wulan bisa duduk diatas koran itu. “Hai...,” sapa Wulan dengan senyumnya. “oh..., Aku pikir kau tidak akan datang.” Ucap Candra sambil mengambil koran untuk duduk Wulan. “Sudah..., Aku duduk diatas rumput saja.” Ucap Wulan. “jangan..., Kamu tidak boleh duduk diatas rumput seperti diriku. Biar aku saja. Kemarilah dan duduklah disebelah sini.” Ucap Candra. Melihat perlakuan Candra yang sangat perhatian kepadanya itu membuat Wulan semakin terkesan dengan Candra. “Apa yang ingin kau katakan kepadaku?” tanya Wulan. “sebenarnya...., Se..., Sebenarnya aku ingin mengungkapkan sesuatu yang menurutmu mungkin tidak penting, tapi bagiku hal ini sangat penting.” Ucap Candra. Wulan tidak menjawab ungkapan Candra. Wulan hanya menatap mata Candra semakin dalam. Wulan tahu bahwa Candra sedang gugup berada didekatnya. Candra tidak berani menatap wajah Wulan. Bahkan ketika Candra berbicara, Candra sama sekali tidak berani menatap wajah Wulan. Candra menatap danau agar perasaannya tenang. Candra merasakan bahwa jantungnya berdetak kencang ketika akan mengutarakan isi hatinya. “wulan..., Sesungguhnya aku...., Sesungguhnya aku....,” Candra sangat merasa gugup ketika akan mengungkapkan perasaannya. “Kau kenapa? Apa kau sakit?” tanya Wulan agak panik melihat keadaan Candra sampai mengeluarkan keringat dingin disekitar keningnya. “Wulan..., Aku mencintaimu...,” ucap Candra sambil memejamkan matanya. Candra pun lalu pergi meninggalkan Wulan setelah mengungkapkan kata-kata itu. Candra berlari menjauhi Wulan agar Wulan tidak memarahinya karena kelancangannya mengungkapkan perasaanya kepada seorang tuan putri milik pak Cokro itu. Wulan yang melihat tingkah polah Candra seperti itu pun lantas tertawa geli. Wulan sama sekali belum pernah menemukan laki-laki seunik Candra. Wulan pun lalu kembali kekudanya untuk mengejar Candra. Candra terus berlari menuju ke kebun teh milik pak Cokro untuk menghindari Wulan. Setelah sampai dikebun teh milik pak Cokro, Candra langsung membaringkan tubuhnya diatas rumput-rumput lalu menatap langit yang jauh disana. “kau seperti langit itu, bisa aku lihat tapi tidak bisa aku jangkau.” Ucap Candra sambil menatap langit yang tampak diselimuti awan putih. “kata siapa?” balas Wulan sambil muncul dihadapan Candra. Candra yang kaget melihat Wulan ternyata mengejarnya pun langsung duduk diantara rumput-rumput itu. “Lalu?” tanya Candra. “apanya?” tanya Wulan menggoda. “Lalu apakah perasaanku kau terima?” tanya Candra. “apakah kau butuh jawaban atas pertanyaanmu itu?” Wulan kembali menggoda Candra. “tidak..., Tidak perlu kau lakukan hal itu. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja.” Ucap Candra. Mendengar jawaban Candra yang tampak pasrah itu lalu membuat Wulan tersenyum. Wulan pun lalu mencium pipi Candra lembut sambil membisikkan kata di telinga Candra, “aku menerimamu.” Ucap Wulan lalu meninggalkan Candra yang duduk diatas rumput-rumput itu menghampiri kudanya. Candra pun tersenyum sambil melihat kearah Wulan yang berjalan menghampiri kuda putihnya. Candra tersenyum lalu mengusap pipi bekas ciuman Wulan itu. Candra tampak b*******h, sekarang perasaanya telah terbalas oleh Wulan, pujaan hatinya. Candra pun lalu berjalan ke peternakan untuk kembali bekerja. Ternyata saat Wulan dan Candra sedang berada dikebun teh, banyak warga yang melihatnya dan mulai membicarakan mereka berdua. “ih..., Tidak mungkin non Wulan jatuh cinta kepada laki-laki miskin itu.” Ucap salah seorang ibu pemetik teh. “tapi saya tidak salah lihat, teh. Saya benar-benar melihat mereka berdua sedang asik memadu kasih disana. Hmmm..., Beruntungnya Bu Indah, sebentar lagi akan kecipratan uang pak Cokro.” Ucap salah satu ibu pemetik teh lainnya. Begitu kiranya warga mulai membicarakan keduanya. Desas desus kisah percintaan Wulan dan Candra pun kini telah sampai pada kedua orang tuanya. Bu Indah pun mendengar ucapan salah satu temannya yang tampak tidak suka dengan hubungan antara Wulan dan juga Candra. “Teh..., Teh Indah enak ya, sebentar lagi akan jadi besan konglomerat di kampung ini, bahkan didesa ini.” Ucap salah seorang wanita yang sama-sama bekerja di kebun kopi milik pak Cokro. “sudah..., Jangan menebar gosip yang tidak benar. Mana mungkin non Wulan mau menjadi menantuku. Teteh sendiri kan tahu, kami berasal dari keluarga miskin. Saya, suami dan anak saya juga buruh pak Cokro. Mana mungkin non Wulan mau dengan anak saya.” Ucap Bu Indah. “ih..., Teteh ini tidak percaya. Teteh coba tanya saja dengan anak teteh itu.” Ucap teman Bu Indah lagi. Bu Indah yang tidak ingin memperpanjang perbincangannya dengan temannya itu pun berusaha untuk pergi menjauh dari ibu itu. “ih..., Teteh dibilangin malah tidak percaya.” Ucap teman Bu Indah dengan nada sewotnya. Bu Indah pun bermaksud untuk pulang agar bisa istirahat. Walau terlihat tampak tenang dihadapan para teman-teman yang membicarakannya, sampai dirumah pun Bu Indah memikirkan putranya itu. Perasaan Bu Indah semakin tidak enak. Sesampainya dirumah, pak Raharjo yang sedang terbaring dikasurnya pun bertanya kepada istrinya. “Loh..., Ambu jam segini kok sudah pulang?” Tanya pak Raharjo. “iya bah..., Ambu agak sedikit tidak sehat.” Jawab Bu Indah. “Memangnya ada apa Ambu?” tanya pak Raharjo. “ini lho Bah..., Berita tentang kedekatan putra kita dan nak Wulan itu semakin santer terdengar dikalangan pekerja kebun teh dan kopi. Hal ini Ambu takutkan kalau sampai berita ini terdengar oleh pak Cokro. Bisa-bisa pak Cokro memecat kita. Kalau kita dipecat, kita mau makan apa Bah...,” ucap Bu Indah yang tampak khawatir dengan kehidupannya kedepan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN