Pingsannya Wulan

1033 Kata
Malam itu, pak Cokro ingin menemui sesembahanya itu, Lulun samak. Pak Cokro tentunya ingin meminta solusi atas masalah putrinya itu yang mencintai seorang laki-laki yang menurutnya berbeda kasta dengannya. Malam itu Wulan membuntuti ayahnya yang dengan pelan keluar dari rumahnya. “Mau kemana dia?” Tanya Wulan dalam hatinya. Wulan terus mengikuti langkah kaki ayahnya dengan sangat hati-hati. Saat berjalan, beberapa kali pak Cokro melihat kearah belakang untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang melihat dirinya sedang berjalan menyusuri danau. Wulan pun selalu berhasil bersembunyi ketika ayahnya menengok ke belakang. Wulan terus mengikuti kemana ayahnya terus melangkah. Seperti biasa, entah mengapa di kamar mandi umum itu tidak terlihat manusia yang sedang berbincang disana. Mungkin karena saat itu sudah agak malam, jadi para warga sudah pada pulang. Sampai ditepi danau, letaknya agak jauh dari kamar mandi umum itu. Pak Cokro mulai duduk dengan kaki yang bersila sambil menyalakan lilin yang dibawanya dari rumah. Pak Cokro mulai memejamkan matanya dan membaca mantra pemanggil si Lulun samak. Dengan wajah yang sangat serius pak Cokro membaca mantra itu, mengagungkan sesembahannya itu. Tak lama, munculah si Lulun samak dengan tanda air danau yang bergemuruh walau tidak ada angin malam itu. Wulan yang menatapnya dari kejauhan samar terlihat wajah sosok Lulun samak itu. Wulan lalu teringat bahwa sosok itu pernah mencekiknya malam itu sampai ada bekas biru di leher Wulan. Wulan memang sudah pernah melihat Lulun samak itu, tapi Wulan selalu ketakutan setiap melihat sosoknya. Wulan yang tahu bahwa ayahnya adalah seorang pemuja itu merasa kaget. Wulan mendengar suara Lulun samak itu berkata kepada ayahnya. Suara menggelegar itu telah sampai ke telinga Wulan. “tidak perlu kau menentang hubungan mereka, Cokro.” Ucap si Lulun samak itu . “Memangnya kenapa? Aku melarangnya mendekati putriku karena dia berasal dari keluarga miskin. Apa jadinya jika seorang Cokro Brahwijoyo berbesan dengan buruhnya sendiri. Apa kata orang-orang diluaran sana nantinya!” ucap pak Cokro yang seakan tidak setuju dengan pernyataan Lulun samak itu. “apa kau mau meragukan aku, Cokro?” tanya Lulun samak itu. “tidak..., Hamba sama sekali tidak ragu kepadamu, tuanku.” Ucap pak Cokro. “Dengarkan aku Cokro, kau nikahkan saja putrimu dengan laki-laki miskin itu. Dengan begitu kau bisa memperbudaknya bukan? Kau pun bisa menumbalkan laki-laki miskin itu kepadaku, sehingga hal itu akan menambah pundi-pundi uangmu, hahahha....,” ucap Lulun samak itu yang lantas tertawa. Mendengar hal itu, Wulan yang berada dibelakang pak Cokro dan bersembunyi diantara pepohonan pun merasa takut akan hal ini. Wulan pun langsung berlari meninggalkan danau itu, menjauh dari sana. Wulan terus berlari sampai kerumahnya dengan nafas yang terengah-engah Wulan lalu masuk kedalam ruang tamu rumahnya. Tidak tahu mengapa tubuhnya seakan sangat lemas dan Wulan pingsan dibalik pintu rumahnya yang belum sempat tertutup itu. Malam itu tidak ada sama sekali orang yang melihatnya, Wulan pingsan dibalik pintu rumahnya. Setelah mendapat solusi dari Lulun samak itu, pak Cokro pun lalu pulang kerumahnya. Pak Cokro melihat dari kejauhan rumahnya tampak bertanya-tanya kenapa pintu rumahnya terbuka tengah malam seperti ini. Pak Cokro yakin bahwa tidak akan ada maling atau rampok yang menggasak hartanya, si Lulun samak itu sudah melindungi rumah pak Cokro agar tidak ada satu orang pun berniat mengambil hartanya. Pernah suatu kali, pak Cokro dan keluarganya sedang berlibur di luar kota, rumahnya hanya dihuni oleh pembantu. Saat itu ada sekelompok orang yang ingin mencuri dirumah pak Cokro. Tapi setelah masuk, mereka sama sekali tidak bisa keluar dari rumah pak Cokro. Menurut pengakuan para pencuri itu, setelah masuk, mereka sama sekali tidak bisa melihat pintu keluar. Alhasil, mereka pun dilaporkan ke pihak yang berwajib walau mereka tidak mendapat harta sepeser pun dari rumah pak Cokro. Itulah salah satu kejadian aneh dirumah pak Cokro. Seluruh harta pak Cokro didapatkan dari pemujaannya kepada Lulun samak. Lulun samak itu tidak akan membiarkan orang lain mengambil harta pemberiannya kepada Cokro kepada orang lain, apalagi orang yang merampok rumah pak Cokro. Mereka tidak terbunuh saja, itu sudah sangat beruntung bagi para pencuri itu. Pak Cokro mendekat kearah pintu utama rumahnya dan betapa kagetnya pak Cokro saat tahu bahwa putrinya sedang terbaring disana. Pak Cokro dengan sigap langsung bergegas menyentuh kening Wulan. Pak Cokro berusaha membangunkan Wulan dari pingsannya. “Wulan..., Wulan...,” panggil pak Cokro yang tampak panik. Wulan sama sekali tidak menjawab panggilan ayahnya. Dengan mata yang masih tertutup, pak Cokro masih menggoncang-goncangkan tubuh Wulan yang masih terbaring lemas itu. “Ibu...., Ibu....,” pak Cokro berteriak memanggil nama istrinya yang sedang lelap tertidur. Bu Sekar yang sedang tertidur pun seketika terbangun mendengar suaminya berteriak-teriak didalam rumah. Para pembantu dan orang-orang lainnya juga terbangun tengah malam itu. Mereka langsung menuju ke pusat suara. “ada apa pak?” tanya Bu Sekar tampak panik dengan keadaan yang baru saja dilihatnya. “Astafirullah...., Wulan..., Ada apa dengan Wulan pak?” tanya Bu Sekar. “tidak tahu Bu..., Ayo kita bawa dia kerumah sakit! Asep! Cepat siapkan mobil!” perintah pak Cokro kepada supir pribadi rumahnya. Supir pak Cokro pun langsung bergegas ke garasi untuk menyiapkan mobil itu. Mengingat jarak rumah sakit dan rumah pak Cokro cukup jauh sampai memakan waktu satu jam lamanya. Pak Cokro lalu membopong putrinya untuk membawanya masuk kedalam mobilnya. Bu Sekar mengikuti suaminya dengan wajah yang bersedih. Bu Cokro pun tampak merasa aneh ketika memegang tubuh putrinya, tampak dingin seperti orang yang sudah meninggal, tapi Wulan masih bernafas. Asep pun melajukan mobilnya dengan kencang agar bisa segera sampai kerumah sakit. Jalanan malam itu tampak sangat sepi sehingga Asep bisa melakukan mobilnya dengan kencang. Pak Cokro membaringkan tubuh putrinya dibagi istrinya, pak Cokro juga menggosok tangan Wulan agar tidak terlalu dingin. Menit bertambah menit wajah Wulan semakin terlihat putih pucat. “pak..., Putri kita ini sakit apa?” tanya Bu Sekar sambil menyeka air matanya yang menetes dengan sendirinya. “bapak juga tidak tahu Bu...,” ucap pak Cokro yang memang tidak tahu apa yang membuat putrinya itu pingsan. Akhirnya sampailah mereka dirumah sakit, saat sampai disana, jam menunjukkan pukul 02.00 pagi. Pak Cokro langsung membopong tubuh putrinya itu menuju ruang unit gawat darurat dirumah sakit itu. Pagi petang itu terlihat suster jaga dengan wajah yang mengantuk membantu pak Cokro membaringkan tubuh Wulan di ranjang ruangan itu. “tolong putri saya, suster...” ucap pak corko memohon.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN