Semuanya terasa begitu tiba-tiba bagi Dimas. Tahu-tahu cerai dari Diana, hidup sendirian, dan dia yang mulai terbiasa dengan kesederhanaan merasa canggung kembali ke situasi serba ada. Tinggal di apartemen terasa terlalu mewah kalau bukan suruhan Adam. Biasanya ketika membuka pintu, ada Diana yang menyambutnya. Membawakan tas atau sekadar bertanya mandi pakai air hangat atau tidak. Ditemani makan, sesekali terganggu dengan rengekan si kecil Disha. “Hahh ... baru kemarin kita bahagia ya?” gumamnya menatap sendu ruangan apartemen. Sesak kembali menyergap dadanya. Air mata mencuat, tapi ingin ditahan meski lebih menyesakkan. Sadar diri Dimas lelaki, menangis bukanlah hal yang dia pentingkan. Menghilangkan kesedihannya, Dimas memaksakan tersenyum dan bersenandung. “Hm hm hm... hm hm....”

