Diana mulai menikmati pekerjaannya ini dengan hati senang. Pekerjaan ini tak buruk sama sekali, bahkan sangat menyenangkan. Ternyata di belakang ada dapur, jadi kadang kalau jam istirahatnya telat Diana akan masak di sana dan membawanya pulang sebagian untuk Disha.
Putrinya sudah terbiasa ditinggal selama Diana bekerja. Karena sekolah baru akan dimulai beberapa minggu lagi, Disha dititipkan pada seorang tetangga Diana yang menawarkan diri untuk menjaga Disha.
Di sela-sela kerjanya melayani pembeli, ponselnya berdering terus-menerus meski sudah ditolaknya beberapa kali. Di panggilan ke empat, Diana yang jengkel menjawabnya ketus.
“Halo?”
[“Diana! Apa yang kamu lakukan pada suami saya, hah?”]
Dia menghela napas panjang, berpikir bahwa si penelepon adalah salah satu ibu-ibu yang berasumsi Diana menggoda suaminya. Bukan kali pertama, terlalu sering malah dia mendapat telepon penuh kecaman begitu. “Maaf, Bu, saya gak ngerti maksud Ibu.”
[“Berani ya kamu menghasut suami saya agar berpihak sama kamu. Biar apa, hah? Biar kamu bisa kembali sama Dimas?!”]
“A-apa? Dimas?” Matanya membelalak. Dimas? Tidak mungkin itu Inah di saat yang punya nomernya dari lingkungan mantan suaminya hanya IRT itu. “Ini dengan siapa?”
[“Kamu pikir saya siapa?! Saya mamanya Dimas, mertua Aiva.”]
“Oh, maaf, Ma. Aku gak ngerti maksud Mama.”
[“Hah? Mama?”] Elena berdecih jijik. [“Gak sudi saya dengar kamu panggil begitu. Ingat, kamu hanya mantan istri Dimas. Jangan coba-coba menggoda dia agar kembali lagi sama kamu, ngerti?!”] Wanita itu langsung memutuskan sambungan telepon setelah mengecamnya.
Ada banyak pertanyaan mengelilingi Diana selepas panggilan tadi. Apa yang terjadi sampai Elena menghubunginya? Apa maksudnya dengan Adam memihaknya? Kenapa mereka mengganggunya lagi di saat hidupnya mulai tenang jauh dari permainan para orang kaya itu.
Di sela lamunannya, Aji datang menghampiri karena Diana hanya diam saja. Dia mendengar rekan kerjanya menerima telepon bernada tinggi tadi, oleh karena itu merasa perlu memeriksa Diana kalau-kalau kayak biasanya. “Itu siapa, Teh? Kayak toa mesjid, kedengeran sampe belakang.”
“Bisa aja kamu.” Diana terkekeh kecil, tapi terdengar hambar. “Biasalah, ibu-ibu salah paham.”
Aji mangut-mangut. “Padahal, Teh, balas lebih kasar aja. Masa Teteh diem terus dimarah-marahin kayak gitu? Teteh ‘kan gak salah, bapak-bapaknya aja yang genit. Dasar gak sadar umur, gak sadar diri.”
Diana meliriknya tertarik. “Gitu ya?” Benar juga yang dikatakan Aji. Tak hanya pada Elena, pada semua ibu-ibu yang menerornya dia tidak bersalah sedikit pun. Lain kali Diana harus membela diri, kalau perlu balas sewot supaya tidak dicap yang tidak-tidak.
Senyum terbit di wajah cantiknya, lantas tertawa kecil. “Ya udah, nanti dicoba ya.”
“Bunda!”
“Eh, Ica? Ada apa, Nak?” tanya Diana terkejut saat bocah yang ternyata benar-benar Disha itu menghampirinya ke sini. Jarak dari rumah ke toko memang tidak begitu jauh, tapi tetap saja membahayakan ke sini sendirian untuk anak sekecilnya.
Disha tersenyum lebar ketika Diana menggendongnya. “Mau main aja, Bun. Boleh ‘kan?”
“Ica mau main di sini? Tapi ‘kan gak ada anak kecil, sayang, bunda juga gak bisa main sama Ica. Ini ‘kan tempat kerja.”
“Ya udah Ica duduk aja, Bun. Gak ganggu, kok, beneran.”
Diana celingukan, mencari tempat di mana Disha bisa menunggunya paling tidak sampai istirahat. Tatapannya terjatuh pada dudukan yang terbuat dari semen di luar toko, lalu pergi ke sana dan mendudukkan Disha. “Ya udah, Ica duduk di sini. Inget ya, jangan ganggu bunda lagi kerja.”
“Siap, bos!” hormat Disha.
Setelah memastikan Disha tak akan ke mana-mana, Diana kembali ke belakang kasir. Aji yang masih ada di sana sedari tadi memperhatikan interaksi ibu-anak itu bertanya, “Itu siapa, Teh?”
“Dia Ica, anakku.”
Raut wajah remaja itu tampak terkejut sampai menutup mulutnya yang menganga. “Jadi Teteh udah ada buntut?”
“Buntut?” Sontak Diana menoleh ke belakang, tak paham maksud Aji. “Aku gak punya buntut lah.”
“Maksudnya anak.”
“Oh, iya. Dia anakku, umurnya 6 tahun.”
“Udah sekolah, Teh?”
“Baru mau masuk tahun ini.”
“Boleh Aji ajak main?”
Gerak tangan Diana yang sedang memeriksa pembukuan toko terhenti, lalu mendongak. Dia melirik ke balik rak-rak tinggi itu. “Gak ganggu kamu?”
“Enggak, Teh, kerjaan Aji di belakang udah beres.”
Diana mengangguk acuh. “Oh, ya sudah, terserah kamu aja.”
Aji benar-benar mengajak Disha main, bukan sekadar kata-kata. Dia mengajak Disha bicara entah apa itu sampai mereka tertawa, memainkan permainan jari, sampai Aji jatuh bangun membuat Disha tertawa. Diana yang melihat itu pun ikut tersenyum. Andai Dimas seperti itu ....
Aish! Dia jadi teringat Elena tadi. Ada yang harus dia luruskan sekarang juga atau orang-orang itu akan terus mengganggunya. Diambilnya ponsel lalu men-dial nomor di daftar kontaknya. Inah.
[“Halo, Nya?”] sapa Inah dari ujung sana.
“Udah saya bilang jangan panggil—” Diana memejamkan mata menahan emosi. “Lupakan. Kamu kasih nomor saya ke mama Dimas?”
[“A-anu, non Aiva ngamcem bakal mecat saya kalau gak ngasih nomor, Nya.”]
Diana langsung mematikannya tanpa mau mendengar penjelasan Inah lebih lanjut. Mengetahuinya saja sudah cukup membuatnya paham situasi. Kesal setengah mati dengan orang-orang itu, Diana membuka bagian belakang ponselnya, mengambil kartu SIM lalu membuangnya asal. Dia tidak mau berurusan apa pun lagi walau pun itu dengan Inah.
***
Adam sampai di lokasi syuting Dimas setelah nyaris dua belas jam berkendara dan menginap di hotel karena masih jauh untuk sampai. Dia sampai ketika hari sudah beranjak siang dan penginapan yang disewa untuk kru film terbilang sepi. Mungkin yang lainnya melanjutkan proyek meski Dimas tidak mampu menyutradarainya.
Dua lingkup penginapan itu nyaris semua pintunya tertutup. Hanya satu yang terbuka, di bagian depan.
Adam masuk ke dalam dan mengetuk pintu sehingga seseorang yang duduk di balik komputer itu mendongak, lalu berdiri dan menyambutnya. “Oh, ada perlu apa, Pak?” tanya wanita itu yang dia tebak seseorang dari pihak penginapan.
“Saya mendengar anak saya sedang sakit. Namanya Radimas. Kalau boleh tahu, yang mana kamarnya?”
Wanita itu mengangguk. “Ahh, Pak Dimas? Ya, saya dengar beliau sakit. Kemarin juga sudah dibawa ke dokter setempat, mereka bilang Pak Dimas hanya kelelahan setelah perjalanan jauh,” terangnya terdengar fasih berbahasa Indonesia, tidak seperti kebanyakan orang Jawa yang agak memiliki cara berbicara khas.
“Kelelahan? Dia teriak-teriak kesakitan, apa mungkin itu hanya kelelahan?” tanya Adam agak kesal. Anaknya sudah separah itu—dan dia masih berprasangka buruk tentang Aiva—bisa-bisanya orang hanya bilang Dimas kelelahan?
Wanita itu terhenyak, lalu menunduk karena merasa pria di depannya ini menyalahkannya atau marah padanya. “M-maaf, Pak, ka-kata dokter begitu,” cicitnya, “mari ... saya antar.”
Saking groginya, tangan mbak itu gemetaran ketika mencari kunci kamar Dimas dan mengambilnya. Bukannya tidak pernah melayani pelanggan yang marah-marah, tapi nada Adam itu terdengar berat dan menyeramkan, apalagi ketika tadi nadanya marah dan membentak.
Kamar Dimas bernomor 12 yang berada di urutan ke tiga dari samping. Adam mendengus ketika tidak mendapati seorang pun menjaga putranya padahal dia sedang sakit.
“I-ini kuncinya, Pak. Tadi ... ada yang menitipkan ke saya.” Diserahkannya kunci kamar pada Adam yang ditanggapi pria itu dengan kernyitan dan decakan.
Jadi Dimas dikunci dalam keadaan sakit dan tidak ada yang menjaganya? Benar-benar ....
“Ya sudah. Terima kasih,” ujar Adam. Wanita itu langsung pergi kembali ke posnya.
Di ranjang yang berkapasitas satu orang itu, Dimas berbaring dengan dua selimut menutupinya. Adam bisa menangkap bagaimana putranya tetap merasa kedinginan meski dua selimut sudah menghangatkannya karena jari-jari tangan yang mencengkeram ujung itu selimut tampak gemetaran.
Tiba-tiba Adam merasa sentimental saat duduk di ujung ranjang Dimas dan menyaksikan betapa Dimas tersiksa. Sekelebat rasa curiganya terhadap Aiva membuatnya memandang Dimas sebagai lelaki yang menyedihkan dan simpatik, ditambah harus menyaksikan keadaannya yang begini sulit, biarpun Adam seorang pria tetap saja dia merasa iba.
“Dimas,” panggilnya mengguncang bahu Dimas. “Ini Papa. Bangun dulu, Nak, kita berobat.”
Entah kenapa rasanya Adam ingin menangis, mengingat dulu saat masa kecil Dimas tidak banyak berinteraksi dengannya. Adam terlalu memfokuskan Dimas untuk masa depan hingga lupa untuk meluangkan waktu menyenangkan. Momen ketika sakit begini ... selalu menyentil hati Adam sebagai seorang papa. Sudahkah dia berhasil selama ini?
Kelopak mata Dimas sedikit terbuka, lalu bergumam dengan nada yang terdengar bergetar, “Pa-pa.”
“Bangun dulu, kita berobat.”
“Di-Dimas enggak ... apa-apa,” balasnya pelan. “Aiva mana, Pa?”
Rahang Adam mengetat. “Kenapa kamu tanya wanita itu?”
“Dia ‘kan ... istri Dimas.”
Adam membuang muka, muak dengan prasangkanya. Sepertinya omongan sekretarisnya tempo hari benar-benar membuat Adam berpikir kalau Aiva mengguna-guna Dimas walau tidak mendapatkan bukti apa pun. Segala yang berhubungan dengan wanita itu, Adam langsung menghubungkannya dengan ilmu hitam, tak pduli bagaimana prasangkanya bisa menjadi fitnah tanpa adanya bukti.
“Ayo, bangun. Dokter jauh dari sini. Kita harus berangkat sekarang kalau tidak mau mengantre.”
Meski sendirian, Adam memapah Dimas yang begitu lemah sampai menumpukan bebannya pada sang Papa. Kaki Dimas kesulitan menapaki tanah dengan benar akibat kondisi tubuhnya yang dipaksa beraktivitas sementara sang pemilik tubuh salah mnilai staminanya sendiri.
Adam langsung tancap gas tanpa membawa barang Dimas atau mengembalikan kunci kamarnya. Ya, Adam bencana mmbawa Dimas pulang setelah atau tanpa mngobatinya. Tekad Adam sudah bulat untuk memastikan keadaan anaknya. Apa benar Dimas diguna-guna oleh Aiva sehingga tahan dengan segala sifat wanita itu yang sangat mengganggu? Jika ya, Adam tidak punya alasan apa pun lagi untuk menahan keinginannya menendang wanita itu.
***
Berada di rumah mertuanya tanpa sang kepala keluarga menjadi kesenangan tersendiri bagi Aiva. Pasalnya karena Adam tak ada, rumah itu terasa seperti surga dunia. Tak ada suami rewel, tak ada mertua bawel. Yang ada hanya mertua yang sepemikiran dengannya dalam semua hal. Bahkan Aiva benar-benar merasa Elena adalah ibu kandungnya.
Mereka menyempatkan diri untuk shopping dan memanjakan diri selama suami masing-masing tidak ada. Membeli tas, perhiasan, barang-barang branded menjadi hal lumrah, bahkan hanya untuk sekadar gabut. Belasan tas karton dibawakan oleh orang-orang mereka.
Aiva membuka kacamata hitamnya, lantas menoleh ke sana-sini untuk memastikan tidak ada Elena atau orang-orangnya. Tadi di sela-sela kegiatan memilah aksesoris, ponselnya berbunyi. Begitu dilihat, itu orangnya yang memantau Dimas selama di Probolinggo. Sudah sejak kemarin dia menerima laporan bahwa Dimas sakit, tapi dia tidak merasa ini ada efek dari-'nya'. Well, gimmick-nya meyakinkan semua orang bahwa dia panik, nyatanya dia hanya benar-benar panik jika Dimas mengingat Diana.
"Halo? Ada kabar apa?"
["Dimas gak ada di penginapan."]
Mata Aiva membulat, terkejut. "Hah? Maksudnya? Kok bisa? Bukannya dia lagi sakit?"
["Menurut resepsionis, orang yang ngaku sebagai papanya dateng dan bawa Dimas pergi pas kru lagi take adegan. Pak Adam, dia ke sini dan bawa Dimas balik."]
Rahang Aiva mengetat, begitu pula pegangannya pada ponsel. Sorot matanya menajam dikuasai amarah. Mertuanya itu ... apa maksudnya ini? Jadi semalam dia tidak pulang karena sungguh-sungguh menyusul Dimas dan membawanya pergi?
Wajar saja jika orang tua peduli terutama ketika anaknya sakit, tapi ini Adam ... pria otoriter dan jarang memperhatikan Dimas selama itu tidak berhubungan dengan bisnis. Ada puluhan orang kru di penginapan dan sejumlah orang dari pihak akomodasi, jauh-jauh menjemput Dimas hanya karena alasan sakit terdengar janggal di telinga Aiva.
Mertuanya seolah sedang mengibarkan bendera perang pasca perseteruan kemarin.
Gawat. Kayaknya Papa mulai mentang gue, batinnya menggerutu. Entah kenapa, Aiva merasa Adam mulai curiga padanya. Sial, jika sampai semuanya terbongkar, raib sudah semua kemewahannya yang tidak bisa didapatkan sebelumnya ini.
Aiva menghembuskan napas perlahan. "Oke, thanks. Kabarin gue kalau ada info lagi." Dia menendang tong sampah di dekatnya sebagai pelampiasan. "Dasar sialan. Gue gak akan biarin Dimas balik lagi, gak bakal," gumamnya penuh tekad.