Bagaimana bisa bagian terindah di dalam hidupmu, mendadak berubah menjadi sesuatu yang akan membawamu pada luka? Kau tak mengerti bagaimana semua itu terjadi. Terkadang, kemalangan tak memberikanmu petunjuk dan kerap memberikan kejutan yang tentu saja tak bisa kau hindari. Jika saja bisa memilih, mungkin kau akan menjauhi kemalangan. Hal yang wajar bila pada akhirnya hal malang selalu datang mengendap-endap. Siap atau tak siap, kau harus menerimanya. Kau tak bisa beralasan dan menghindari kemalangan yang datang menyapa.
Pria di hadapan Ayu mengeraskan rahangnya. Ia menatap wanita di hadapannya dengan penuh amarah. “Yu, kamu kekanak-kanakan,” Ujar Si pria dengan suara bergetar, terdengar hendak menahan amarahnya, “Masalah rumah tangga kita, harusnya nggak dibawa juga ke kantor, Yu. Kamu yang menolak untuk mendengarkan penjelasanku dan sekarang kamu bersikap seperti ini,” Pria itu menggeleng-geleng, “Dari dulu, kamu memang seorang anak orang kaya yang manja. Seorang wanita yang berpikir bila dia bisa melakukan apa pun yang dia mau karena dia punya uang dan kekuasaan. Kamu semengerikan itu, Yu!” Lanjut Si pria sembari menatap Ayu tajam, sedang Ayu tampak tak peduli. Wajahnya masih sedater sebelumnya, tak terlihat terpengaruh dengan semua hal yang dikatakan oleh pria di hadapannya. Wanita itu bagai batu yang tak bisa digerakkan, membuat hati Si pria menjadi semakin khawatir.
“Udah puas bicaranya?” Ayu bertanya dengan datar, sedang Si pria tampak semakin tak sabar menghadapi sikap Ayu yang seperti ini. Mengingatkannya akan pertemuan pertama mereka dulu. Ayu dan sikap dinginnya, hingga pria itu mengerti bila wanita itu tak sedingin penampilan luarnya. Kini, apakah sikap dingin perempuan itu menyembunyikan arti lain?
“Aku bahkan belum membicarakan semua yang ingin ku bicarakan, Yu,” Pria itu kini mengambil kedua tangan Ayu dan menggenggamnya erat. Mata pria itu terlihat begitu sendu, seolah dirinya sama terlukanya seperti Ayu. Namun kini Ayu paham bila apa yang ditunjukkan pria itu hanyalah kebohongan semata. Hanya hati Ayu yang patah dan pria itu adalah pelakunya. Kali ini, Ayu tak ‘kan pernah tertipu lagi oleh Lian, “Semuanya salah paham. Perempuan itu bukan apa-apa bagiku, Yu. Kamu adalah segalanya dan dia hanya lah kesalahan semalam. Aku khilaf, Yu. Walau bagaimana pun, aku hanya manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan.”
Ayu tersenyum sinis. Kesalahan semalam? Pria itu terlihat jelas masih saja mau membodohinya. Pria itu tak tahu sebanyak apa yang sudah Ayu ketahui tentang hubungan keduanya. Bila saja, memaafkan kesalahan yang begitu fatal adalah sesuatu yang mudah, maka tak ada hati seorang pecinta yang akan patah karena luka dari sebuah pengkhianatan. Lagipula, tak ada orang yang bersalah yang berani mengakui kesalahan yang diperbuatnya, bukan?
“Jika kamu mengatakan semua itu adalah kesalahan semalam, maka kalian nggak akan berkali-kali bersama. Kamu bahkan sering menginap di rumahnya,” Ayu dapat melihat keterkejutan di dalam sepasang netra pria di hadapannya, “Kamu pasti mengira kalau aku adalah seorang wanita yang bisa kamu bodoh-bodohi. Ah … tentu saja kamu berpikir begitu,” Ayu melipat kedua tangan di dadanya dan menatap tajam pria di hadapannya, “Aku mengabaikan semua orang yang membicarakanku. Orang-orang yang mengatakan kalau aku telah kehilangan kewarasanku karena menikah denganmu. Kamu yang datang dari dunia yang begitu berbeda denganku dan harusnya aku tahu kalau di dunia ini nggak akan ada kisah semanis cerita dongeng. Harusnya, aku dapat melihat semuanya sejak awal,” Lanjut Ayu seraya meneliti sepasang netra di hadapannya. Mata pria yang selalu memandangnya lembut, membuatnya merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini, namun sekarang tidak lagi.
Ayu dibutakan dengan cinta. Bukannya ia tak pernah bermain cinta sebelumnya, Lian bukanlah kekasih pertamanya. Bukan pula pria yang mengajarkannya bagaimana caranya berciumaann, namun memang pria itu yang pertama kali membuatnya terjatuh begitu dalam pada cinta, hingga kehilangan dirinya sendiri di dalam lautan cinta yang mengerikan itu. Ayu tak hanya buta karena cintanya pada Lian. Dengan sadar, ia menulikan telinganya. Tak ada satupun perkataan orang-orang di sekitarnya penting dan ia hanya mampu mendengarkan suara Lian. Ia mengabaikan semua orang yang mengatakan jika Lian tak tulus mencintainya. Hatinya tahu benar dan mampu merasakan cinta pria itu yang tulus padanya. Namun lihatlah dirinya sekarang. Ia hanya bisa menertawai semua kebodohannya di masa lalu. Menyesal pun tak ada lagi gunanya. Setiap pilihan memiliki resiko dan ini adalah resiko yang harus Ayu terima.
“Harusnya aku nggak percaya kalau kita bisa menciptakan kebahagiaan kita sendiri. Aku sudah mendapatkan pelajaran dari kesalahanku dan nggak berniat untuk mengulangnya lagi,” Ayu tersenyum miring. Ia tak lagi ingin kembali pada dirinya yang lemah. Ia harus kuat.
“Inilah dirimu, Yu. Selalu merasa diri sendiri adalah korban dan penuh drama,” Pria itu menatap Ayu jengah, “Saat orang lain membicarakan tentang anak, aku diam dan menerima jika sampai sekarang kamu nggak bisa memberiku keturunan. Saat semua orang mengatakan kalau kamu nggak mungkin bisa menjadi istri yang baik, aku selalu menunjukkan pada mereka kalau mereka salah. Saat orang-orang di sekitarku mengatakan kalau menikah denganmu, akan menjadikanku budakmu, aku pun diam. Kini, mereka benar, bukan? Selalu kamu yang lebih berkuasa. Kamu yang selalu ingin menjadi pemimpin dan nggak memberiku kesempatan. Selalu tentang keinginanmu dan aku selalu diperintah olehmu, Yu. Aku suamimu, tapi merasa seperti seorang bawahan bagimu. Di rumah selalu seperti itu dan harusnya kamu paham, kenapa aku bisa sampai melakukan kesalahan seperti ini,” Lanjut pria itu dengan panjang lebar.
Ayu menatap pria di hadapannya tek percaya. Apakah memang Lian adalah seorang seperti ini? Pria itu baru mengeluarkan semuanya saat dirinya sudah terpojok karena ketahuan bersalah. Inikah cara pria itu menyelamatkan diri sendiri? Mencoba mengubah posisi dari pelaku, menjadi korban. Sungguh menggelikan. Tidak bisakah Lian menerima kesalahannya dan mengakuinya dengan jantann, tak perlu mengatakan hal-hal yang seolah perselingkuhan pria itu terjadi karena dirinya. Betapa piciknya pria itu dan mengapa Ayu tak pernah menyadarinya sebelum ini?
“Sekarang, kamu berusaha menyalahkanku atas kesalahan yang kamu perbuat? Kamu ingin mengatakan, bila perselingkuhanmu terjadi karenaku?” Ayu melepaskan genggaman tangan pria itu dan mengepalkan tangannya kuat-kuat, “Kenapa nggak bisa bersikap jantann dan aku kesalahanmu? Kenapa kamu malah balik menyudutkanku? Masalah anak, aku sudah meminta agar kita memeriksakan diri ke doker, tapi kamu selalu mengatakan anak bukanlah hal yang utama. Selama bersama denganku, itu sudah cukup bagimu, tapi apa yang kamu bilang sekarang?” Ayu tahu bila tak seharusnya ia terpancing dengan perktaaan Lian dan bersikap dingin seperti biasa, namun ia tak ingin disalahkan begitu saja. Semua ini terjadi karena pria itu tak bisa menahan nafsunya. Mengapa malah melimpahkan kesalahan pada Ayu?
“Semua orang mengataimu mandul karena sampai sekarang kita belum juga punya anak dan aku nggak bermaksud menyalahkanmu,” Pria itu mengemis iba setelah menyakiti hati Ayu dengan begitu dalamnya, “Aku memang nggak peduli, tapi mendengarkan semua orang mengatakan ini, membuatku kepikiran dan lama-lama menjadi beban untuk hatiku, Yu.”
Ayu tertawa garing. Sejak kapan perkataan orang bisa menjadi beban bagi Lian? Jika memang kehidupan ini harus mendengarkan apa yang orang lain katakan tentang hidup kita, mungkin sejak awal Ayu tak ‘kan menikah dengan Lian. Dirinya bahkan tak mungkin mau menentang semua orang, hingga memberikan posisi Direktur pada suaminya agar pria itu tak lagi dipandang rendah. Namun kini apa yang didapatkannya? Pria itu menyalahkannya dan menuduhnya mandul. Mengapa sekarang dirinya yang terlihat paling kejam di antara mereka, sedangkan pria itu lah yang bersenang-senang dengan perempuan lain di luar sana?
“Kenapa selalu perempuan yang dipermasalahkan bila belum juga memiliki keturunan?” Ayu tersenyum sinis, “Aku sudah memintamu memeriksakan diri agar aku nggak disalahkan hanya karena aku seorang perempuan. Untuk memiliki anak, nggak hanya mengandalkan sel telurku saja, tapi harus bantuan darimu juga dan bila nggak berhasil, seharusnya bukan menyalahkan salah satu pihak saja,” Lanjut Ayu dengan datar. Ia tak ingin lagi melanjutkan pembicaraan yang menguras emosi ini. Ia pun tak tahu berapa lama lagi dirinya akan tahan menghadapi Lian yang terus-terusan bersikap layaknya seorang korban.
“Nggak ada gunanya untuk terus mencari kesalahanku agar bisa mengimbangi kelakuan burukmu,” Ayu menggertakkan giginya. Amarahnya sudah memuncak. Cinta telah mematahkan hatinya, namun pria yang membohonginya dengan cinta seakan tak puas melihatnya menderita, hingga harus memancing amarahnya juga, “Pada intinya, kamu berkhianat dan kamu lah yang merusak rumah tangga kita. Ini adalah kenyataannya,” Lanjut Ayu sarkastis.
Pria itu menggeleng. “Kamu nggak boleh melihat dari satu sisi saja, Yu. Aku nggak akan berpaling andai saja kamu mengerti diriku dan juga kebutuhanku. Aku suamimu dan nggak seharusnya kamu memperlakukanku bak orang suruhanmu. Aku harus seperti ini dan seperti itu. Kamu bahkan memeriksa semua hasil pekerjaanku, seakan-akan kamu menganggapku nggak kompeten. Aku pikir, setelah menjadi istriku, kamu nggak memperlakukanku dengan begitu rendahnya. Seperti aku adalah seorang bodoh yang nggak bisa melakukan apa pun.”
Ayu semakin mengeratkan genggaman tangan di kedua sisi tubuhnya. “Aku melakukan itu karena memang itulah tugas seorang pemegang saham. Nggak ada orang yang mau rugi saat berbisnis. Aku nggak mungkin memintamu menjadi Direktur bila menganggapmu bodoh.”
Ayu menarik napas panjang, menghelanya perlahan, dan menggerak-gerakkan tangannya di udara. “Sungguh. Kita harus menghentikan pembicaraan ini sebelum aku meledak,” Ayu berkata dengan bersungguh-sungguh, “Sekarang lakukan lah pekerjaanmu dengan baik. Bukankah kamu mengantongi ijazah ekonomi dan seharusnya menjadi staff admin itu mudah.”
Ayu kembali memasang benteng pertahanannya dengan sikapnya yang kembali dingin. Tak ‘kan dibiarkannya pria itu menghancurkannya berkeping-keping. Ia akan menyelamatkan sisa-sisa hatinya dan membawanya pergi agar tak lagi yang bisa dipatahkan oleh pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu. Pria yang telah menjadi dunia dan juga hidupnya. Pria yang pada akhirnya hanya bisa melimpahkan semua kesalahan atas gagalnya rumah tangga mereka padanya. Ayu tahu bila dirinya tak sempurna, namun jelas semua ini adalah kesalahan Lian.
“Yu … jangan bercanda, Yu,” Pria itu mengacak rambutnya dengan frustrasi, “Semua ini konyol, Yu!” Pria itu terdengar semakin khawatir, “Apa yang orang-orang katakan? Bagaimana seorang Direktur bisa duduk bersama mereka dan melakukan pekerjaan yang sama? Inilah yang nggak ku suka darimu, Yu. Kamu selalu berusaha merendahkanmu dengan caramu yang begitu kejam. Kamu ingin orang-orang tahu kalau aku adalah budakmu yang selalu menjilati kakimu.”
Ayu tersenyum miring, tak peduli akan kekhawatiran pria itu. Seharusnya Lian tahu jika semua ini yang akan terjadi bila pria itu bermain api di belakangnya. Semua kemewahan dan kenyamanan yang Ayu berikan membuat pria itu lupa bila Ayu adalah pemiliki sebenar dari semua kenyamanan itu dan dirinya bisa dengan mudah mengambil semua yang ia berikan kembali. Sama seperti pria itu yang dengan mudahnya mengembalikan hatinya yang remuk pada Ayu. Sungguh, Ayu hanya meniru apa yang pria itu lakukan padanya. Ia belajar dari Lian.
“Kenapa membingungkan tentang apa yang akan orang katakana? Kenapa malah mempedulikan mereka yang nggak berkaitan apa pun denganmu?” Ayu tersenyum sinis, “Pergilah dan lakukan pekerjaanmu dengan baik. Aku bisa membuatmu sangat menderita.”
Mata pria itu menunjukkan amarah yang tak mau ia sembunyikan. “Sebenarnya apa maumu, Yu? Jika kamu bercerai, katakan saja. Kenapa memperlakukanku seperti ini?” Ayu tersenyum dingin dan tak berniat menjawab pertanyaan Lian, sedang pria itu menatap Ayu nanar.