Perkataan wanita itu membuat Lian membeku di tempatnya. Rasa perih kembali menjalar ke penjuru hati, menempati setiap sisinya, dan menyesakkan dadanya. Dulu, bukankah dirinya menginginkan hal yang sama. Mereka memiliki mimpi yang tak berbeda. Lalu, mengapa Lian melupakan semuanya begitu saja? Apa yang salah dengan hati dan pikirannya? Dulu, dirinya yang mengajarkan tentang cinta yang sederhana itu pada Ayu. Namun kini, dirinyalah yang memperumit segalanya. Entah sejak kapan, semua tujuan dan pandangannya berubah? Apakah karena status sosial di antara mereka, kehidupan yang berbeda, atau karena perubahan besar di hari-harinya yang tak lagi bisa sederhana? Sungguh, Lian tak memahami semua yang terjadi. “Mungkin, sejak awal kita memang sama-sama membutuhkan pelarian dari dunia. Kita menemuka

