Kronologis

1240 Kata
Leon menunduk di lantai, tepat di bawah bar di dalam coffeeshop tempatnya bekerja. Entah Ia sedang mengutuk diri sendiri karena kejadian tadi pagi, atau ia hanya sekedar duduk disana. Leon berdiri melihat sumber suara yang tertangkap runguna. Ia melihat rekan kerjanya dan juga pelanggan yang tadi terlibat perkelahian dengan dirinya. Mereka sepertinya baru saja keluar dari ruangan sang owner. “Leon....” Rekan kerja Leon memanggil Leon yang sedang melihat ke arah pelanggan tadi. Leon menoleh. Ia mendapati rekan kerjanya mengisyaratkan untuk Leon agar segera menemui sang owner coffeeshop tempat mereka bekerja. Tanpa menjawab, Leon beranjak dari tempatnya berdiri. Leon terlebih dahulu menemui sang pelanggan yang terlihat sedikit ketakutan dengan mata sembabnya akibat menangis. “Saya minta maaf,” katanya sambil menunduk, kemudian pergi. Rekan kerja Leon juga menunduk mengisyaratkan dirinya turut meminta maaf atas kekacauan akibat temperamental rekannya itu. Setelahnya mereka berpisah, karena harus segera menyelesaikan pekerjaan menggantikan Leon yang sedang menemui sang owner. Tok... tok... Leon mengetuk pintu ruangan dengan pelan. Ia menunggu suara sang owner untuk mempersilahkan dirinya masuk. “Masuk!” Suara sang owner terdengar cukup tegas dari balik pintu. Tanpa rasa takut, Leon membuka pintu dan melangkah masuk. “Apa yang ada di pikiran kamu? Masih pagi sekali loh ini untuk buat kekacauan!” Sang owner tanpa basa basi langsung menyampaikan amarahnya. Leon hanya diam, berdiri dan menunduk. “Saya gak ngerti background kehidupan kamu, saya gak paham masalah hidup kamu. Bahkan saya gak kepengen tahu juga untuk hal itu. Saya cuma mau kamu bersikap profesional. Dimana profesionalismemu sebagai barista?” Leon masih menunduk. Sesekali melihat ke arah sang owner, sekedar memberi isyarat bahwa sebenarnya ia mendengarkan sang owner. “Kamu bikin malu saya! Bikin malu rekan-rekan baristamu disini! Saya gak ngerti, coba kamu jelaskan kronologisnya bagaimana. Saya penasaran cerita dari kamu tuh gimana. Coba.” Sang owner meminta Leon untuk menjelaskan kronologis kejadian tadi pagi. Ia sudah mendengar cerita dari pelanggan yang dianggap sebagai korban, tapi sepertinya ia hanya ingin mendengar dari pihak lain yang dianggap sebagai pelaku. “S-saya ... minta maaf, Mbak.” Bukan menjelaskan kronologis, melainkan Leon meminta maaf. “Loh. Saya kan minta dijelaskan kronologisnya, supaya saya tahu masalahnya ini sebesar apa, sih? Sampai-sampai kamu nyerang pelanggan seperti itu. Untung saja kamu gak mukul pelanggan. Kamu kira ini tempat apa? Main teriak-teriak, marah-marah begitu.” Leon menunduk. Tangannya mengepal. Ia ingin marah sepertinya. “O-oh. Kamu pasien?” Tiba-tiba saja sang owner menanyakan hal demikian. Leon melihat tepat ke arah mata sang owner. Sang owner itu menunjuk ke arah pergelangan tangan Leon. Leon melihat ke pergelangan tangannya yang terdapat sebuah gelang. Gelang dengan model sederhana itu menandakan bahwa ia merupakan orang yang sedang struggle dengan psikisnya sendiri. Tidak semua psikiater memberikan gelang itu untuk pasiennya. Salah satu psikiater yang menggunakan metode itu ialah psikiater yang menangani Leon. Leon mengangguk pelan. Syukurnya, ia bisa menahan emosinya saat ini. “Okay. Kalau begitu kan saya jadi bisa menentukan hukuman buat kamu lebih cepat.” Leon terkesiap saat mendengar kata hukuman. Ya, benar. Setiap yang bersalah harus dihukum. Ada tindakan maka akan ada resikonya. “Kamu saya beri waktu 3 hari untuk merenungkan kesalahanmu. Sekedar untuk belajar dari kesalahan itu. 3 hari cukup kan untuk kamu merenungkan kesalahan? Dan juga untuk kamu berubah supaya tidak melakukan kesalahan itu lagi?” “3 hari, Mbak?” Leon bertanya. “Ya. 3 hari. Cukup? Seperti biasa, salary dipotong sesuai hari kamu tidak masuk, uang makan juga dipotong. Gimana?” Sang owner menjelaskan konsekuensi yang harus Leon dapat karena kesalahan dirinya sendiri. Leon menelan ludahnya sendiri. 3 hari bukan waktu yang cepat. Salary yang didapat dari 3 hari itu juga tidak sedikit menurut Leon, ditambah uang makan yang dibagikan pada setiap barista jika dikumpulkan selama 3 hari sudah hampir saja seperempat dari salary per bulan. “Setidaknya dalam 3 hari, kamu bisa pergi ketemu sama terapist kamu. Ceritakan semua dan minta bantuan untuk mengatasi itu. Supaya gak terjadi lagi. Ini peringatan pertama, dan kalau kamu melakukan kesalahan seperti itu lagi, saya rasa saya harus fired kamu.” “Mbak ... 3 hari gak kelamaan? Saya janji saya gak akan ulangi lagi. Saya janji, saya bakal berusaha berubah dalam jangka waktu sehari aja, Mbak. Saya mohon....” “No ... tidak, tidak. Tidak mungkin pasien seperti kamu, apa masalah kamu? Bipolar? Anxiety? Atau anger management issue? Gak mungkin saya rasa kamu cukup sehari aja. Enggak.” Leon terdiam, diekspose sedemikian nama-nama gangguan itu membuat Leon merasa kecil. Ia paham dirinya sedang tidak baik-baik saja. Ia merasa dirinya salah dan berbeda. “Sejak kapan? Duduk, silahkan. Kenapa berdiri saja. Sejak kapan kamu didiagnosa? Bipolar? Anxiety? Anger management issue? Atau depression?” “Baik, Mbak. 3 hari juga tidak apa-apa. Saya mohon maaf atas kesalahan saya.” “Okay. Untuk hari ini-....” “Hari ini saya akan selesaikan seperti biasanya, Mbak. Tolong jangan potong lagi salary saya, Mbak.” Sang owner mengangguk. “Baiklah. Silahkan lanjutkan pekerjaan kamu.” Leon melanjutkan pekerjaannya. Hari ini cukup ramai. Ah, ya. Karena masalah tadi pagi, Leon tidak diizinkan bekerja sendirian. Rekan Leon yang jadi saksi kekacauan tadi pagi diminta untuk lembur menemani Leon. Padahal biasanya Leon sudah diberikan kepercayaan penuh mengelola coffeeshop sendirian. Tidak pada hari ini. Leon sedang membersihkan bar tempat dirinya biasa menyiapkan pesanan. “Mas ... sorry ya.” Rekan kerja Leon yang memang lima tahun lebih tua dari dirinya kemudian menoleh dan menanggapi Leon. “Santai ajalah. Yang penting kamu jangan ulangi lagi kayak gitu.” Leon mengangguk. Rekan kerja Leon sedang tidak melakukan apa-apa. Karena memang tidak ada pesanan baru dari pelanggan. “Tapi, Leon. Maaf, nih. Aku penasaran banget, pengen nanya kamu, tapi agak segan.” Leon berdehem singkat menanggapi perkataan rekan kerjanya. “Emangnya kenapa kamu bisa semarah itu? Padahal sebelumnya kamu lagi diem aja, aku tanyain juga diem.” Leon menghentikan kegiatannya. Memori di kepalanya memutar kembali kejadian aneh yang ia alami saat mandi pagi hari tadi. Rekan kerja Leon menggoyang-goyangkan tubuh Leon. Leon terlihat melamun di tempatnya berdiri. “Leon? Leon? Leon!” Leon akhirnya mengakhiri kegiatan melamunnya. Matanya kini tampak hidup, tidak seperti tadi saat ia melamun, tampak begitu kosong. “Hah?” tanya Leon. “Itu loh aku nanya tadi.” “A-ah ... itu. Gak ada.” “Kamu kenal sama yang diberitakan tadi?” Leon menggeleng, kemudian beranjak dari tempatnya berdiri. Ia menuju ke meja salah satu pelanggan yang baru saja meninggalkan coffeeshop. ... Suara langkah kaki seseorang berjalan dengan terburu-buru. Mengabaikan setiap individu yang berselisih dengannya. Tok, tok, tok, tok... kriettt.... Tanpa menunggu izin dari sang penghuni ruangan, dr Paula langsung membuka pintu dan melangkah masuk. Tidak lupa menutup rapat pintu ruangan, seolah mengisyaratkan tidak ada satupun orang yang diizinkan bergabung dalam pembicaraan ini. “Kecelakaan? Sudah resmi? Kenapa, Suf?” Inspektur Jusuf yang sedang duduk dan sibuk bekerja di ruangan itu terkejut. Tiba-tiba saja dirinya ditodong pertanyaan yang bahkan ia juga tidak tahu akan menjawab apa. “Huh ... huh....” dr Paula menaruh tangan kirinya di kursi di depan meja kerja inspektur Jusuf, sedangkan tangan kanannya memegang dadanya sendiri. “Udah keputusan seperti itu. Aku gak bisa berbuat apa-apa lagi.” “Tapi, gak bisa dong dengan mudahnya-....” Inspektur Jusuf menggeleng. “Itu bukan ranah kita lagi.” Dr Paula mendudukkan dirinya di kursi yang tadi menjadi tumpuan dirinya berdiri di depan inspektur Jusuf. “Okay. Berarti ... sekarang kita harus fokus buat kasus pelatih renang dan Helen.” “Harus lebih fokus.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN