Kemarahan pak Cokro

1063 Kata
Akhirnya yang ditakutkan Wulan pun terjadi. Pak Cokro mendengar bahwa putrinya itu sedang menjalin kasih dengan anak buruhnya. Pak Cokro pun yang pagi itu baru saja sampai dipeternakan pun kembali pulang dengan memacu kudanya agar cepat segera sampai dirumah untuk mempertanyakan hal ini kepada putrinya. Saat baru saja masuk kedalam rumahnya, pak Cokro pun melihat Wulan yang ada diruang tamu. “Loh..., Ayah pulang, apa ada sesuatu yang tertinggal?” Tanya Wulan yang tampak bingung. Saat itu pak Cokro masih terpusat emosinya. “Ayah dengar kau menjalin hubungan dengan putra pak Raharjo? Laki-laki pengantar s**u di peternakan ayah?” tanya pak Cokro tanpa basa-basi. “I...., Iya ayah..., Ayah tahu dari mana?” jawab Wulan dengan ragu ketika mengakui hubungannya dengan Wulan. “Sejak kapan kau menjalani hubungan itu?” tanya pak Cokro. “baru saja ayah...,” jawab Wulan. “Lebih baik kau tinggalkan pria itu! Atau ayah akan memecat kedua orang tuanya beserta dirinya karena telah lancang ingin berbesan denganku!” ucap pak Cokro yang langsung keluar dari rumahnya dengan emosi yang membara di dadanya. “ayah..., Ayah..., Tunggu Wulan ayah...,” ucap Wulan sambil menangis mengejar ayahnya. Tapi ayahnya tidak perduli kan panggilan putrinya itu. Wulan lalu kembali masuk kedalam rumahnya dan berlari kekamarnya. Pagi itu hati Wulan terluka karena kisah cintanya ditentang oleh ayahnya sendiri. Bahkan ayahnya pun mengancam akan memberhentikan Bu Indah dan juga pak Raharjo yang selama ini sudah bekerja bersamanya. Pak Cokro yang kembali ke peternakan ya pun langsung memanggil pak Raharjo dan juga Candra. Mendengar panggilan pak Cokro membuat pak Raharjo gusar. Tak biasanya pak Cokro memanggil pak Raharjo kekantor disela-sela kesibukannya dengan sapi-sapinya. “kalian tahu kenapa aku memanggil kalian? Bapak dan anak sama-sama bekerja denganku. Kalian saya pecat hari ini juga!” ucap pak Cokro dengan berdiri membelakangi mereka menghadap kearah jendela. “salah saya apa pak?” tanya pak Raharjo panik. “salahmu kau belum mengetahuinya? Kau tanya saja kepada putramu itu! Kau kemasi barang-barang bayangmu dan pergilah!” ucap pak Cokro dengan nada sedikit membentak. “tapi pak...,” ucapan pak Raharjo terpotong oleh pak Cokro. “kau mau apa? Kamu menginginkan rumahku? Tanahku? Peternakan milikku? Atau usaha-usaha ku yang lainnya?” tanya pak Cokro dengan nada celaan kepada mereka. “Pak..., Saya mencintai Wulan tanpa syarat. Saya tidak melihat Wulan lahir dari keluarga siapa. Saya hanya mencintainya.” Ucap Candra. “diam kamu! Kau pergilah dari hadapanku ini! Aku tidak ingin melihat keluarga kalian! Pergi!” ucap pak Cokro dengan emosinya yang membara bahkan orang yang berada diluar kantor pun mendengar suara pak Cokro yang menggelegar. Orang itu tampak merinding dengan bentakan pak Cokro kepada pak Raharjo dan putranya. Setelah diusir dari kantornya, pak Raharjo dan juga Candra pun memberesi semua barang-barang milik mereka. Candra dan pak Cokro tidak mungkin mengemis pekerjaan lagi kepada pak Cokro. Pak Cokro sendiri yang sudah mengusirnya. Pak Raharjo pulang dengan keadaan sangat sedih. Pak Raharjo mengingat tadi ketika pak Cokro membentaknya. Sebelumnya pak Cokro sama sekali tidak pernah membentak orang lain. Pak Raharjo adalah satu-satunya orang yang dibentak oleh pak Cokro akibat putranya yang menjalin cinta dengan putrinya. Mereka berjalan keluar dari kantor dengan tubuh yang lemas. Ketika diperjalanan, Candra membuka percakapan yang tampak hening antara pak Raharjo dan dirinya. “pak..., Sudah Candra katakan bahwa Candra akan bertanggung jawab mengenai hal ini.” Ucap Candra kepada ayahnya. Pak Raharjo tetap berjalan tanpa menjawab ucapan putranya itu. Pak Raharjo masih memikirkan bagaimana nanti kedepannya kalau dirinya tidka bekerja lagi. “pak..., Candra masih punya uang untuk modal usaha, Candra akan memulai usaha untuk menghidupi ibu dan juga bapak.” Ucap Candra. Pak Raharjo tetap diam mendengar ucapan-ucapan Candra. Pak Raharjo rasanya ingin memarahi putranya yang tidak ingat posisinya itu. Sampailah pak Raharjo dan putranya dirumah mereka. Mereka tampak terkejut melihat ibunya, Bu Indah yang ternyata sudah berada dirumah sambil merenung. “ibu...,” sapa pak Raharjo. “Bapak juga dipecat?” tanya Bu Indah. Pak Raharjo lalu menundukkan kepalanya seakan pak Raharjo membenarkan ucapan Bu Indah. “bu..., Kita bisa usaha lainnya bukan? Kita tidak boleh bergantung kepada orang lain.” Ucap Candra yang langsung menenangkan hati ibunya. “apa kau tahu! Karena sifat ketidak sadaranmu itu membuat kami dikeluarkan dari tempat kami mencari makan. Kami bisa menyekolahkan kamu ya berkat kami bekerja sebagai buruh pak Cokro! Kau sangat egois, Candra! Lepaskan Wulan atau kau pergi saja dari rumah ini!” ucap Bu Indah lalu langsung masuk kedalam kamarnya dan menutupnya dengan keras sampai membuat pak Raharjo tersentak. Pak Raharjo hanya terdiam ketika istrinya benar-benar marah seperti itu. Pak Raharjo lalu membiarkan Candra berdiri diruang tamu sendirian. Pak Raharjo tentunya ingin menenangkan hati istrinya yang sedang sedih akibat diberhentikan dari kebun kopi yang dikelola oleh Bu Sekar itu. Candra pun berusaha untuk menelepon Wulan yang ternyata juga sedang sedih. Wulan tahu dari ibunya yang baru saja memberhentikan Bu Indah dari kebun kopi miliknya. Wulan lalu mengangkat telepon dari Candra dan Candra mengajaknya untuk bertemu disebuah danau. Wulan takut jika Candra akan memutuskan hubungan dengannya suatu saat nanti. Wulan lalu menolak pertemuannya dengan Candra. Wulan beralasan bahwa dirinya sedang tidak enak badan. Wulan hanya mencari alasan saja agar Candra tidak memutuskan hubungan dengannya. Wulan tahu Candra adalah anak yang taat kepada kedua orang tuanya. Untuk menyelamatkan kedua orang tuanya sudah pasti Candra akan mengambil tindakan, meskipun tindakan itu ternyata juga menghancurkan hati keduanya. Wulan merasa bahwa sebegitu sakitnya ketika mencintai seseorang, tapi terhalang oleh restu kedua orang tua. Wulan tidak memungkiri dan tidak menyalahkan kedua orang tuanya. Sebagai orang tua sudah pasti memilihkan sesuatu yang baik untuk Wulan dan mungkin menurut kedua orang tua Wulan, Candra bukanlah laki-laki yang pantas untuk dirinya. Wulan pun menangisi kisah cintanya yang tidak tahu akan seperti apa nantinya. Wulan tidak akan pasrah akan keadaan itu. Wulan pun malah memikirkan kedua orang tua Candra yang menjadi korban pemecatan akibat sang anak berani mencintai seorang tuan putri seperti Wulan. Wulan juga mulai memikirkan usaha apa yang pantas untuk kedua orang tua Candra agar mereka bisa tetap mendapatkan uang walau sudah tidak bekerja dengan orang tua Wulan. “mungkin besok aku akan menemui pak Raharjo dan Bu Indah agar aku segera bisa membantunya memulai usahanya.” Ucap Wulan dalam hatinya. Selama Wulan didalam kamar yang masih terkunci, tidak ada satu orang pun yang berani mengetuk pintu kamarnya. Kedua orang tua Wulan juga tahu bahwa Wulan pasti masih sangat bersedih atas peristiwa itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN