Setiap hari Candra pun bekerja dengan semangat setelah cintanya terjawab oleh kekasih hatinya. Entah nanti kedepan bagaimana, Candra tidak memperdulikan hal itu. Candra hanya fokus saat ini bisa memiliki cinta Wulan. Kini pak Raharjo pun sudah kembali bekerja lagi karena tidak enak jika berlama-lama cuti. Pak Cokro sudah begitu baik tidak memecat pak Raharjo bahkan pak Cokro memberi segepok uang atas rasa simpatinya kepada keluarga pak Raharjo itu. Tapi ada satu hal yang membuat pak Raharjo tampak risau dengan putranya itu. Berita atas jalinan kasih antara putranya dan juga Wulan sudah terdengar ditelinga beliau. Tampak salah seorang pekerja peternakan menggoda beliau dengan numpang hidup enak dan lain sebagainya.
Pak Raharjo tampak sedih ketika ada orang berkata bahwa putranya hangalah alat jual yang akan dijual kepada pak Cokro untuk menikahi putrinya. Hal itu tentu saja membuat pak Raharjo sangat geram. Beliau malah sedikit takut jika berita ini akan sampai ditelinga pak Cokro. Seperti yang ditakutkan oleh Bu Indah, pak Cokro pun juga merasa takut jika kemungkinan buruk akan menimpa keluarganya karena ulah putranya itu.
Saat bertemu dengan putranya, pak Raharjo meminta Candra untuk berbincang dengannya. Candra pun sama sekali tidak menolak, toh Candra juga baru saja selesai mengantar s**u-s**u itu kepelosok desa. Seperti biasa, jam makan siang pun telah tiba, pak Raharjo dan Candra duduk berhadapan untuk membahas masalah percintaannya dengan Wulan. “bapak khawatir nak...,” ucap pak Raharjo memulai perbincangannya dengan putranya. “Takut kenapa pak?” tanya Candra. “Kita dan keluarga nak Wulan itu kan berbeda nak, dari segi apapun sudah berbeda. Bapak harap kamu memikirkan hal ini. Tentunya pak Cokro sudah pasti akan menentang hubungan kalian.” Ucap pak Raharjo seraya menikmati makan siangnya. “Bapak tidak usah khawatir, Candra yang akan bertanggung jawab atas semua ini. Sebagai seorang laki-laki sejati, Candra tetap harus mengejar belahan jiwa Candra.” Ucap Candra. Melihat darah muda putranya itu, pak Cokro tampak bangga dengan putranya yang kini sudah dewasa. “doa bapak selalu menyertaimu nak, semoga Allah melancarkan jalanmu.” Ucap pak Raharjo yang tidak mampu lagi menentang putranya itu.
Sementara itu, Wulan yang sedang dirumah selalu tersenyum dan teringat saat dirinya dengan berani mencium pipi Candra. Karena malu dengan hal itu, maka Wulan pun segera meninggalkan Candra kala itu. Kini hatinya setiap hari selalu berbunga-bunga karena cintanya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Cinta mereka yang murni itu akan mereka perjuangkan walau apapun yang terjadi. Wulan bahkan menyiapkan diri untuk hidup sederhana seperti keluarga Candra. Kedekatan antara Candra dan juga Wulan yang sudah sampai ke telinga Bu Sekar, beliau mulai mempertanyakan kepada Wulan jika kemungkinan buruk terjadi kepada kisah cintanya. Wulan pun siap memperjuangkan cintanya jika nanti ada sesuatu hambatan disana.
“Wulan akan selalu berusaha Bu..., Wulan akan selalu memperjuangkan cinta Wulan kepada Candra.” Ucap Wulan.
“Nak..., Ketahuilah..., Kalau sekarang mungkin kamu juga bosan hidup dengan semua ini. Ibu dan ayab sudah pasti tidak ingin kamu menderita. Kamu dilahirkan untuk menjadi seorang bos sedangkan dia dilahirkan untuk menjadi buruh ayahmu. Ayahmu sudah pasti tidak akan menyetujui hal itu.” Ucap Bu Sekar.
“ibu tidak usah mengkhawatirkan Wulan, Wulan tahu bahwa nanti ketika Wulan akan hidup bersama dengan Candra, kamu akan mengalami masalah finansial dan masalah dunia lainnya. Tapi Bu..., Wulan sudah siap akan hal itu. Asalkan Wulan bisa bersama dengan Candra selamanya, Wulan akan tetap sangat bersyukur.” Ucap Wulan penuh percaya diri.
Bujukan Bu Sekar itu tidak mampu mengubah hati Wulan. Wulan akan tetap mempertahankan cintanya dengan Candra. Candra pun demikian. Mereka kini yang sudah menjadi buah bibir para warga pun semakin di bicarakan oleh warga sekitar. Banyak orang mempertanyakan cinta mereka. Ada yang bilang Candra menggunakan ilmu guna-guna untuk memikat Wulan, ada pula yang bilang bahwa Candra hanya mengincar harta Wulan, mengingat Wulan adalah anak tunggal dari pak Cokro dengan kekayaan yang melimpah. Banyak omongan buruk yang membahas percintaan Wulan dan juga Candra.
Banyak juga orang yang terang-terangan mencela Bu Indah karena putranya itu menjalin kasih dengan anak bos. Bu Indah yang tahu sifat putranya itu hanya diam ketika ada orang yang mencela. Bu Indah tahu bahwa Candra mencintai Wulan tanpa syarat, begitu pun dengan Wulan. Wulan tidak melihat kasta antara dirinya dan juga Candra. Wulan merasa bahagia saat cintanya terbalas dan tidak bertepuk sebelah tangan, tapi di sisi lain, Wulan masih risau dengan ayahnya yang mungkin nanti tidak akan merestui hubungan mereka berdua. Wulan tidak akan takut jika ayahnya nanti menentang hubungannya. Wulan akan memperjuangkan cintanya yang baru saja ia jalani dengan kebahagiaan ynag sebelumnya belum pernah Wulan dapatkan.
Sementara itu dirumah Candra, Candra pun dipanggil oleh kedua orang tuanya menuju keruang tamu. Tentunya kedua orang tua Candra pun melarang agar Candra tidak menjalin hubungan dengan Wulan. “nak..., Ketahuilah, kita ini miskin. Banyak orang diluar sana membicarakan hal buruk tentangmu.” Ucap Bu Indah kepada Candra. “loh..., Ibu ini kan tahu, aku memang benar-benar mencintai Wulan dan kebetulan Wulan adalah anak orang kaya. Kalaupun Wulan bukan anak orang kaya, aku juga akan tetap mencintainya, Bu.” Jawab Candra. Pak Raharjo bisa melihat putranya itu sangat menggebu-gebu dengan rasa cintanya kepada gadis paling kaya raya di desanya. “nak..., Kau mungkin bisa menjalin kasih dengan putri pak Cokro itu, tapi bapak tidak yakin kau bisa menikah dengannya. Kita harus paham bahwa kita ini miskin, kita juga harus paham nantinya kita juga akan kesulitan di mahar ketika saatnya tiba.” Ucap pak Raharjo. “Candra akan terus berusaha pak.” Jawab Candra singkat. Mendengar ucapan pak Raharjo pun membuat Candra semakin berfikir. Saat ini mungkin dirinya belum memikirkan mahar yang tepat untuk Wulan nantinya. Candra semakin risau bahwa dirinya mungkin akan kesulitan saat pernikahannya nanti. “nak..., Pikirkanlah masalah ini, bapak dan ibu tidak akan melarang ku mencintai siapapun, tapi bapak harap kamu tahu posisimu. Kamu anak siapa dan non Wulan anak siapa, kamu harus menyadarinya. Untuk melindungi perasaanmu, lebih baik mulai sekarang kau kontrol perasaanmu sendiri. Kalau kau adalah jodoh non Wulan, Tuhan pasti akan melancarkan semua urusanmu dengan non Wulan. Tapi kalau kau diciptakan hanya untuk singgah saja di hati non Wulan, bapak harap kamu tidak kecewa dan tidak merasa depresi ketika nantinya kau tidak bisa bersamanya. Intinya, kau harus sadar posisimu. Kau harus sadar siapa dirimu dan siapa non Wulan.” Ucap pak Raharjo kepada putranya.