Chapter Eleven

2076 Kata
Adam tidak membawa Dimas ke dokter atau ke rumah sakit mana pun, tidak juga bertujuan ke sana sejak awal. Benar atau tidak, kecurigaannya benar-benar mengganggu. Dia akan memastikan sendiri kondisi Dimas dan tindak-tanduk Aiva apakah selicik itu? Dibantu kenalannya, Adam menempuh jalan menuju sebuah masjid cukup besar guna menemui seorang ustadz dan memeriksa Dimas secara rohani. Meski sadar diri Adam bukan orang yang agamis, tetapi dia masih ber-Tuhan. Dia masih memiliki agama yang menjadi tempatnya kembali, tak peduli seberapa jauh dia tersesat. Sekretarisnya merekomendasikan seorang ustadz bernama Ustadz Firdaus yang sering berdakwah di masjid besar di perjalanan pulang menuju Jakarta. Adam juga meminta untuk dibuatkan janji, atau paling tidak basa-basi bahwa dia mau datang. Sampai di masjid tersebut saat hari beranjak malam, semula Adam ragu ustadz itu masih mau menunggunya. Tapi keadaan masjid masih ramai, Adam lupa bahwa sebentar lagi memasuki waktu salat magrib. "Ramai orang-orang yang mau salat," gumamnya dari balik kemudi. Timbul rasa malu dalam dirinya melupakan kapan terakhir kali dia beribadah di masjid. Kapan? Untuk yang lima waktu saja Adam tak yakin sepenuhnya terpenuhi. "Apa aku harus ikut salat dulu, baru menemui ustadz? Atau tunggu di sini sampai mereka selesai?" Tatapannya beralih pada Dimas yang tak kunjung terbangun, tapi menggigil dan terus melenguh. Adam bertekad jika benar terbukti semuanya ulah Aiva, wanita itu akan menerima ganjarannya yang telah mempermainkan putranya. "Halo, Rina? Kirimkan nomer ustadz yang kamu maksud pada saya," katanya dalam sambungan telepon. Tak lama kemudian, satu chat muncul berisikan nomer ponsel Ustadz Firdaus. Baru saja hendak menghubungi nomer itu, seseorang mengetuk pintu kaca mobil Adam. Sepertinya salah satu jamaah dilihat dari pakaiannya. "Gak solat, Pak?" Adam tersenyum kikuk. "A-ah, iya." Lalu pria itu keluar dari mobil dan menguncinya, sengaja kacanya dibuka sedikit agar Dimas tidak pengap. "Gak ada sarung, Pak?" tanya remaja itu karena pakaian Adam terkesan formal dan tidak nyaman. "Tidak. Saya sedang dalam perjalanan."  Remaja itu mengangguk-angguk. "Kayaknya di dalam ada sarung," katanya. "Itu yang satu lagi gak solat, Pak?" Yang dimaksud adalah Dimas karena remaja itu bertanya sambil melongok ke dalam mobil. Adam menggeleng. "Dia sedang sakit, tidak memungkinkan untuk solat." "Oh begitu .... Ya sudah, mari, Pak. Saya carikan sarung buat Bapak." Sementara remaja itu masuk ke dalam masjid, Adam berputar ke belakang untuk mengambil wudhu. Katanya remaja tadi sudah punya wudhu, jadi duluan masuk untuk mencarikan Adam sarung. Meski agak lupa-lupa ingat, pria itu menuntaskan wudhunya sambil melirik seseorang di sampingnya. "Ini, Pak, sarungnya. Di sini gak ada baju koko, sih, jadi mudah-mudahan baju Bapak gak ada ... maaf, najis." Remaja itu menyodorkan sebuah sarung lengkap dengan pecinya. Adam lagi-lagi mengangguk. Umurnya jauh lebih tua dari remaja ini, tapi di rumah suci ini dia justru merasa tidak ada apa-apanya dibanding sang remaja yang nampak paham betul tentang agama. Hati Adam menghangat selama mengikuti salat berjamaah, meski sebagian besar hanya mendengarkan. Ada rasa malu mengetahui bahwa dia terlalu jauh dari nilai-nilai agama, malah terlampau fokus memikirkan hal duniawi. Selesai salat, Adam kembali menghampiri remaja tadi untuk mengembalikan sarung dan peci, serta bertanya soal orang yang dicarinya. "Eum ... Dek, ini," katanya menyerahkan alat ibadah itu, "apa kamu kenal dengan Ustadz Firdaus? Saya ada perlu." Remaja yang sedang menyiapkan sesi tadarusan itu mengangguk. "Tahu, Pak, mari diantar." Adam diarahkan ke bagian depan aula masjid, ke arah imam. Tampak seseorang sedang duduk di samping mimbar untuk ceramah Jumat.  "Yang itu, Pak," tunjuknya pada imam itu. Adam mengangguk dan setelah mengucapkan terima kasih, dia menghampiri sang imam yang katanya Ustadz Firdaus. Ustadz itu rupanya sedang berdzikir dengan tasbih di tangannya yang merotasi satu biji tasbih setiap selesai satu dzikir. Agak ragu Adam mengganggunya, tapi inilah tujuan utamanya. "Per—As-assalamu'alaikum, Ustadz." Sejenak gerakan tangan sang ustadz terhenti, sebelum berbalik menghadap Adam yang memanggilnya. Ustadz itu cenderung masih muda dengan wajahnya yang tampak bersih, mungkin ditambah faktor air wudhu. "Waalaikum salam," jawab sang ustadz. "Saya Adam. Asisten saya yang merekomendasikan Ustadz untuk saya mintai tolong." Ustadz Firdaus terdiam sebentar, sebelum mengangguk-angguk dan berdiri, lantas menjabat tangan Adam. "Ahh, Pak Adam. Iya, tadi saya terima telepon demikian. Jadi, apa yang bisa saya bantu?" "Begini ... anak saya ...." *** Diana merasa kesal. Berhari-hari, ada beberapa pria yang membuntutinya ke mana-mana dan tak menyingkir biarpun tertangkap basah olehnya. Ke semua tempat, setiap Diana menoleh, mereka pasti ada di sana dengan kacamata hitam dan sebuah alat komunikasi menempel di telinganya. Sudah jelas mereka orang-orangnya Dimas, atau paling tidak seseorang yang mengenal Dimas. Diana tidak seterkenal itu untuk dibuntuti ke kehidupan serba terbatasnya. Jadi tersangka utamanya adalah mantan suaminya. Seperti saat ini, Diana sedang bekerja dan berkali-kali melirik ke pria berpakaian hitam yang mengawasinya dari warung kopi di depan toko. Jelas walaupun memakai kacamata hitam, Diana merasakan mereka berdua memperhatikannya lekat-lekat. Tampaknya Aji juga merasa aneh dengan kehadiran dua orang itu yang belakangan selalu duduk di sana. "Itu mereka berdua kurang kerjaan banget, ya, Teh? Ngapain coba duduk mulu di warkop sambil liatin mulu ke sini," celetuk Aji. Kemudian dia menoleh cepat ke arah Diana. "Atau jangan-jangan, mereka orang yang suka sama Teteh?" "Oh! Atau jangan-jangan, mereka mau mata-matain toko ini karena mereka iri. Oh! Atau jangan-jangan—" Diana menyumpal mulut Aji yang terus mengoceh dengan buku kas kecil, sehingga tidak ada jangan-jangan lagi yang terdengar. Aji sontak cemberut dan mengelap bibirnya, begitu pula buku kas dengan bajunya. "Teteh ih gak bisa diajak diskusi." “Udah, kamu balik aja ke belakang. Biarin aja orang-orang itu, nanti kalau mereka macem-macem baru Teteh panggil kamu.” “Beneran?” tanya Aji tak yakin, “Aji takutnya nanti mereka pakein Teteh sapu tangan kayak di film, terus Teteh pingsan ‘kan gak bisa panggil Aji.” Diana menyentil dahi Aji. “Hust! Ngelantur deh, dasar korban film.”  “Ihh, serius, Teh. Aji khawatir, ‘kan Teteh masih tanggung jawab Aji di toko.” “Iya, tapi tanggung jawab utama kamu ‘kan kerja. Kerjaan kamu belum beres itu di belakang, cepet beresin. Besok mau ada suplier harus rapi gudangnya. Aji cemberut. “Yodah, iyaa. Nih, Aji ke belakang.” Remaja itu pergi ke belakang, tapi berkali-kali menoleh dan berhenti di lorong. Kembali melirik pria berjas tadi, Diana sebenarnya penasaran. Untuk apa Dimas—atau salah satu keluarganya—menyuruh orang membuntutinya? Jelas Diana tak ada hutang, tak ada urusan, atau tak ada salah apa pun pada mereka. Apa mungkin ini soal tabrakan waktu itu? Elena juga ... apa maksud teleponnya kemarin? Menghasut Pak Adam untuk memihaknya? Bahkan Diana sendiri lupa kapan terakhir kali berhubungan dengan mantan mertuanya itu. mereka juga ‘kan sedari dulu tidak menyukainya. “Ahh, bisa gila aku,” gumamnya. Untungnya kehadiran pembeli menginterupsinya sehingga dia disibukkan bekerja. * “Ji, ini kuncinya. Nanti tolong kasih ke Kek Dahlan ya, Teteh langsung pulang takut Ica nungguin lama,” pamit Diana memberikan kunci setelah toko grosir itu tutup.  Aji mengangguk, lalu mengunci gembok luar toko. “Iya, Teh. Nanti kapan-kapan Aji pengen main ya sama Ica,” katanya setengah bercanda. “Sip. Ya udah, Teteh duluan ya.” Diana menghela napas, melirik ke seberang di mana kedua pria tadi ikut berdiri selaras dengan ayunan kakinya yang menjauh. Lagi .... Entah apa tugas mereka, tapi dua orang itu hanya membuntutinya tanpa menyentuh atau berkomunikasi sama sekali. “Neng Diana.” Wanita itu berhenti, mendekati seorang pria paruh baya yang memanggilnya. Namanya Seno, pria yang ngotot ingin dipanggil Abang Seno olehnya. Dia salah satu orang yang mendekati Diana. Jika sebelumnya Diana sering menghindar, kali ini justru dia merasa tertolong. “Iya, Pak ... eh, Bang?” Seno tersenyum lebar. “Mau pulang, Neng? Mau Abang antar?” Hem ... Diana tak pernah suka hubungan macam ini. jika dia menerima, itu hanya untuk menghindari kedua pria tadi. Sama saja dia memberi harapan palsu. Tapi ... mau bagaimana lagi. Orang-orang itu juga masih setia memperhatikannya. Diana balas tersenyum. “Boleh, Bang.” Tentu saja Seno kegeeran kalau janda cantik incarannya ini mulai terpikat olehnya. Ketika mereka berjalan berdampingan pun Seno cari-cari kesempatan memegang tangan Diana atau merangkulnya yang langsung ditampik perlahan oleh wanita itu. “Hari Minggu ada rencana gak?” tanya Seno memulai pembicaraan. “Minggu ya?” Kelihatannya Diana menimbang-nimbang, tapi kalau kosong sekali pun dia tak akan mau. Bukannya kepedean, jelas dari gelagatnya Seno ingin mengajaknya keluar. “Maaf, Pa ... Bang, saya masuk kerja.” Tak sengaja Diana melihat ke kaca rumah warga, orang-orang itu sudah tak ada di belakangnya. “Nanti, kalau pulang—” “Bang, saya duluan ya? Kasian Ica udah nungguin,” potong Diana cepat-cepat pergi. Jangan sampai Seno merasa yang tadi membuka peluang ke depannya sehingga mencari kesempatan terus menerus. “Neng! Abang belum minta nomor telepon!” Duh, tepok jidat deh. *** Seharian ini, Aiva tidak bisa tenang sama sekali. Putra atau pun Adam tidak ada yang mengabarinya perihal kondisi Dimas. Berada di dekat Elena juga hanya membuat telinganya pengang sehingga dia memilih pulang ke rumah memakai taksi. Ditambah ada yang ingin ditanyakannya pada Mbah Surya. “Nah! Inah!” serunya begitu sampai rumah. Wanita itu duduk di kursi favoritnya lalu mengambil satu majalah untuk mengipasi wajah dan hatinya yang panas. Inah datang tergesa-gesa dari samping rumah. “Iya, Nya?”  “Kemarin ada yang nyariin gue? Atau ada tamu?” “Engg ... gak ada, Nya,” jawab Inah tidak sepenuhnya berbohong. Adam datang, tapi ‘kan bukan tamu atau pun mencari nonanya.  Aiva mengerang kesal, kakinya menendang kaki meja hingga tergeser. “Sialan,” umpatnya. Dia mendelik pada Inah. “Ya udah, pergi lo sana! Ngapain sih masih diem di sini?” Inah menunduk, antara ikut kesal karena di-sinis-in atau kepo soal pelet itu. Siapa tahu Aiva akan menelepon seseorang itu atau paling enggak memberinya titik terang. “Nyonya gak mau pijit?” Lirikan tajam diberikan Aiva merespons tawaran asistennya itu. “Tumben. Ada rencana apa lo sok baik segala?” “Enggak, Nya, ‘kan siapa tau Nyonya capek biar saya pijitin.” Fifty-fifty lah Inah berharap. Kalau Aiva mau ya dia dapat informasi tambahan, kalau enggak mau ya syukur enggak usah deketan. Bersama Aiva itu hawanya beda, Inah berasa lagi diintrogasi. “Gak usah, gue ada kerjaan penting. Sana lo pergi, awas lo ngadu macem-macem ke Dimas atau Mama-Papa.” Ya, fifty-fifty. Inah syukur saja walau mendengus pelan. Mungkin memang lain kali aja cari informasi lagi. “Ya udah, Nya, saya pamit ke belakang dulu.” Begitu memastikan Inah sudah pergi, baru Aiva mengambil ponselnya dan menghubungi Mbah Surya. Ah, bukan Mbah Surya, lebih tepatnya lewat perantara Ican. “Halo, Can? Hubungi gue ke Mbah Surya.” [Siap.] Setelah menunggu beberapa saat, suara berat khas bapak-bapak terdengar menggantikan suara Ican. [Kenapa lagi suami kamu itu?] “Eh, anu, Mbah, Dimas ....” Mengalirlah cerita Aiva mulai dari perjalanan Dimas hingga perihal sakitnya kemarin sore. Dia juga menambahkan bahwa sebelumnya, Dimas sempat bertemu Diana dan anaknya. [Tidak mungkin. Dia tidak ingat apa pun tentang rumah tangganya lagi selain kegagalan.] “Tapi, Mbah, kalau pun enggak berpengaruh, kenapa Dimas jadi sakit begini? Kemarin dia sehat dan baik-baik saja.” Mbah Surya terdiam sebentar. [Ini efek dari berjauhan denganmu. Tenang saja, kalian akan aman.] “Efek gimana, Mbah? Kemarin Dimas teriak-teriak kayak kesurupan emangnya wajar?” [Itu biasa terjadi kalau pengikat berjauhan dengan yang diikat. Asal jampi wewangiannya masih tercium dia masih berada di bawah pengaruh jeratan.] “Aku gak peduli sama jeratannya, Mbah, aku khawatir Dimas kenapa-napa. Kalau dia sampe mati gimana? Semua kemewahan, balas dendam aku, pelanggan setia Mbah ini bakal lenyap.” [Kamu mendikte Mbah?] Aiva gigit bibir, sadar ucapan dan nada suaranya dapat menimbulkan masalah. “Eng-enggak, Mbah, a-aku Cuma—” [Hati-hati, musuhmu sudah mulai bergerak.] “Musuh? H-halo, Mbah?” Mbah Surya keburu mematikan sambungan sebelum Aiva bertanya maksud kalimat terakhirnya. “Musuh?” gumam Aiva. Apa mungkin Diana? Tapi apa yang bisa dilakukan ibu satu anak dengan keadaan finansial kekurangan itu? Tidak mungkin. Aiva yakin Diana adalah tipe orang yang membalas dendam dengan menunjukkan pada lawannya bahwa dia baik-baik saja. Terbukti selama tiga tahun ini Aiva hidup damai memanfaatkan Dimas. Lalu jika bukan dia, siapa lagi musuh yang dia punya? Walau pun dulu dia adalah murid dan mahasiswi yang tak jarang dibenci, tapi Aiva tidak merasa melakukan kesalahan fatal sehingga seseorang harus membencinya. Satu-satunya kesalahan terbesar adalah merebut Dimas dengan cara curang. “Ahh, ada.” Dia menoleh ke belakang. “Jadi lo punya niat jatuhin gue, gitu?” *** Gak tahu lagi deh, spesies kayak Aiva itu memang susah ya dibuat insaf. Aku aja heran gimana bikin dia insaf.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN