Tangan Dimas menggapai-gapai nakas dengan mata yang masih tertutup. Dering ponsel nyaring pagi ini sangat mengganggu tidurnya. Dengan terpaksa dia melepas pelukan Diana, lalu mengambil ponselnya dan menjawab telepon itu. “Ada apa?” Dia menoleh ke belakang, istrinya masih tertidur lelap dalam gulungan selimut. Akhirnya Dimas memutuskan untuk meneruskan panggilan itu di dekat jendela, agak jauh. “Apa?! Bagaimana bisa?!” pekiknya tanpa bisa ditahan. Informasi yang dia terima sangat mengejutkan, lebih tepatnya mencemaskan. [Ada yang jamin dan tebus dia, Bos. Kami telat tahu, dia sudah keluar seminggu yang lalu.] “Sialan!” Dimas mengacak-acak rambutnya, melirik Diana lagi untuk memastikan wanita itu tidak terganggu. “Lacak ada di mana dia sekarang? Gue mau dia ketemu dan gak

