Aku mengamati ponselku, menunggu pesan ataupun panggilan dari Aric. Namun, sampai detik ini dia masih belum menghubungiku. Aku menghela napas dalam seraya meletakkan ponselku ke atas kasur. Apa Aric masih di rumah Pinka? Tapi, ini kan sudah jam delapan malam. Masak dia belum pulang? Apa Aric sama sekali tidak merindukanku? Aku hampir lupa berpacaran dengan cowok menyebalkan macam apa. Kurasakan ponselku bergetar. Buru-buru aku bangkit dari posisi tiduran lalu menyambar ponselku. Kutatap layar ponselku dengan hati kecewa. Kupikir Aric lah yang tengah meneleponku. Tahunya Revan. “Ya, Rev?” tanyaku seraya kembali merebahkan diri ke kasur. “Lo lagi di mana?” tanyanya. “Menurut lo?” tanyaku balik tidak begitu tertarik untuk mengobrol dengan Revan. “Lo kira

