Gotcha

1865 Kata
“Suf, aku udah tau bunga jenis apa itu” Dr Paula terdengar begitu bersemangat. Sebenarnya, riset mengenai bunga itu bukanlah pekerjaan resmi yang diamanahkan kepada dr Paula. Karena itu, mereka melakukan hal itu secara diam-diam. Inspektur Jusuf masih belum sepenuhnya yakin, bahwa keberadaan tangkai bunga itu dapat menjadi bukti. Hanya saja, Ia merasa ada yang janggal dengan hal itu. Jalanan yang ramai, kini dibelah oleh pria paruh baya yang masih aktif bekerja. Ia melajukan mobilnya sedikit tergesa-gesa. Ia merasa bahwa petunjuk dari dr Paula ini nantinya akan menjadi sesuatu yang berharga dan dapat membantu penyelidikan. “Itu namanya bunga krisan. Awalnya aku udah ngira kalau itu bunga krisan, karena sebelumnya, aku pernah melihat bunga seperti itu di kamar anakku” “Bunga Krisan?” Dr Paula mengangguk. “Krisantemum Maximum, biasanya ditanam sebagai pagar-pagaran di taman perumahan, tingginya bisa mencapai 1 meter” “Kira-kira kenapa bisa ada di tkp?” “Kemungkinan yang masuk akal menurutku adalah, Sisil yang sedang memegang atau Ia bawa bunga itu ke sekolah, di hari dia sebelum meninggal” “Ngapain Sisil bawa bunga ke sekolah?” “Kamu udah cari tau teman-teman dekatnya? Mungkin aja itu bunga dari temannya atau pacarnya” Inspektur Jusuf terdiam cukup lama. Tidak menanggapi dr Paula dengan apapun. “Sebenarnya, semua teman Sisil sudah diajak ngobrol, dilakukan pendekatan juga, tapi nihil,” katanya murung. “Coba periksa sekali lagi, siapa tau ada yang terlewati” Keduanya masih belum menemukan titik terang, bahkan hari ini kasus ini semakin rumit saja. Inspektur Jusuf beranjak dari ruang kerja dr Paula, tanpa membawa informasi berarti. Hanya jenis bunga yang didapatnya. Jika dipikir-pikir, bunga itu cukup umum tumbuh di sekitar, namun yang menjadi pertanyaan adalah kenapa ada di tempat kejadian perkara? Tergeletak dan ternodai oleh darah tak berdosa milik anak perempuan malang itu. Inspektur Jusuf mendatangi sekolah dan berkeliling, berusaha mencari adakah bunga tersebut ditanam di sekitar sekolah. Sudah hampir tiga kali, Inspektur Jusuf mengelilingi sekolah, ini bahkan yang ke empat kalinya. Namun, nihil. Tidak ditemukan apapun yang tampak sejenis dengan bunga krisan. Frustasi. Dirinya mencoba menjernihkan pikirannya di cafe yang ada di seberang sekolah. “Berikut tujuh makna bunga Chrysanthemum berdasarkan warna” Suara televisi mengalihkan fokus Inspektur Jusuf. Dirinya kini menatap layar televisi yang disediakan di cafe. Inspektur Jusuf menonton dengan penuh keheningan dan fokus. Ia merekam setiap informasi yang didengar dari televisi itu di kepalanya. Ia mencoba mengingat-ingat warna kelopak yang masih bersatu dengan tangkainya. Warna putih, dengan warna kuning di bagian tengahnya. “Bunga krisan putih melambangkan cinta dan kesetiaan. Beberapa juga ditafsirkan bahwa bunga ini melambangkan kepercayaan akan cinta seseorang. Namun, ada beberapa yang menganggap bahwa bunga ini juga lambang dari cinta yang bertepuk sebelah tangan da....” “Mbak, jangan ditukar channelnya. Sebentar saya mau lihat yang tadi.” Inspektur Jusuf meminta seorang waitress yang akan menukar saluran televisi. Ia memerhatikan lagi dengan seksama. Kemudian, berusaha mencari tahu lebih dalam mengenai bunga tersebut. Ia sadar sebenarnya ini akan memakan waktu lama, dan dikhawatirkan jika bunga itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kasus Sisil. Semakin frustasi jika dirinya memikirkan lebih dalam mengenai tindakannya ini. Namun, Ia menolak pikiran-pikiran negatif yang selalu saja mengganggu kegiatan riset yang dilakukannya. Jika tadi makna yang disebutkan mengenai romansa dan hati, maka hal ini pasti berkaitan dengan hubungan Sisil dengan seorang lawan jenis, yang disebut pacarnya. Inspektur Jusuf mencoba menghubungi ibu Sisil, mencoba menanyakan mengenai hubungan asmara Sisil dengan pria remaja seusianya. Satu nama disebutkan oleh ibu Sisil. Ia menyebutkan bahwa anaknya itu pernah menjalin hubungan dengan orang yang disebutkannya tadi, namun ibu Sisil tidka mengetahui jelas mengenai hubungan mereka berdua. Dengan segera, Inspektur Jusuf mencari tahu siapa anak laki-laki yang disebutkan oleh ibu Sisil. Dirinya bahkan meminta bantuan rekan kerjanya, untuk mencari tahu nama itu. Seorang model dan pembawa acara, ternyata mereka merupakan teman dan kedekatan mereka hanya sebatas rekan kerja dan rekan model. Inspektur Jusuf mencoba menanyai lebih dalam mengenai hubungan remaja-remaja itu. Namun, teman lelaki Sisil itu sepertinya risih diberi pertanyaan yang terlalu privasi menurutnya. . Bug! Suara pintu terhentak begitu keras. Hingga membangunkan si pemilik kamar. Papa Leon masuk tanpa izin ke kamar anaknya. Waktu masih siang seperti ini, mengganggu anaknya sedang tertidur. Leon bangkit dari tidurnya, dengan wajah masih khas bangun tidur, dirinya hanya menatap aneh papanya yang menyerang kamarnya begitu tiba-tiba. Papa Leon menghampiri meja belajar Leon, mencoba mencari sesuatu yang entah apa, tidak ada yang tahu. “Mana laptop kamu?!” Leon berjalan berusaha mengeluarkan laptopnya dari dalam lemari bukunya. Memberikannya kepada sang papa, dan langsung diambil dengan begitu kasar oleh papanya. Pemeriksaan laptop secara tiba-tiba pun terjadi di kamar Leon. Saat Leon hendak kembali ke tempat tidurnya, Papa Leon berteriak menanyakan sesuatu. “Dimana tulisanmu itu?! Jangan berani-berani sembunyikan apapun dari saya!” Leon keheranan. Ia jelas heran, tulisan apa yang dimaksud. Apakah tulisan yang selama ini Ia sembunyikan? Kalau benar, tahu darimana papanya mengenai tulisan itu? Mama Leon yang menjadi saksi keganasan suaminya dalam mencari bukti dari apa yang Ia ceritakan, hanya bisa berdiri dengan gelisah di depan pintu kamar Leon. Anaknya itu memberikan tatapan meminta tolong pada dirinya. Namun, tidak ada yang dapat Ia lakukan jika udah seperti ini. Sebenarnya, berat hati mama Leon untuk menceritakan hal itu kepada suaminya. Namun, karena rasa ketakutannya sendiri makanya Ia memberanikan diri untuk menceritakan hal itu. Ia sungguh khawatir pada tingkah anaknya yang belakangan ini menjadi pertanyaan bagi mama dan papanya. “Jawab!” Sang papa semakin meninggikan suaranya terhadap Leon. Leon dan mama tersentak kaget. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah seperti ini. “Saya tau kamu bohong sama saya kan?! Saya kan sudah pernah bilang, jangan sampai kamu berani menulis dengan genre aneh seperti itu! Kenapa susah sekali kamu menuruti saya?! Leon menunduk. Menahan rasa takut dan kesalnya. Papa Leon mendekat kepada Leon. Memegang pipi Leon dengan sangat keras, dan menamparnya sekali. “Sebelum saya yang menemukan buku itu, sebaiknya kamu yang kasih ke saya sekarang!” katanya dengan gigi yang terkatup rapat, tanda seseorang jika geram. “Lihat saya!” Suara papa Leon kembali meninggi. Kesabaran sudah hilang seratus persen dari diri papa Leon. Leon hanya bisa tersentak-sentak karena mendengar bentakan dari papanya. “Pa....” Mama Leon mendekat, mencoba meraih lengan suaminya. Memberinya kesabaran. Namun, semakin saja pria paruh baya itu mengamuk. Suara benturan dari benda-benda yang dilemparkan sembarang oleh papa Leon, menghiasi seisi kamar Leon. Leon hanya bisa berusaha melindungi tubuhnya dari benda-benda yang berterbangan tanpa arah itu. Hingga tiba-tiba... Dug... Suara sesuatu terjatuh. Semuanya terdiam. Memerhatikan apapun yang ada di kamar itu. “Apa ini?!” Papa Leon mengangkat sebuah buku yang terjatuh di bawah meja belajar Leon. Menepuk-nepuk buku itu dengan pelan. Masih menanti jawaban dari sang anak yang hanya bisa terdiam dan berkeringat di tempatnya berdiri. Ia dijajah di kamarnya sendiri. Kini, rahasianya akan terbongkar. Tidak akan ada lagi menulis secara sembunyi-sembunyi, pikirnya. Papa Leon membuka sampul buku itu. Satu persatu Ia perhatikan isi dan apapun yang ada dibuku itu. Pria itu terkejut bukan main. Kini wajahnya sudah berubah warna menjadi merah dan menegang, dengan tatapan tajam seperti iblis yang sedang menakut-nakuti manusia. Semua pasti sudah tahu, apa yang akam terjadi. Ya, Leon akan habis di tangan papanya siang ini. Bahkan, mama Leon yang hendak melerai pun, ikut menjadi korban. Sepanjang waktu dirinya dieksekusi oleh papanya, Leon hanya memikirkan siapa yang memberi tahu hal ini kepada orang tuanya. Seingatnya, hanya dirinya yang mengetahui rencana menulis seperti ini. “Sudah pintar kamu membohongi saya, ya!” Leon sudah terduduk di lantai kamarnya. Lututnya sudah tidak mampu menumpu berat beban tubuhnya. Tangan kirinya pun terkulai lemas di lantai, tersisa kekuatan dari tangan kanannya untuk menumpu torsonya. “Kamu sembunyikan hal menjijikkan ini dari saya, sudah merasa hebat kamu?!” Leon hanya menunduk. Sesekali, air matanya jatuh ke lantai, menyapa tangan kirinya yang terkulai lemas. Dirinya kini bahkan sudah tidak mampu menyeka air mata yang membasahi pipinya. Ia hanya membiarkan itu jatuh membasahi lantai. Papa Leon meninggalkan Leon terduduk lemas di lantai kamarnya. Ia biarkan anaknya dengan luka yang menempati bekas luka yang pernah Ia berikan beberapa waktu lalu. Bukan hanya itu, luka-luka lain juga turut menghiasi tubuh Leon. Leon menangis. Dirinya marah ketika papanya mengatakan akan membakar buku terkutuk ini. Keduanya sama marahnya. Bedanya, Leon menahan seluruh amarahnya, sedangkan papa Leon.... Langit telah memunculkan bulannya, ditemani bintang-bintang. Hari ini merupakan hari yang cukup melelahkan bagi keluarga Hutama. Leon masih tergetelak di lantai kamarnya. Pintu kamarnya dikunci oleh papanya, karena sejak tadi, Leon mengamuk. Menuntut buku yang sudah dengan susah payah Ia menulisnya itu untuk dikembalikan padanya. Ia masih mampu berpikir. Namun, satu-satunya pikiran yang menguasai kepalanya adalah siapa yang memberi tahu orang tuanya. Leon tergeletak lemas di lantai. Dirinya capek menuntut haknya kembali. Berteriak tanpa ada jawaban, meminta tanpa ada tanggapan. Dirinya menangis. Menyesali jalan hidupnya. Muncul di pikirannya untuk menjauh dari papanya. Ia sadar bahwa dirinya tidak menginginkan sosok seorang pahlawan seperti papanya. Tok... tok... Ketukan pelan tertangkap rungu Leon. Ia hanya diam, masih tergeletak di lantai. Bertemankan air mata dan noda-noda darah yang telah mengering di tubuhnya. “Nak ... makan malam dulu ya” Suara kunci tanda pintu kamar Leon kini sudah akan dibuka oleh mamanya. Leon masih tergeletak tanpa memedulikan mamanya. Mama Leon langsung menuju ke tempat dimana anaknya tergeletak tak berdaya menahan sakitnya tubuh. Sejak tadi, mama Leon sudah khawatir akan keadaan anaknya. Namun, terlalu takut, karena terlalu takut akan ancaman-ancaman suaminya yang sudah pasti akan menambah luka bagi dirinya dan anaknya. Tidak ingin mengambil resiko, karena tidak mau anaknya akan semakin dihajar, mama Leon menurut, ikut membiarkan anaknya terkunci di kamar. Leon dibantu mamanya untuk membersihkan diri. Mengobati luka-luka kecil hasil tangan papanya. Sebenarnya, Leon tidak terluka begitu parah. Karena bagaimanapun, papanya masih memiliki rasa takut dan juga pikiran waras agar tidak menodai tangannya dengan melukai anaknya sebegitu besar. Ia hanya memberikan luka-luka kecil, yang katanya akan menjadi pelajaranbagi anaknya. Salah. Hal itu tentu salah. Tidak ada pembenaran apapun dalam menormalisasi kekerasan. Namun, papa Leon merupakan orang yang keras, dirinya dulu juga dididik dengan cara seperti itu, sehingga baginya kekerasan mampu menyelesaikan permasalahan. Entah siapa yang akan mampu memberi tahu papa Leon, bahwa tindakannya ini salah besar. Leon belum memiliki keberanian, begitu juga dengan istrinya. Namun, kata “belum” masih memiliki kesempatan untuk berproses, kan? Suasana makan malam kali ini menjadi semakin senyap dan menegangkan. Papa Leon sepertinya masih memiliki rasa marah dan kecewa terhadap anaknya. Terlebih, ketika dirinya baru saja selesai membaca tulisan-tulisan hasil karya anaknya sendiri. Hanya terdapat suara dentingan-dentingan alat makan yang bersentuhan tanpa sengaja. Semakin menegangkan hingga kemudian mama Leon melihat sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak menyangka. Mama Leon dengan sengaja menoleh ke arah Leon. Mencoba memastikan keadaan anaknya. Namun, yang Ia dapat ialah... Leon yang memegang garpu di tangan kirinya. Tidak ada yang aneh, sama seperti orang makan pada umunya, garpu di tangan kiri, sendok di tangan kanan. Namun, malam ini, Leon mengangkat garpunya ke udara, sejajar dengan kepalanya, namun tajamnya garpu itu Ia hadapkan ke arah papanya. Mama Leon terkejut melihat tingkah anaknya. Ia tidak ingin, anaknya melakukan hal aneh yang tentu akan memberi penyesalan pada dirinya sendiri. Leon memasang wajah menyeringai, tatapannya tajam, sepertinya Ia berusaha menirukan ekspresi papanya tadi siang. Persis seperti iblis yang akan menakut-nakuti manusia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN